Skip navigation


Marilah kita simak pengalaman romantis Mamduh Hasan, seorang putra bangsawan Mesir kaya-raya, yang jatuh hati kepada seorang gadis dari kalangan rakyat jelata. Mirip dongeng Cinderalla? Tidak. Bedanya jauh! Untuk jelasnya, mari kita simak kisahnya, sebagaimana yang termaktub di buku Habiburrahman El Shirazy, Di Atas Sajadah Cinta (hlm. 40-53):

Di [tempat] kuliah [fakultas kedokteran], saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan akhlaknya. Dari keteduhan wajahnya, saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menakjubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.

Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan.

Akhirnya, kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka datanglah saatnya untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.

Saya buka keinginan untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.

Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan langsung membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan, beliau mengultimatum: pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya! Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup, rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.

Apakah Anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu adalah tukang cukur…tukang cukur, ya sekali lagi…tukang cukur!

Saya katakan [pekerjaannya itu] dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik pada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan “Pasha”. Lewat tangannya, ia lahirkan tiga orang dokter, seorang insinyur, dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.

Ibu, saudara, dan semua keluarga berpihak pada ayah. Saya berdiri sendiri, tak ada yang membela. … Dan dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.

Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran, saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya.

Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliau pun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Bahkan, juga bersumpah tidak akan merestui hal itu selamanya, demi kehormatan keluarganya. Dia tidak rela keluarganya menjadi bahan ejekan dan hinaan kalangan “Pasha”.

Namun putrinya bersikeras ingin menikah dengan saya dan tidak akan menikah kecuali dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras. Beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.

Kami berdua bingung. Jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial, sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan. Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang airmata, beratap, dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?

Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari, saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma‘dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai tiga orang sahabat karib saya. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma’dzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syar’i mengikuti madzhab Imam Hanafi.

Ketika ma’dzun menuntun saya, “Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunnatullah wa rasulihi dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai madzhab Imam Abu Hanifah,” seketika itu bercucuranlah airmata saya, airmata dia, dan airmata ketiga sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah ini.

Kami keluar dari kantor itu resmi sebagai suami-istri yang sah di mata Allah Swt. dan manusia. Kami punya legalitas sebagai suami-istri yang diakui negara dan diakui syariat. Kami telah bertekad siap menghadapi kemungkinan hidup ini murni dengan kekuatan kami, tanpa sandaran dan dukungan siapa pun, kecuali pertolongan Allah Swt. Saya bisikkan dalam telinga istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir.

Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir. Akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium [kabar] pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita.

Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak hanya empat pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma’dzun. Begitu pula dengan istri saya. Ia pun diusir oleh keluarga saya. Lebih tragis, ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak dua pound, tak lebih. Total kami hanya pegang uang enam pound atau dua dolar. Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan enam pound.

Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil. Rasa cemas, takut, sedih, dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang, rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami….

Malam semakin larut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa.

Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar itu pun datang jua.

Dengan sisa uang enam pound itu, kami bisa meminjam telpon di sebuah toko dua puluh empat jam. Saya berhasil menghubungi seorang teman yang bisa memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami dengan mobilnya mencarikan lokandat (losmen) ala kadarnya yang murah.

Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segeralah kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah. Kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang, dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah Swt.

Kami hidup dalam lokandat itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah.

Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan, rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami. Namun, bagi kami, ini adalah hadiah dari langit.

Apa pun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh, ia bagai mendapatkan hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi, sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk tiga bulan.

Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah ke sana. Lalu kami membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi, dan satu kompor gas sederhana sekali, dan dua cangkir dari tanah, itu saja tak lebih….

Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya. Istri saya jadi rajin membaca Al-Quran, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam, ia menjelma menjadi putri raja yang cantik menggairahkan. Di akhir malam, ia menjelma menjadi Rabiah Adawiyah yang larut dalam samudera munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang, dia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan…

Tetangga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kami pun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai, ada yang bilang tanpa disengaja, “Ah, kami kita para dokter itu pasti kaya semua. Ternyata ada juga ya yang melarat sengsara seperti Mamduh dan istrinya.”

Akrabnya persaudaraan kami dengan para tentangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawari istri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka. Karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dapur. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan-pertolongan itu. Kehangatan tetangga itu seolah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami….

Beberapa bulan setelah itu, datanglah saatnya masa wajib militer. Selama satu tahun penuh, saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang sangat saya takutkan. Tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima, kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai.

Nyaris selama satu tahun, saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan istri tersinta. Tetapi Allah tidak melupakan kami. Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba-Nya yang beriman. Istri saya hidup selamat, bahkan dia mendapat kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi, selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu pada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya.

Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia dan lepas dari belenggu derita…. Yah, saya pun memimpikan yang demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu pada istri tercinta.

Namun, dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersikeras untuk masuk program magister bersama. Gila! Ide gila! Pikir saya saat itu.

Bagaimana tidak. Ini adalah saat yang paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tak berperasaan. Tetapi istri saya malah berpikir untuk meraih magister.

Saya bujuk dia untuk mengurungkan niatnya. Tapi dia tetap bersikukuh untuk meraih magister, dan menjawab dengan logika yang tak kuasa saya tolak:

“Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan dan mendapat tawaran dari fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya. Kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita. Kenapa tidak sekalian kita teguk sumsum penderitaan ini, kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita.”

Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad membaja istri saya, hati saya pun luruh. Saya penuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.

Jadilah kami berdua masuk program magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll.

Nyaris kami hidup laksana kaum sufi. Makan hanya dengan roti isy dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam-malam kami lalui bersama dengan perut lapar. Teman setia kami adalah air kran.

Ya, air kran. Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama pada suatu malam sampai didera rasa lapar tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi, kami malah muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk beli pengganjal perut.

Siang hari, jangan tanya, kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.

Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikit pun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menangis, sedih, atau pun marah karena suatu sebab.

Kalau pun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasinya, tetapi dia lebih merasa kasihan pada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah dengan selera high class tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.

Dan sebaliknya, saya pun merasa kasihan melihat keadaan dia. Dia yang asalnya hidup nyaman dan makmur dengan keluarganya harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya.

Timbal balik perasaan ini ternyata menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, penghormatan, dan cinta yang mendalam padanya.

Setiap kali saya mengangkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Saya tatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya itu. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku, dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas.

Jika sudah demikian, penderitaan ini terlupakan semua. Rasanya, kamilah orang yang paling berbahagia di dunia. “Allah menyertai orang-orang yang sabar, Sayang,” bisiknya mesra sambil tersenyum. Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.

Allah Maha Penyayang. Usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar magister dengan waktu yang tercepat di Mesir. Hanya dua tahun saja.

Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih magister pun, kami masih mengecap hidup susah, tidur di atas kasur tipis, dan tak ada istilah makan enak dalam hidup kami. Sampai akhirnya, rahmat Allah datang jua.

Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya, setelah lima tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah. Kami rasakan kembali tidur di atas kasur empuk. Kami kenal kembali makanan lezat setelah kami tinggal sekian tahun.

Dua tahun setelah itu, kami pun dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis, Cairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istri saya memang “edan”. Ia kembali mengelurkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan [studi ke] program doktor spesialis di London, juga dengan logika yang susah saya tolak:

“Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil [program] doktor di London. Setelah bertahun-tahun kita hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyiapkan dana tambahan.”

Saya cium kening istri saya. Bismillah kita ke London. Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar doktor dari London. Saya spesialis syaraf, dan istri saya spesialis jantung.

Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan, saya diangkat sebagai dokter ahli sekaligus direktur rumah sakitnya, dan istri saya sebagai wakilnya. Kami juga mengajar di Universitas.

Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemani saya dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan-kebajikan.

Lima tahun setelah itu, kami kembali ke Cairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Kami kembali laksana seorang raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia.

Kini kami hidup bahagia, penuh cinta, dan kedamaian setelah lebih dari sembilan tahun hidup menderita, melarat, dan sengsara. Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami pada Allah Swt. dan bertambahlah rasa cinta kami. Ini cerita nyata yang ingin saya sampaikan sebagai nasihat hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: