Skip navigation

Category Archives: ulumul qur'an


TAFSIR BIL-RO’YI

A. Pendahuluan

Ketika kaum muslimin memasuki era kebudayaan dan peradaban , ilmu agama dan Science berkembang mencapai puncak kejayaannya, alat-alat percetakan telah ditemukan dan produksi kertas telah dilakukan, yang mana hal itu memungkinkian dilakukan penerbitan karya-karya ilmiah dan memperbanyak kitab-kitab tafsir yang wujud dan metodenya berbeda-beda, banyak timbul golongan-golongan dalam islam, ada diantara ulam yang fanatik terhadap madzhab yang diikuti dan berusaha menafsirkan Al-Qur’an sesuai madzhabnya serta melegitimasi madzhabnya dengan ayat-ayat Al-Qur’an, dan lahir-lahir kitab tafsir yang mempunyai karakteristik tertentu sesuai dengan bidang ilmu pengarangnya, maka lahirnya bermacam-macam corak tafsir.

Ada diantara kitab-kitab itu yang mengkaji dan menafsirkan al-Qur’an dari aspek cara yang ditempuh oleh al-Qur’an dalam menjelaskan sesuatu (Al-wujuh Al-bayaniyah), segi-segi hukum syara’, aliran-aliran dalam ilmu kalam dan filsafat. Kemu’jizatan al-Qur’an, dan kitab-kitab tafsir lain yang mengkaji Al-qur’an dari aspek yang berbeda-beda sesuai dengan kecenderungan dan kepribadian pengarangnya. Jika seorang mufassir menemukan ayat yang memperkuat atau mempunyai hubungan dengan madhabnya, maka ia merasa sangat berkepentingan dengan ayat itu dan dalam menafsirkannya ia mengemukakan aspek aspek ilmiah, dalil-dalil rasionalnya, menolak serta membatalkan madzhab-madzhab lain, sehingga tanpak jelas apa yang ia maksudkan.

Makna Tafsir bil-Ro’yi

Tafsir bil-Ro’yi disebut juga dengan istilah tafsir bil ma’tsur, tafsir bil ijtihad, tafsir bil istinbat yang secara sepintas mengisyaratkan tafsir ini lebih berorentasi kepada penalaran yang bersifat aqli dengan pendekatan kebahasaan yang menjadi dasar penjelasannya. Adapun di maksud ro’yu adalah ijtihad.jadi tafsir bil-ro’yi adalah menafsirkan al-Qur’an dengan ijtihad setelah mufasir memahami pola-pola ahasa arab, kata-kata arab dan maknanya serta menguasai ilmu-ilmu al-Qur’an, Asbabun Nuzul, nasikh dan mansuh, muhkam dan mutasyabih dll. Mufassir yang hanya mengandalkan ro’yu semata yang tidak disertai dengan bukti-bukti akan membawa penyimpangan terhadap kitabulloh, dan orang yang menafsirkan dengan cara demikian adalah ahli bid’ah, penganut madhab bathil. Mereka mempergunakan Qur’an untuk dita’wilkan menurut pendapat pribadi yang tidak mempnyai dasar pijakan berupa pendapat atau penafsiran ulama salaf, sahabat dan tabi’in.

Sebagian ulama lain menyatakan bahwa penafsiran bil-ro’yi hukumnya boleh sepanjang mufassir tersebur memenuhi syarat-syarat yang telah di buat oleh para ulama, akan tetapi sebagian ulama yang lain bahwa Tafsir bil-ro’yi hukumnya haram, karena banyak para Tafsir bil-ro’yi menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan pendapat pribadinya atau memaksakannya sesuai dengan madzhabnya

Mengenai Tafsir bil-ro’yi sekalipun memenuhi syarat-syarat yang diperlukan untuk dapat dinilai baik dan terpuji, tidak dapat dibenarkan jika ia bertentangan dengan tafsir bil-ma’tsur yang kita ketahui dengan pasti berdasarkan pada nash-nash hadis shohih. Sebab ro’yu adalah ijtihad, sedang ijtihad tidak boleh disejajarkan dengan nash-nash hadis. Lain halnya kalau tafsir bil-ro’yi tidak bertentangan dengan tafsir bil-ma’stur maka keduanya saling mendukung dan saling memperkuat.

Mengapa Di Perlukan Tafsir bil-Ro’yi

Terlepas dari kelemahan tafsir bil ro’yi dan tidak terbelenggu dengan sikap pro-kontra ulama dalam menghukumi tafsir bil ro’yi, yang pasti aliran ini memiliki potensi akademik untuk tetap terus dikembangkan dengan seiring tuntutan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi

Dengan tetap menjunjung tinggi supremasi tafsir bil ro’yi tafsir ini mutlak diperlukan . dan pengembangan demikian sangat dimungkinkan terutama dengan mengandalkan kekuatan bahasa al-Qur’an, yang bukan saja bersifat universal dan komprehensif serta padat isinya, melainkan juga benar-benar bersifat luas dan luwes (elastis).

Keluasan dan keluwesan ayat-ayat al-Qur’an antara lain terletak pada pilihan kosa katanya yang selalu up to date. Dan ini merupakan basis utama bagi kemungkinan pengembangan tafsir bil ro’yi terutama dihubungkan dengan penafsiran ayat-ayat kealaman.

Macam-Macam Tafsir Bir Ro’yi dan cotohnya

Para ahli ilmu tafsir membedakannya dengan 2 macam:

Al-Tafsir Al-Mahmud (tafsir yang terpuji) yaitu tafsir yang seorang pelakunya mengenali aturan bahasa arab,uslub-uslubnya dan menguasai hukum syari’at.

Tafsir bil-Ro’yi dapat diterima apabila apabila mufassirnya memenuhi kualifikasi ilmiah di bawah ini:

  • Mengetahui ungkapan-ungkapan Arab
  • Mengetahui lafad-lafad arab dan cara penunjukannya atas makna-makna yang dikehendaki
  • Mengetahui sebab-sebab turunnya ayat
  • Mengetahui ayat nasikh dan mansukh
  • Ber-aqidah Ahlus Sunnah Wal-jama’ah
  • Menafsirkan dengan tujuan yang benar

Selain itu ia harus berpegang kepada apa yang diriwayatkan oleh Rosulullah dan para sahabat serta menguasai ilmu-ilmu yang dibutuhkan sebagai mufassir, yaitu ilimu bahasa arab, Nahwu, Shorof, ma’ani, bayan,qira’ah, ushuludin, ushululu fiqhi, dan ulumul hadis seta ilmu Almawhibah, yakni ilmu yang alloh karuniakn kepada siapa saja dari hamb-hambanya yang alim yang mengamalkan apa yang diketahuinya.

Selain harus memenuhi kualifiukasi ilmiah seperti tersebut diatas, mufassir bil-Ro’yi harus menghindari 6 hal, sebagai berikut:

  • Memaksakan diri mengetahui makna yang dikehendaki oleh Alloh pada suatu ayat, sedangkan ia tidak memenuhi syarat untuk itu.
  • Mencoba menafsirkan ayat-ayat yang maknanya hanya diketahui oleh Alloh
  • Menafsirkan dengan disertai hawa nafsu dan sikap istikhsan ( menilai ahwa sesuatu itu baik semata-mata berdsarkan persepsinya).
  • Menafsirkan ayat-ayat dengan makna-makna yang tidak dikandungnya
  • Menafsirkan ayat-ayat untuk mendukung suatu madzhab yang salah dengan cara menjadikan faham madzhab sebagai dasar, sedangkan penafsiran mengikuti faham madzhab tersebut
  • Menafsirkan dengan disertaimemestikan, ahwa makna yang dikehendaki oleh Alloh adalah demikian , dengan tanpa didukung oleh Dalil.

Selama mufassir bil-ro’yi memenuhi syarat-syarat dan menjauhi keenam hal tersebut dengan disertai niat yang ikhlas semata-mata karena Alloh, maka penafsirannya dapat diterima dan pendapatnya dikatakan rasional.

Contoh-contoh tafsir Mahmudah:

Surat Al-Zalzalah ayat 7 dan

Artinya :

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

Artinya:

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Kata-kata“dengan benda-benda terkecil” misalnya atom, newton dan energy yang oleh ulama-ulama klasik ditafsirkan dengan biji sawi, biji gandum, semut gatal dll.

Surat Al-Alaq Ayat 4

Artinya:

Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam

Kata“Al-Qolam”oleh ulama salaf bahkan kebanyakan ulama kholaf pun diartikan sebagai pena, penafsiran tersebut tentu saja tidak salah karena alat tulis yang paling tua usianya adalah pena. Akan tetapi untuk menafsirkan kata-kata “Qolamun”dengan alat-alat tulis lain seperti pensil, pulpen, spidol, mesin tek, mesin stensil, dan computer pada zaman sekarang, agaknya juga tidak isa disalahkan mengingat arti asal dari kata “Qolamun”seperti dapat dilihat dalam berbagai kamus adalah alat yang digunakan untuk menulis.jadi lebih tepat memang jika kita menafsirkan kata-kata “Qolamun”dengan alat-alat tulis yang menggambarkan kemajuan dan keluasan Al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan dan tekhnologi dari pada sekedar mengartikan dengan pena yang mbisa jadi hanya menyimbulkan kesederhanaan dunia tulis menulis disaat Al-Qur’an mengalami proses penurunannya.

Al-Tafsir Al-Madzmumah (tercela) yaitu tafsir yang terbetik dari kecenderungan hawa nafsu, dibangun atas dasar kebodohan dan kesesatan mufasirnya.

Adapun ciri-cirinya adalah:

  • Mufasirnya tidak mempunyai keilmuan yang memadai
  • Tidak di dasarkan kepada kaidah-kaidah keilmuan
  • Menafsu\irkan Al-Qur’an semata-mata mengandalkan kecenderungan hawa nafsu
  • Mengabaikan aturan-aturan bahasa arab dan aturan syari’ah yang menyebabkan penafsirannya menjadi rusak, sesat dan menyesatkan
  • Cara yang Madzmumah ini apabila dipakai akan mengakibatkan penyimpangan dari jalan Alloh dan mengakibatkan ketergelinciran ke dalam kesesatan. Cara semacam ini bukanlah sebagai tafsir akan tetapi merupakan sebagai pemaksaan terhadap ayat Al-Qur’an.

Contoh-contoh Al-Tafsir Al-Madzmumah

Penafsiran sebagian mufasir terhadap surat Al-Baqarah Ayat 74:

Artinya:

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, Karena takut kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.

Mereka menduga ada batu yang bisa berfikir, berbicara dan jatuh karena takut kepada Alloh.

Penafsiran sebagian mufasir terhadap Al-Quran Surat An-Nahl Ayat 68

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”,

Bahwa ada diantara lebah-lebah itu ada yang diangkat sebagai NabiNabi yang diberi wahyu oleh Alloh, dan mereka mengemukakan cerita-cerita bohong tentang kenabian lebah. Sementara yang lain berpendapat bahwa ada tetesan lilin jatuh ke pohon, kemudian tetesan itu dipindahkan oleh lebah yang dengannya ia membuat sarang-sarang dan dengannya ia membuat sarang-sarang dan dengannya pula is membuat madu. Mereka mengingkari, bahwa madu itu keluar dari perut lebah sedangkan pada ayat berikutnya menyatakan.

Artinya:

Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang Telah dimudahkan sminuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.

Bagaimana ia mengingkari sesuatu yang dengan jelas dinyatakan oleh ayat Al-Quran dan diperkuat lagi oleh segi bahasa.

Keunggulan dan Kekurangan Tafsir Bir Ro’yi

Keunggulan tafsir bil-ro’yi

Mufassir dapat menafsirkan seluruh komponen ayat Al-Qur’an secara dinamis sesuai denga perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi

Kekurangan tafsir bil-ro’yi

Terjadinya penafsiran yang dipaksakan

Subyektif

Hal-hal tertentu sulit membedakan antra pendekatan ilmiah yang sesungguhnya dengan kecenderungan subyektifitas mufasirnya

F. Mengenal Kitab-Kitab Tafsir Bir Ro’yi dan Orang –Orangnya.

Tafsir Al-Jalalain yaitu tafsir yang disusun oleh Jalaludin Muhammad Al-Mahally dan disempurnakan oleh Jalaludin Abdur Rohman As-suyuti

Tafsir ini merupakan tafsir yang mempunyai nilai tinggi, mudah kita memahaminya, walaupun sangat pendek uraiannya, bahwa tafsir inilah yang banyak berkembang dalam masyarakat dan para ulama sekarang ini. Bahkan tafsir kadang-kadang dicetak bersama-sama dengan Al-Qur’an. Satu hal yang sangat menarik dari tafsir ini adalah kebanyakan ulama besar memilih tafsir ini untuk menjadi obyek pelajaran tafsir, bahkan Muhammad Abduh menjadikan tafsir ini sebagai bahan pokok bagi tafsirnya.

Tafsir Anwarut Tanzil wa Asrorut Ta’wil, yang terkenal dengan tafsir Al-Baydhowi yang disusun oleh Nasiruddin ibn sa’id Al-Baydhowi.

Tafsir ini mempunyai nilai yang sangat tinggi dan baik kupasannya yang mengumpulkan antara tafsir dan ta’wil, berdasar kepada undang-undang Bahas Arab serta menetapkan dalil-dalil yang sesuai dengan Ahlus Sunnah. Akan tetapi beliau menutupi setiap surat dengan menerangkan hadist yang menerangkan keutamaan srat itu yang terkadang-kadang hadits itu Dho’if. Dan hasyiyahnya yang terbaik ialah Asy-Shihab Al-Khafajy

Tafsir Mafatihul Ghoib yang terkenal dengan tafsir Ar-Rozi yang disusun oleh Muhammad ibn Diya’uddin yang terkenal dengan Khotibur Roy

Tafsir ini banyak menerangkan tentang akidah Ahlus Sunnah, ahkan tafsir menyikapinya dengan berlebihan dalam membela pendirian Ahlus Sunnah. Beliau menempuh jalan filsafat, karenanya beliaumengemukakan dalil mengenai masalah ketuhanan menurut system yang ditempuh oleh ahli-ahli falsafah, walaupun beliuanu menyesuaikan alasan-alasannya dengan pendirian Ahlus Snnah Wal Jama’ah

Tafsir Irsyadul Aqlis Salim ila Mazayal Qur’anil Karim, yang ditulis oleh Abus Su’ud Muhammad ibn Muhammad ibn Musthofa Ath-Tahawi

Tafsir ini merupakan tafsir yang memepunyai seni indah, susunan yang sangat menarik. Tafsir ini banyak memuat balaghoh Al-Qur’an dan tentang kemu’jizatan Al-qur’an dari segi bahasa, disamping mempertahankan pendirian Ahlus Sunnah. Abus Su’ud menjauhkan diri dari pada memanjang-manjangkan keterangan yang tidak berfaedah.

Tafsir Ruhul Ma’ani yang disusun oleh Shihabuddin Al-Lusi

Tafsir ini sangat mudah untuk difahami karena tafsir ini lebih menonjolkan ibaratnya. Dia mentahqiqkan sesuatu yang perlu kepada tahqiq, isisnya tidak terlalu panjang, tafsir ini juga memperhatikan Qiro’at, masalah wakaf, di setiap marhalah dari marhalah-marhalah tafsir, serta memperhatikan pula takwil Isyari di akhir tiap-tiap marhalah. Dan biasanya tafsir ini dicetak bersama-sama dengan tafsir ibn Jarir

Tafsir Ghoroibul Qur’an wa Roghoibul Furqon yang disusun oleh Nidhomuddin Al-Hasan Muhammad An-Naisabury

Tafsir ini termasuk golongan Isyary yaitu mentafsirkan Al-Qur’an bukan dengan dhohirnya untuk mengutarakan sesuatu yang tersembunyi dan hanya dapat dilihat oleh ahli tasawuf.

Tafsir Assirojul Munir fil I’anati ala Ma’rifati Kalami Robinal Khobir yang disusun oleh Muhammad Asy-Syarbini Al-Kahatib

Tafsir ini merupakan sebuah tafsir yang baik yang bernilai dan berkembang dalam masyarakat, mudah dan dalam pembicaraannya.

Menurut pendapatnya dalam mentakwilkan Al-qur’an dalam mengumpulkan segala macam I’rob, dan Qira’at, serta mengandung masalah-masalh yang penting dari ilmu Badie dan Qiro’at dan menguatkan pendapat-pendapat Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah,

Tafsir Lubanut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil wa Khaqoiqut Ta’wil yang disusun oleh Abul Bakarat Abdulloh ibn Mahmud An-Nasafy

Suatu tafsir yang yang mempunyai nilai yang sangat tinggi, tafsir ini menitik beratkan pemahasannya kepada tiga perkara:

Menguatkan dalil-dalil yang dikemukakan dan memberikan alasan-alasan yang sempurna

Memperkatakan persesuaian antara surat dengan surat dan antara ayat dengan ayat

Menerangkan kisah dan riwayat

Tafsir Al-khozin yang disusun oleh Alauddin Ali ibn Muhammad ibn Ibrahim Al-Baghdadi yang terkenal dengan nama Al-Khozin.

Tafsir ini merupakan tafsir yang mentafsirkan Al-Qur’an dengan riwayat.akan tetapi pengarangnya tidak menyebut sanad dari riwayat tersebut. Dia sangat gemar menerangkan berbagai macam riwayat dan kisah. Diantara keistimewaannya ialah menerangkan suatu kisah dengan menyebut pula hal-hal yang bathil dari pada kisah-kisah itu, agar orang tidak terperdaya dengan kisah-kisah tersebut.

KESIMPULAN

Tafsir bil Ro’yi adalah menafsirkan Al-Qur’an dengan ijtihad setelah mufasir memahami pola-pola ahasa arab, kata-kata arab dan maknanya serta menguasai ilmu-ilmu Al-Qur’an, Asbabun Nuzul, nasikh dan mansuh, muhkam dan mutasyabih.

Tafsir bil Ro’yi mutlak dilakukan dan memiliki potensi akademik untuk tetap terus dikembangkan dengan seiring tuntutan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Tafsir bil Ro’yi ada dua macam yang pertama Tafsir bil Ro’yi yang Mahmudah yang kedua Tafsir bil Ro’yi yang madzmumah.

DAFTAR PUSTAKA

Suma, Muhammad Amin. Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an 2, Pustaka Firdaus. Jakarta. 2001.

Hasan Yunus Abidu. Tafsir Al-Qur’an Sejarah dan Metode Para Mufassir. Gaya media Pratama. Jakarta.2007.

Izzan Ahmad. Metodologi Ilmu Tafsir .Tafakur. Bandung. 2007.

Hasan Ali Al-‘Aridl, Sejarah dan Metodologi Tafsir. Rajawali Pers. Jakarta.1992.

Hasbi Muhammad. Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Bulan Bintang. Jakarta. 1993.

Rifai Muhammad.Mengapa Tafsir Al-Qur’an di Butuhkan. Wicaksana. Semarang. Hal: 19.

Muhammad Amin Suma, Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an 2, ( pustaka firdaus; Jakarta) 2001, hal:71

Abidu Hasan Yunus, Tafsir Al-Qur’an Sejarah dan Metode Para Mufassir (Gaya media Pratama:jakarta)2007, hal:83

Ibid, Hal 96

Ahmad Izzan, Metodologi Ilmu Tafsir (Tafakur; Bandung) 2007, Hal: 72

Hasan Ali Al-‘Aridl, Sejarah dan Metodologi Tafsir (Rajawali pers; Jakarta) 1992, Hal:49

Ibid, Hal: 50

Muhammad Amin Suma, studi ilmu-ilmu Al-Qur’an 2, ( pustaka firdaus; Jakarta) 2001, hal:

Ibid, Hal 72

Abidu Hasan Yunus, Tafsir Al-Qur’an Sejarah dan Metode Para Mufassir (Gaya media Pratama:jakarta)2007, hal:72

Muhammad Rifai, Mengapa Tafsir Al-Qur’an di Butuhkan, ( Wicaksana; Semarang), Hal: 19

Hasan Ali Al-‘Aridl, Sejarah dan Metodologi Tafsir (Rajawali pers; Jakarta) 1992, Hal: 50

Ibid, Hal: 52

Muhammad Hasbi, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, (Bulan Bintang; Jakarta), 1993, Hal:242


MENYIBAK PROBELMATIKA TAFSIR BI AL MA’STUR

Agama sebagai pranata sosial yang mengatur kehidupan manusia agar hidup teratur dan tidak amburadul di dalamnya terdapat kitab sebagai undang-undang. Sebut saja Injil, Weda, Taurat, Zabur, dan juga al-Qur’an. Bahkan dalam Al-qur’an, kitab orang muslim serta pedoman dan sumber rujukan utama justifikasi hukum Islam, banyak sekali ditemukan ayat yang mensinyalir bahwa ia adalah kumpulan peraturan yang mengatur segala urusan manusia. Ini semua menegaskan bahwa memang kitab adalah unsur sangat penting dalam sebuah agama. Kitab adalah pegangan asasi bagi pemeluk sebuah agama, agama apapun itu.

Al-qur’an, rujukan pertama sebelum hadist, adalah respon Allah terhadap problematika kemanusiaan. Ia turun sebagai bentuk kepedulian Allah tehadap makhluk-Nya. Ia adalah bukti ke-Agungan dan ke-Murahan. Mengarahkan manusia kepada kebaikan. Menunjukan jalan yang benar. Menyelamatkan manusia dari kesesatan dan mengajak manusia kepada kebajikan serta mendorong manusia untuk progressif menuju terciptanya tatanan masyarakat yang ideal.

Namun demikian, al-Qur’an tidak serta merta memberikan gambarang penyelesaian sebuah masalah ketika masalah itu timbul secara jelas dan absolute Ini semua disebabkan karena ia adalah kalam ilahi, bukan kalam manusia, yang mana didalamnya terdapat disparitas yang mencolok antara pemahaman manusia dan kalam ilahi terhadap kata dan makna. Sedari itu perlu adanya seorang mufassir yang bertugas mengupas tuntas disparitas antara kata dan makna yang terkandung di dalamnya.

Urgensi penafsiran dan mufassir ini tidak lepas dari kandungan al-qur’an yang tidak semuanya bersifat eksplisit, namun implisit. Hal-hal yang bersifat implisit inilah yang perlu kirannya untuk di kaji dan dibedah makna yang tersimpan didalamnya. Selain itu karena bagian-bagian al-qur’an ada yang bersifat kompleks dan memerlukan penjabaran, semu yang memerlukan penjelasan, dan seterusnya.

Yang demikian itu diperlukan sebagai penguat posisi al-qur’an sebagai penjelas segala sesuatu. Maka dari itu, ketika al-Qur’an dirasa tidak bisa memberikan pemahaman secara gamblang diperlukan seorang mufassir yang bertugas mengupas tuntas permasalahan dan problematika makna dalam al-Qur’an. Dan, Muhammad adalah orangnya. Ditegaskan dalam buku Manual Qathan, sebagian ulama menyebutkan bahwa penamaan kitab suci umat Islam dengan al-Qur’an karena kandungan isi al-Qur’an itu mencakup semua kitab-kitab lain bahkan semua ilmu. Ini menandaskan bahwa memang al-Qur’an penjelas segala sesuatu dan pegangan asasi tidak hanya bagi umat Islam, melainkan bagi seluruh alam.http://wahyupena.blogspot.com/ – _ftn1 Sesuai denga firman Allah, “Dan Kami telah menurunkan, al-Qur’an, kepadamu sebagai penjelasan segala sesuatu.” (QS. Al-Nahl: 89)

MUHAMMAD INTREPETER TUNGGAL

Muhammad, rasul dan nabi umat Islam, adalah mufassir tunggal al-Qur’an pada masanya. Semua problematika dan akumulasi permasalahan teks diserahkan dan dikemblaikan pada beliau. Dia pemegang absholute of frame referrence. Rujukan, jujukan dan referensi setiap sahabat dan semua umat Islam. Semua datang padanya ketika ada pemuaian ketidakjelasan teks, makna yang terkandung mengalami keburaman.

Eksegisi pada masa nabi adalah eksegisi pertama dalam sejarah perkembangan tafsir. Awal mula penafsiran ini muncul sebagai sebuah upaya menjembatani kesenjangan antara teks dan makna. Dan nabi berperan sebagai pemain utama dan berdiri di garda depan pada proses aktualisasi eksegisi teks-teks al-Qur’an. Ia penyibak makna terselebung dari untain dan petikan kalimat, lafadz, serta huruf-huruf al-Qur’an. Ia pengejawentah realita kejumudan komunitas manusia. Ia adalah jembatan penghubung serta pelibas sekat pembatas permainan teks. Dijelaskan dalam al-Qur’an, “Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada kaumnya.” (QS. Ibrahim: 04)

Dr. Abd. Ghafar Abd. Rahim menjelaskan, Muhammad diberi kesitimewaan berupa kemampuan hafalan dan penjelasan tentang isi kandungan al-Qur’an. Ia menandaskan bahwa pemahan ini berangkat dari ayat al-qur’an.http://wahyupena.blogspot.com/ – _ftn2 Dalam bukunya, ia memaparkan secara gamblang bahwa kemampuan menejelaskan itu tidak hanya secara global, juga secara terperinci.http://wahyupena.blogspot.com/ – _ftn3

Salah satu sample bahwa Muhammad adalah rujukan primer dalam interpretasi al-Qur’an ialah saat ada problematika ma’na dhalim. Kemudian, ketika para sahabat kebingungan terhadap makna dhalim serta bertanya kepada rasul siapa diantara mereka yang tidak dhalim, rasulpun menjawab bahwa dzhalim disitu adalah syirik.

Contoh diatas adalah bukti ilmiah bahwa ada bagian-bagian al-Qur’an yang memang tidak bisa dijelaskan kecuali oleh Muhammad. Seperti halnya masalah perintah-perintah, larangan-larangan, hukum-hukum yang diwajibkan oleh Allah secara terperinci.http://wahyupena.blogspot.com/ – _ftn4 Dan, penafsiran-penafsiran nabi terhadap problematika al-Qur’an ini adalah awal mula munculnya tafsir. Penafsiran pada masa ini disebtu tafsir al-nabawi.

TERMINOLOGI TAFSIR BIL MA’STUR

Dr. Ibrahim mengungakapkan, definisi tafsir bil ma’stur adalah penafsiran dengan cara mencari makna lafadz atau kalimat dalam al-Qur’an melalui “penukilan” yang termaktub dalam al-Qur’an, hadits, ungkapan para sahabat ataupu tabiin.

Dari definisi diatas kemudian dia merumuskan metode dan jenis tafsir bil ma’stur. Metode dan jenis yang dia paparkan tidak jauh dari pengertian yang dia jabarkan diatas. Pertama, menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an. Kedua al-Qur’an dengan hadist. Ketiga al-Qur’an dengan astar sahabat. Dan, keempat al-Qur’an dengan astar para tabiin.http://wahyupena.blogspot.com/ – _ftn5

Sedangkan Dr. Shofwat, mendefinisikan tafsir bil bil ma’stur sebagai sebuah penafsiran ayat-ayat suci al-Qura’n dengan cara “menukil” baik nukilan itu mutawatir ataupun tidak. Adapun metode yang diungkapkan oleh dia sama dengan apa yang dipaparkan dan diungkapkan oleh Dr. Ibrahim.http://wahyupena.blogspot.com/ – _ftn6

Sementara itu, tafsir bil ma’stur dalam definisi Dr. Husain Dzahabi adalah keterangan yang datang dari al-Qur’an itu sendiri dan apa-apa yang “dinukil” dari nabi, sahabat, serta tabiin baik berupa penjelasan atau keterangan terhadap maksud ayat-ayat Allah yang termaktub dalam al-Qur’an.http://wahyupena.blogspot.com/ – _ftn7

Dia, Husain dzahabi, menjelaskan siklus tafsir bil ma’stur menjadi dua, yang pertama bil riwayah dan yang kedua siklus kodifikasi. Pada siklus riwayah, proses terjadinya tafsir bil ma’sur ialah, nabi menerangkan isi kandungan al-Qur’an kepada para sahabat tentang makna-makna yang rumit dan buram. Pada siklus ini ada juga para sahabat yang tidak menerima riwayat langsung dari nabi, melainkan dari sesama sahabat yang lain. Sejalan dengan perkembangan waktu ditemukanlah para sahabat yang berbicara tentang tafsir Qur’an dengan apa yang telah diterangkan oleh nabi, bahkan ada juga yang berbicara tafsir Qur’an bersandar dan berdasar pada akal masing-masing. Ini semua tidak lepas dari kemampuan nalar akal para sahabat yang disinyalir merasa mumpuni dalam rangka mengejawentahkan makna al-Qur’an. Bukan hanya para sahabat yang mulai berani menafsirkan al-Qur’an, tabiin pada masa dimana nabi sudah tiada dan para masa sahabat berakhir juga mulai melakukan pengembangan tafsir. Maka kemudian mereka meriwayatkan penafsiran dari nabi dan para sahabat serta membubuhinya dengan pendapat mereka sendiri melalui ijtihad masing-masing. Demikianlah seterusnya, tafsir mengalami obesitas dengan munculnya berbagai ungkapan-ungkapan para tabiit tabiin yang semakin membuat eksigisi al-Qur’an semakin gemuk dari generasi ke generasi dan dari masa ke masa.

Pada masa berikutnya dimulailah babak baru dalam diskursus interpretasi al-qur’an, sikluss kodifikasi, siklus dimana penafsiran al-Qur’an tidak hanya dari mulut ke mulut. Pada masa ini, penafsiran al-Qur’an mulai dibukukan, akan tetapi pembukuan pada masa ini belum terkodifikasi secara rapi dan teratur, dan belum ada seorang pun yang membukukan penafsirannya. Mereka hanya menulis bahwa apa yang mereka pahami merupakan bagian tersendiri dari hadist.

Nah, setelah itu tafsir memisahkan diri dari hadist dan dibubukukan secara spesifik. Seperti halnya apa yang terdapat dalam kodifikasi Ali Bin Abi Thalhah, triloginya Muhammad Bin Tsur dan ensiklopedianya Ibnu Jarir al-Thabari dengan varian yang berbeda-beda antara yang satu dan yang lainya.http://wahyupena.blogspot.com/ – _ftn8

Dalam tafsir bil ma’stur, para ulama sepakat bahwa landasan utama dan sumber asasi sebagai acuan dalam proses eksegisi adalah al-Qur’an, hadits, atsar sahabat dan tabiin.

PROBLEMATIKA TAFSIR BIL MA’STUR

a. Terminologi

Terminologi ilmiah dalam dunia keilmuan harus merupakan peristilahan yang jami’ dan mani’ agar tidak ada anasir-anasir yang membuat terminologi tersebut tergerus oleh kerancauan dan menghasilkan nilai yang sempurna, tidak ngambang seperti halnya terminologi tafsir bil ma’stur. Dalam hal ini ada dua hal yang menyebabkan terminologi tafsir bil ma’stur itu salah.

Pertama, karena penamaan tafsir itu sendiri dengan tafsir bil ma’stur, memasukkan kata “dinukil” yang mempunyai arti dari orang sebelumnya dan pembagian jenis tafsir bil ma’stur menjadi empat. Hal inilah yang menjadikan terminologi tafsir bil ma’stur ini menjadi tidak dalam serta kelihatan rancau. Kesalahan ini karena arti ma’stur itu sendiri adalah apa-apa yang diwarisi dari orang sebelumnya; nabi, sahabat dan para tabiit tabiin. Jika demikian adanya, bagaimana dengan jenis tafsir bil ma’stur yang masuk dalam klasifikasi al-qur’an dengan al-qur’an? Bukankah penafsiran tersebut bukan dan tidak berasal dari orang sebelumnya, melainkan datang dari makna al-qur’an itu sendiri? Bukankah penafsiran dalam al-qur’an tidak ada “penukilan”?

Kedua, karena tidak ada kejelasan atas apa yang “dinukil”. Padahal, dalam dunia penafsiran sangat jelas dan gamblang bahwa tafsir bil ma’stur adalah penafsiran yang tidak mengedepankan rasio sama sekali. Ini menandaskan, bahwa jika ada sebuah interpretasi terhadap sebuah teks-teks al-qur’an dimana pada proses interpretasinya ada penggunaan ana


PENGERTIAN TAFSIR, TA`WIL DAN TERJEMAH

Diposkan oleh KUMPULAN MAKALAH

Tafsir secara bahasa mengikuti wazan ”taf`íl”, berasal dari asal kata al-Fashr (f, s, r) yang berarti menjelaskan, menyingkap dan menampakkan atau menerangkan makna yang abstrak. Kata kerjanya mengikuti wazan ”daraba – yadribu” dan ”nasara-yansuru”. Dikatakan ”fasara (asy-syai`a) yafsiru” dan ”yafsuru, fasran”, dan ”fassarahu”, artinya ”abanahu” (menjelaskannya). Kata at-tafsir dan al-fasr mempunyai arti menjelaskan dan menyingkap yang tertutup. Dalam lisanul `Arab dinyatakan: kata kata ”al-fasr” berarti menyingkap sesuatu yang tertutup, sedang kata ”at-tafsir” berarti menyingkapkan maksud sesuatu lafadz yang musykil, pelik. Dalam al-Qur`an dinyatakan:

(Tidaklah mereka datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan paling baik tafsir-nya) (al-Furqan [25]:33).

Maksudnya: setiap kali mereka datang kepada nabi Muhammad s.a.w membawa suatu hal yang aneh berupa usul dan kecaman, Allah menolaknya dengan suatu yang benar dan nyata. Dalam al-Qur`an dinyatakan:

”Suatu ilmu yg di dalamnya dibahas tentang cara-cara menyebut lafal Al Qur-an, petunjuk-petunjuknya, hukum-hukumnya, baik secara ifrat, maupun secara tarkib dan makna-maknanya yg ditampung oleh tarkib dan yg selain itu, seperti mengetahui nasakh, sebab nuzul, dan sesuatu yg menjelaskan pengertian seperti kisah dan matsal (perumpamaan).”

Dalam pengertian istilah ahli tafsir, ada beberapa macam maknanya:

Golongan mutaqoddimin memaknakan ta`wil dengan tafsir,

Mujahid berkata : ”Bahwasanya para ulama mengetahui ta`wil Al Qur-an, yakni tafsirnya. Ibnu Jarir pun mempergunakan kata ta`wil dalam arti tafsir.

Sebagian lagi berpendapat lain bahwa tafsir berbeda dari ta`wil dalam segi umum dan khusus saja. Tafsir lebih umum daripada ta`wil. Dimaksud dengan ta`wil ialah menerangkan kehendak lafal atau petunjuk lafal kepada yg tidak segera ditanggapi.

Tafsir ialah menetapkan dgn penuh keyakinan, bahwasanya demikianlah kehendak Allah, sedangkan ta`wil mentarjihkan salah satu makna yg mungkin diterima oleh lafal, tanpa meyakini bahwa itulah yg dimaksudkan

. Demikian pendapat Al Maturidy.

Tafsir ialah menetapkan dgn penuh keyakinan, bahwasanya demikianlah kehendak Allah, sedangkan ta`wil mentarjihkan salah satu makna yg mungkin diterima oleh lafal, tanpa meyakini bahwa itulah yg dimaksudkan.

Demikian pendapat Al Maturidy.

Ada yg mengatakan tafsir ialah menerangkan arti lafadz dengan jalan riwayat, sedangkan ta`wil menerangkan arti lafadz dengan jalan dirayat.

Atau tafsir ialah menerangkan makna-makan yang diperolehdengan jalan isyarat.

Atau tafsir ialah menerangkan makna-makan yang diperolehdengan jalan isyarat.

Makna inilah yang terkenal dalam kalangan mutaakhkhirin, seperti yang diterangkan oleh al-Alusyi dalam Tafsir Ruhul Ma`ani.

Atau tafsir ialah menerangkan makna-makan yang diperolehdengan jalan isyarat.

Perlu ditandaskan bahwa pengertian ta`wil, menurut istilah mufassirin, adalah supaya tidak mencakup pengertian ta`wil menurut istilah mutakallimin. Menurut mereka, ta`wil bermakna: ”Memalingkan nash-nash al-Qur`an dan as-Sunnah yang mutasyabbihah, dari maknanya yang dhahir, kepda makna-makna yang sesuai dengan kesucian Allah dari menyerupai makhluq, yang berlainan dengan makna yang diberikan oleh ulama-ulama salaf, yaitu menyerahkan pengertian-pengertian nash itu, kepada Allah sendiri tanpa menentukan sesuatu makna”.

Tafsir Tahlili

Tafsir Tahlili adalah suatu metode tafsir yang bermaksud menjelasakan kandungan ayat-ayat al-Qur`an dari berbagai aspeknya dengan memperhatikan runtunan ayat-ayat al-Qur`an yang tercantum di dalam mushaf, (Shadr, 1980:10) atau suatu metode penafsiran al-Qur`an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan itu serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufassir yang menafsirkan ayat tersebut (al-Farmawi, 1977:24).

Dalam metode ini, segala sesuatu yang di anggap perlu oleh seorang mufassir tahlili diuraikan, baik bermula dari penjelasan makna lafadz-lafadz tertentu, ayat per-ayat, surat per-surat, susunan kalimat, persesuaian kalimat yang satu dengan yang lain, Asbab al-Nuzul, hadits yang berkenaan dengan ayat-ayat yang ditafsirkan dan lain-lain.

Ciri-ciri

Penafsiran yang mengikuti metode ini bisa mengambil bentuk ma`tsur (riwayat) atau ra`yi (pemikiran). Dalam penafsiran tersebut, al-Qur`an ditafsirkan ayat demi ayat dan surat demi surat secara berurutan, serta tak ketinggalan menerangkan Asbab An-Nuzul dari ayat-ayat yg ditafsirkan. Kemudian diungkapkan pula penafsiran-penafsiran yg pernah diberikan oleh Nabi SAW, Sahabat, Tabi^in, Tabi Tabi^in, dan para ahli tafsir lainnya dari berbagai disiplin ilmu, seperti teologi, fiqih, bahasa, sastra, dsb. Selain itu juga dijelaskan Munasabah antara ayat yg satu dengan yg lainnya.

Ciri lain dari metode ini, penafsirannya diwarnai oleh kecenderungan dan keahlian mufassirnya sepert fiqih, sufi, falsafi, ilmi, adabi ijtimai, dan lain-lain.

ÎI. Tafsir Ijmali

Tafsir Ijmali adalah menafsirkan Al-Qur an dengan cara menjelaskan maksud Al Qur an secar global, tidak terperinci sepert tafsir tahlili, (Hidayat, 1996: 191) atau menjelaskan ayat-ayat Al Qur-an secara ringkas tapi mencakup dgn bahasa yang populer, mudah dimengerti, dan enak dibaca. Sistematika tulisannya menurut susunan ayat-ayat yg terdapat dalam mushaf. Selain itu penyajiannya tidak terlalu jauh dari gaya bahasa Al Qur-an sehingga pendengar dan pembacanya seakan-akan masih mendengarkan Al Qur-an padahal yg didengarnya adalah tafsirannya.

Tafsir dengan metode ini ditetapkan secara khusus bagi orang awam agar mudah memahami maksud yyg terkandung dalam Al Qur-an. Karena dgn metode tafsir ijmali, seorang mufassir berbicara kepada pembacanya dgn cara yang termudah, singkat, tidak berbelit-belit yg dapat menjelaskan arti ayat sebatas artinya tanpa menyinggung hal-hal lain dari arti yg dikehendaki, dgm target pihaj pembaca memahami kandungan pokok Al Qur-an.

Ciri-ciri:

Penafsiran yg dilakukan terhadap ayat-ayat Al Qur-an, ayat demi ayat, surat demi surat, sesuai dengan urutannya dalam mushaf. Dan kadangkala mufassir menafsirkan Al Qur-an dgn lafazh Al Qur-an, sehingga pembaca merasa bahwa uraian tafsirnya tidak jauh dari konteks Al Qur-an dgn penyajiannya yg mudah dan indah. Metode tafsir Ijmali ini hampir sama dengan metode tafsir Tahlili, tetapi penafsirannya tidak secara terperinci seperti tafsir Tahlili, hanya secara ringkas dan umum.

III. Tafsir Muqoron

Pengertian metode tafsir Muqoron adalah: 1) membangdingkan teks (nash) ayat-ayat Al Qur-an yg memiliki kesamaan redaksi dalam 2 kasus lebih, dan atau memiliki berbeda bagi satu kasus yg sama; 2) membandingkan ayat Al Qur-an dgn hadits yg pada lahirnya bertentangan; dan 3) membandingkan berbagai pendapat ulama tafsir di dalam menafsirkan Al Qur-an (Baidan 1998: 65)

Definisi di atas menunjukkan bahwa, penafsiran Al Qur-an dgm metode ini memiliki cakupan yg amat luas, tidak hanya membandingkan ayat dgn ayat, ayat dgn hadits, tapi juga membandingkan pendapat para mufassir dalam menafsirkan ayat.

Ciri-ciri:

Metode ini mempunyai ciri khas yg dapat membedakannya dari metode lain yaitu membandingkan pendapat para ulama tafsir dalam menafsirkan ayat dgn ayat, atau ayat dengan hadits, baik merka termasuk ulama salaf ataupun ulama hadits yg metode dan kecenderungan merka berbeda-beda, baik penafsiran merka yg berdasarkan riwayat yg bersumber dari Rosulullah SAW, Sahabat atau Tabi^in ( tafsir bil ma^tsur) atau berdasarkan rasio, ijtihad (tafsir bil ra^y) dan mengungkapkan pendapat mereka serta membandingkan segi-segi dan kecenderungan masing-masing yg berbeda dalam penafsiran Al Qur-an.

Mufassir dengan metode ini dituntut mampu nenganalisis pendapat-pendapat para ulama tafsir yg mereka kemukakan untuk kemudian mengambil sikap untuk menerima penafsiran yg dinilai benar dan menolak penafsiran yg tidak dapat diterima oleh rasionya serta menjelaskan kepada pembaca alasan dari sikap yang diambilnya, sehingga pembaca merasa puas.

IV. Tafsir Maudhu`i

Metode tafsir Maudhu^i / tematik adalah suatu metode penafsiran Al Qur-an dimana seorang mufassir mengkaji Al Qur-an sesuai dengan tema atau judul yang telah ditetapkan dalam Al Qur-an, baik yang berkaitan dengan hal kehidupan, sosiologi, ataupan kosmologi (Muhaimin, 1994: 120) . Dalam metode ini, semua ayat yg berkaitan, dihimpun, kemudian dikaji secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek yg terkait dengannya, seperti asbaabun nuzul, kosa kata, dsb. Semuanya dikaji secara rinci dan tuntas, serta didukung oleh dalil-dalil atau fakta-fakta yg dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Ciri-ciri:

Sesuai dengan namanya, maka yg menjadi ciri utama dari metode ini ialah penonjolan tema, judul atau topik pembahasan, sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa metode ini juga disebut metode topikal (Baidan, 1998: 152)

Tafsir Maudhu^i mempunyai dua bentuk kajian yg menjadi ciri utamanya: Pertama, pembahasan mengenai satusurat secara menyeluruh dan utuh dgn menjelaskan maksudnya yg bersifat umum dan khusus, menjelaskan korelasi antara berbagai masalah yg dikandungnya, sehingga surat itu tampak dalam bentuknya yg betul-betul utuh dan cermat. Kedua, menghimpun sejumlah ayat dari berbagai surat yg sama-sama membicarakan satu masalah tertentu; ayat-ayat tersebut disusun sedemikian rupadan diletakkan di bawah satu tema bahasan, selanjutnya ditafsirkan secara Maudhu^i.

Kemudian untuk cara kerjanya (yg menjadi ciri khas metode ini) Abd al- Farmawi (1977: 52) merumuskannya sbb: (a) menetapkan masalah/tema yg akan dibahas; (b) menghimpun ayat-ayat yg berkaitan dgn masalah tersebut; (c) menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya; (d) memahami korelasi ayat-ayat tsb dalam suratnya masing-masing; (e) menyusun pembahasan dalam rangka yg sempurna; (f) melengkapi pembahasan dgn hadits-hadits yg relevan dgn pokok pembahasan; (g) mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dgn jalan menghimpun ayat-ayat yg memiliki pengertian sama, atau mengkompromasikan antara yang ”amm” dengan yang ’khosh”, yang ”mutlak”, yang ”muqoyyad”, atau yg lahirnya bertentangan, sehingga kesemuanya bertemu ke dalam satu muara tanpa perbedaan atau pamaksaan.

Contoh Kitab-kitab tafsir bil-Ma’sur yang terkenal :

1). Tafsir yang dinisbahkan kepada Ibn Abbas.

2). Tafsir Ibn ’Uyainah.

3). Tafsir Ibn Abi Hatim.

4). Tafsir Abusy Syaikh bin Hibban.

5). Tafsir Ibn ’Atiyah.

6). Tafsir Abuk Lais Samarqandi, Bahrul Ulum.

7). Tafsir Abu Ishaq, al-Kasyfu wal Bayan an Tafsiril Qur-an.

8). Tafsir Ibn Jarir at-Tabari, Jami’ul Bayan fii Tafsiril Qur-an.

9). Tafsir Ibn Abi Syaibah.

10.) Tafsir al-Baghowi, Ma’alimut Tanzil.

11). Tafsir Abil Fida’ al-Hafizh Ibn Katsir, Tafsirul Qur-anul Azhim.

12). Tafsir as-Salabi, al-Jawahirul Hisan fii Tafsiril Qur-an.

13). Tafsir Jalaluddin as-Suyuti, ad-Durrul Mantsur fit Tafsiri bil Ma’sur.

14). Tafsir asy-Syaukani, Fathul Qadir.

Contoh Kitab-kitab Tafsir bir-Ra’yi yang terkenal :

1). Tafsir Abdurrahman bin Kaisan al-Asam.

2). Tafsir Abu ’Ali al-Juba’i.

3). Tafsir ’Abdul Jabbar.

4). Tafsir az-Zamakhsyari, al-Kasysyaf ’an Haqa’iqi Gawamidit.

5). Tafsir Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Gaib.

6). Tafsir Ibn Furak.

7). Tafsir an-Nasafi, Madarikul Tanzil wa Haqa’iqut Ta’wil.

8). Tafsir al-Khozin, Lubabut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil.

9). Tafsir Abu Hayyan, al-Bahrul Muhit.

10). Tafsir al-Baidawi, Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil.

11). Tafsir al-Jalalain; Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuti.

—Tengku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Pustaka Rizki Putra, 2002.s

KESIMPULAN

Al-Qur`an sebagai ”hudan-linnas” dan “hudan-lilmuttaqin”, maka untuk memahami kandungan al-Qur`an agar mudah diterapkan dalam pengamalan hidup sehari-hari memerlukan pengetahuan dalam mengetahui arti/maknanya, ta`wil, dan tafsirnya sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Sehingga kehendak tujuan ayat al-Qur`an tersebut tepat sasarannya.

Terjemah, tafisr, dan ta`wil diperlukan dalam memahami isi kandungan ayat-ayat al-Qur`an yang mulia. Pengertian terjemah lebih simple dan ringkas karena hanya merubah arti dari bahasa yg satu ke bahasa yg lainnya. Sedangkan istilah tafsir lebih luas ari kata terjemah dan ta’wil , dimana segala sesuatu yg berhubungan dengan ayat, surat, asbaabun nuzul, ddan lain sebagainya dibahas dalam tafsir yg bertujuan untuk memberikan kepahaman isi ayat atau surat tersebut, sehingga mengetahui maksud dan kehendak firman-firman Allah SWT tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

—Manna Kholil al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur-an, Pustaka Litera Antarnusa 2007,

—Saifullah dkk, Ulumul Qur-an, Prodia Pratama Sejati 2004,


AMSTAL DALAM AL-QURAN

MATA KULIAH ULUMUL QURAN II
Dosen Pembimbing :
Drs. H. Mursal sah, M.Ag
Dra. Hj. Sarmida Hanum, M.A

BAB I
PENDAHULUAN
Alhamdulillahirobbil ‘alamin, puji syukur kita lantunkan kepada Allah SWT. yang telah memberikan banyak nikmat kepada kita berupa Iman dan Islam sehingga kita bisa menyelesaikan tugas ini walaupun masih banyak kekurangan didalamnya.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. yang membimbing kita dari kebodohan menuju tata syari’at yang indah dengan penuh rasa cinta, sehingga kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Dalam masalah kajian ini, kita ketahui bahwa al-Quran telah menyerukan pada umat manusia untuk memperhatikan tamsil-tamsil, sebab dari situlah akan ditemukan suatu kebenaran yang hakiki mengenai kekuasaan Allah. Disamping itu tamsil juga sebagai sarana untuk menginterpretasikan permasalahan atau peristiwa yang dipahami oleh umat manusia. Dalam masalah perumpamaan ini, janganlah mengira bahwa hakikat permasalahan terletak padanya, tetapi dia hanyalah sebatas perumpamaan dan pendekatan saja.
Rasa terima kasih, tulus kami ucapkan kepada Dosen kami, Bapak Drs. Mursal Syah, M.Ag. dan Ibu Dra. Sarmida Hanum, M.Ag. yang dengan sabar mengantar kami untuk menggapai cita-cita di masa mendatang.

Penulis

BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Amsal Dalam Al-Quran
Amsal adalah bentuk dari kata matsal. Kata masal, misl dan masiladalh sama syabah, syibah dan syabih, baik lafadz maupun maknanya.
Dalam sastra, masal adalah suatu ungkapan perkataan yang dihikayaatkan dan sudah popular dengan maksud menyerupakan keadaan yang terdapat dalam perkataan itu diucapkan. Maksudnya, menyerupakan suatu (seorang, keadaan) dengan apa yang terkandung dalam perkataan itu.
Misalnya: (betapa banyak lemparan panah yang mengenai tanpa sengaja). Artinyabetapa banyak lemparan panah yanga mengenai sasaran itu dilakukan seorang pelemparyang biasanya tidak tepat lemparannya. Orang pertama yang mengucapkan matsal ini adalah Al-Hakam bin Yagus An-Nagri. Matsal ini ia katakankepada orang yang biasanya berbuat salah yang kadang-kadang ia berbuat benar. Atas dasar ini matsal harus mempunyai “Maurid” (sumber) yang kepadanya suatu yang lain diserupakan.
Kata matsal digunakan pula untuk menunjukkan arti “keadaan “ dan ”kisah yang menakjubkan”. Dengan pengertian inilah ditafsirkan kata-kata “MASAL” dalam sejumlah besar ayat.
Tamsil (membuat pemisalan, perumpamaan) merupakan kerangka yang dapat menampilkan makna-makna dalam bentuk yang hidup dan mantap didalam pikiran, dengan cara menyerupakan sesuatu yang gaib dengan hadir, yang abstrak dengan konkrit, dan dengan menganalogikan suatu dengan hal yang serupa. Betapa banyak makna baik, dijadikan lebih indah, menarik dan mempesona oleh tamsil. Karna itulah maka Tamsil lebih dapat mendorong jiwa untuk menerima makna yang dimaksudkandan membuat merasa puas dengannya. Dan Tamsil adalah salah satu Uslub Qur’an dalam mengugkapkan berbagai penjelasan dan segi-segi kemukjizatan.

B. Macam-Macam Amsal dan Contohnya
Amsal dalam Al-Qur’an ada tiga macam
1. Amsal Musarrahah, ialah Amsal yang didalammya dijelaskan dengan lafaz Masal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih. Amsal seperti ini banyak ditemukan dalam Al-Qur’an. Sebagai contoh dalam surat (Al-Baqarah : 17-20)
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّآ أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لاَّ يُبْصِرُونَ {17} صُمُّ بُكْمٌ عُمْىُُ فَهُمْ لاَ يَرْجِعُونَ {18} أَوْكَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتُُ وَرَعْدُُ وَبَرْقُُ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي ءَاذَانِهِم مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ وَاللَّهُ مُحِيطُُ بِالْكَافِرِينَ {19} يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ كُلَّمَآ أَضَاءَ لَهُم مَّشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا وَلَوْ شَآءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرُُ {20}
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka ini bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti orang-orang yang ditimpa hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat. …. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”

2. Amsal Kaminah, yaitu Amsal yang didalamnya tidak disebutkan dengan lafaz tamsil (pemisalan) tetapi ia menunjukkan dengan makna yang indah, menarik, dalam kepadatan redaksinya dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya, untuk masal ini mereka mengajukan sejumlah contoh, diantaranya suratAl-Baqarah: 68:

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَاهِيَ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لاَّ فَارِضُُوَلاَ بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ فَافْعَلُوا مَاتُؤْمَرُونَ {68}
“Sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan dari itu.“

3. Amsal Mursalah, yaitu Kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafaz tasybih secara jelas. tetapi kalimat-kalimat itu berlaku sebagai masal. Sebagai contoh dalam surat Al-Mudassir: 38:
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ{38}
“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa ynang telah diperbuatnya.”
Para ulama berbeda pendapat terhadap ayat-ayat Amsal Mursalah ini, apa atu bagai mana hukum mempergunakan sebagai masal.

C. Al-Qur’an Memuat Segala Macam Perumpamaan
Jauh sebelum ada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti dewasa ini Al-Qur’an telah mendorong umat manusia untuk melakukan kajian terhadap seluruh ala mini berikut segala yang ada didalamnya, dengan ditampilkan tamsil yang cukup banyak.
Diantara tamsil yang dihadirkan Al-Qur’an adalah mengilustrasikan fenomena alam, karakter manusia, tingkah laku, status, amalan, siksa, pahala an idiologi umat manusia selama hidup didunia. Oleh karena itu Al-Qur’an memuat segala macam perumpamaan dari berbagai visi. Semua ini adalah untuk kepentingan umat manusia agar mereka menyadari kalau kebenaran yang hakiki nhanyalah dating dari sisinya. Sebagai mana bisebutkan dalam surat Az-Zumar ayat 27 :
وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ {27}
“Sesungguhnya telah kami buatkan bagi manusia dalam al-Quran ini setiap macam dalam perumpamaan supaya mereka mendapat pelajaran.”
Tidak pernah ada satu kitab pun didunia ini yang memuat tamsil yang kesempurnaannya sebanding dengan Al-Qur’an, apalagi melebihinya.

D. Perumpamaan sebagai penjelas sesuatu yang samar
Ketika Allah SWT ingin menjelaskan sesuatu masalah yang masih samar bagi sebagian manusiam, Dia menerangkannya dengan perumpamaan yang mereka ketahui, karena itulahAllah SWT membuat perumpamaan tersebut.
Perumpamaan adalah mendatangkan sesuatu yang telah terjadi, kemudian hal itu diucapkan dengan perkataan yang indah , padat dan deskriptif. Selanjutnya ucapan tadi diambil dan dipergunakan pada setiap situasi yang mempunyai kemiripan dengan keadan ketika perumpamaan itu diucapkan.
Sinonim kata “مثل“ dan “مثل“ ini adalah “شبه“ dan “شبه“ yang artinya adalah perumpamaan dan seperti. Maksudnya adalah sesuatu yang masih samar dalam pikiran pendengar, ingin dijelaskan oleh pembicara dengan sesuatu yang telah diketahui.
Ketika sesuatu yang rasional itulebih tersembunyi atau samar dari sesuatuyang dapat dipersepsi melalui indra, maka pembicara berusaha menjelaskan sesuatu yang rasional dengan sesuatu yang dapat diraba dengan indra. Misalnya, seorang penyair ingin menggambarkan kepada kita yentang retaknya hati setelah hati itu pernah saling kasih-mengasihi, ia berkata:
ان القلوب اذا تنافرودها # مثل الزجاجة كسر هالا يشعب
“jika hati telah kehilangan rasa kasih sayangnya seperti kaca pecah yang akan sangat sulit menyatukannya.”
Maksudnya, tidak dapat dipaksa. Anda tidakm dapat melihat pertentangan yang terjadi antara dua hati. Ini adalah masalah ghaib, yang jauh dari jangkauan indra, karena apa yang terjadi dari kedua belah pihak tersebut tidak dapat dilihat. Keretakan hati tidak dapat dilihat karena ia merupakan masalah ghaib. Hal itu oleh penyair dijelaskan dengan sesuatu yang dapat digambarkan.
E. Hikmah Mengetahui Amsal
1. Menonjolkan sesuatu ma’qul (yang hanya bisa dijangkau, abstrak) dalam bentuk kongkrit yang bisa dirasakan manusia sehingga akal bisa menerimanya dengan mudah.
Contohnya:
Allah SWT. memberikan contoh tentang orang yang menafkahkan hartanya dengan jalan riya’ dimana orang tersebut tidak akan mendapat pahala sedikitpun dari jalan tersebut.
“Maka perumpamaan itu seperti batu licin yang diatasnya terdapat tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat lalu menjadilah ia bersih, mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan.” (al-Baqoroh: 264).

2. Menyingkapkan hakikat-hakikat dan mengemukakan sesuatu yang tidak tampak seakan-akan sesuatu itu tampak. Contohnya:
“Mereka yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (al-Baqoroh: 275)

3. Mengumpulkan makna yang menarik lagi indah dalam ungkapan yang padat, seperti amsal kaminah dan amsal mursalah dalam ayat-ayat diatas.

4. Mendorong orang yang diberi masal untuk berbuat sesuai dengan isi masal, jika ia merupakan sesuatu yang disenangin jiwa. Contohnya:
Allah SWT. membuat masal tentang orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah.
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji, Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Ia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqoroh: 261)

5. Menjauhkan (tanfir, kebalikan no. 4) jika isi masal berupa sesuatu yang dibenci jiwa. Contohnya:
“dan janganlah sebagian kamu, menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik kepadanya.” (al-Hujurat: 12)

6. Untuk memuji orang yang diberi masal. Seperti firman-Nya tentang para sahabat:
“demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat dan perumpamaan mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah ia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang Mukmin).” (al-Fath: 29)

7. Untuk menggambarkan sesuatu yang memounyai sifat yang dipandang buruk oleh orang banyak. Contohnya:
“dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra’: 32)

8. Amsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam memberikan nasehat lebih kuat dalam memberikan peringatan dan lebih dapat memuaskan hati. Allah banyak menyebut amsal di dalam al-Quran untuk peringatan dan pelajaran. Ia berfirman:
“dan sungguh kami telah membuat bagi manusia di dalam al-Quran ini setiap macam perumpamaan (masal) supaya mereka mendapat pelajaran.” (az-Zumar: 27)

BAB III
KESIMPULAN
Ø Masal ialah menonjolkan sesuatu makna yang abstrak dalam bentuk yang indrawi agar menjadi indah dan menarik.
Ø Para tidak menyukai penggunaan ayat-ayat al-Quran sebagai masal, mereka tidak memandang perlu bahwa orang harus membacakan suatu ayat amsal dalam Kitabullah ketika ia menghadapi urusan duniawi. Ini dikarenakan demi menjaga keagungan al-Quran dan kedudukannya dalam jiwa orang-orang mukmin.
Ø Amsal ada tiga macam:
a. Amsal Musarrahah, ialah Amsal yang didalammya dijelaskan dengan lafaz Masal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih,
b. Amsal Kaminah, yaitu Amsal yang didalamnya tidak disebutkan dengan lafaz tamsil (pemisalan),
c. Amsal Mursalah, yaitu Kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafaz tasybih secara jelas.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKAAN
Al-Qattan, Manna Kholil. 2007. Studi Ilmu-Ilmu Quran. Jakarta: Litera Antarnusa
Halim Jaya
As-Suyuthi,Jalaluddin. Al-Itqanfi Ulum Al-Quran, Dar-AlFik: Beirut, t.t
Syekh M. Mutawalli Asy-Sya’Rawi


FAWATUHUSSSUWAR

BAB I

A .Pendahuluan
Segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan nikmat kepada kita semua dan shalawat beserta salam senantiasa kita curahkan kehadirat nabi Muhammad saw beserta keluarganya dan sahabat-sahabatnya serta para pengikutnya yang setia pada sunahnya sampai ahkir jaman Amin ya rabbal ‘alamin.
Allah swt menurunkan al-qur’an sebagai petunjuk bagi manusia yang didalamnya menjelaskan segala sesuatu dan tidak akan pernah sesat orang nyang menjadikan nya sebagai pedoman bagi kehidupan sehari-hari.maka seyogianyalah setiap orang islam harus senantiasa mempelajari dan mengkaji apa-apa nyang ada didalamnya karena semakin banyak kita mengkaji al-qur’an maka akan semakin banyak kita menemukan khazanah keilmuan yang ada didalamnya serta hikmah-hikmah nyang belum kita dapat sebelumnya.maka dalam makalah yang singkat ini kami selaku pemakalah akan mencoba menjelaskan sebagian kecil dari ulumul qur’an nyang berkisar tentang fawatih al-suwar ada poin-poin nyang akan kami ketengahkan sebagai berikut:
Ø Pegertian fawatih al-suwar
Ø Macam-macam fawatih al-suwar
Ø Pendapat ulama tentang fawatih al-suwar
Ø Urgensi mempelarari tentang fawatih al-suwar
Dalam makalah yang singkat ini masih banyak terdapat kekurangan itu disebabkan karena keterbatasan kami selaku pemakalah maka kami mohon ma’af serta keritik dan saran sangat kami harapkan dari teman-teman demi untuk perbaikan makalah ini, tidak lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada bpk Drs.H Mursal syah Mag dan ibu Dra H Sarmida hanum Mag sebagai dosen yang telah membimbing kami dalam pembuatan makalah ini.dan akhir dari segalanya kami serahkan kepada Allah swt mudah-mudahan makalah ini dapat bermanpa’at Amin ya rabbal ‘alamin.

BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengrtian Fawatih al-Suwar
Secara bahasa, fawatih al-suwar adalah pembukaan-pembukaan surat yang terdapat dalam al-qur’an, karena posisinya terletak diawal surat dalam al-qur’an. Seluruh surat dalam al-qur’an di buka dengan sepuluh macam pembukaan dan tidak ada satu surat pun yang keluar dari sepuluh macam tersebut. Setiap macam pembukaan memiliki rahasia tersendiri sehingga sangat penting untuk kita pelajari.
Diantara pembuka surat itu diawali dengan hurupf-huruf terpisah (al-Ahruf al-Munqata’ah). Dan orang sering mengidentikan dengan fawatih al-suwar. Dan diantara ulama yang mengidentikannya adalah Manna Khalil al-Qathan dalam karya nya ‘‘Mabahis Fi Ulum al-Qur’an’’[1] padahal huruf al-Muqaththa’ah bagian dari fawatih al-suwar.
B. Macam-Macam fawatih al-suwar.
Beberapa ulama telah melakukan penelitian tentang fawatih al-suwar dalam al-Qur’an, diantaranya adalah imam al-Qasthalani, beliau membagi kepada sepuluh macam. Sementara ibnu Abi al-Isba juga telah melakukan penelitian dan beliau membagi kepada lima macam saja. [2] dan dalam pembahasan ini kami akan mengetengahkan pendapat al-Qasthalani : Adapun sepuluh macam menurut beliau adalah:
1.Pembukaan pujian kepada Allah swt.
Pujian kepada Allah ada dua macam yaitu:
a. menetapkan sifat-sifat terpuji (الاءثبات الصفات الماض). Dengan manggunakan lafaz yaitu: 1)memakai lafaz hamdalah yakni dibuka dengan الحمد لله yang terdapat dalam lima surat. [3] 2) memakai lafaz تبارك terdapat dalam dua surat. [4]
b. Mensucikan Allah dari sifat-sifat negatif (تشبح عن صفات نقص) dengan menggunakan lafaz tasbih (يسبح, سبح, سبح, سبحن). Sebagai mana terdapat dalam tujuh surat.[5]

2. Pembukaan dengan panggilan (الا ستفتح بنداء)
Nida disini ada 3 macam, yaitu Nida untuk nabi, misalnya (ياايها النبي) terdapat dalam tiga surat[6]. Nida untuk Mukminin (ياايها الذين امنوا) terdapat tiga surat. Dan Nida untuk manusia (ياايها الناس) terdapat dalam dua surat .
3. Pembukaan dengan huruf-huruf yang terputus (الا ستفتح بالاحرف المنقطعه)
Pembukaan dengan huruf-huruf ini terdapat dalam 29 surat dengan memakai 14 surat tanpa diulang yaitu: ا, ى, ه, ن, م, ل, ق ,ع, ط, ص, س, ر,ح. Penggunaan huruf-huruf di atas dalam fawatih al-Suwar disusun dalam 14 rangkaian, yang terdiri dari beberapa bentuk sebagai berikut:
a. Terdiri dari satu huruf, terdapat dalam tiga surat yakni ص (QS.Shad),ق (QS.Qaf), dan ن
(QS, Qalam).
b.Terdiri dari dua huruf, terdapat dalam 10 surat, 7 surat dinamakan Hawamim(surat-surat yang dibuka dengan Hamim), yakni: (QS, Al-Mukmin,Al-fussilat, Al-surra, Al- Zuhruf, Al- Dukhan, Al- Jatsiah, Al- Ahqaf), طه (QS, Taha), طس (QS, Naml) يس (QS, Yasin).
c.Terdiri dari tiga huruf, enam surat dimulai dengan الم yaitu: (QS, Al-Baqarah, Al- Imran, Al-Ankabut, Ar-Rum, Lukman, dan Al-Sajdah), lima surat dimulai denganاالر yaitu: (QS, Yunus, Hud, Ibrahim, Yusuf dan Al-Hijr), dan dua surat dimulai denganطسم yaitu: (QS, Qashash dan Asy-Syuaro).
d..Terdiri dari empat huruf yaitu: المر (QS, Al-Ara’ad) dan المص (QS, Al-A’raf).
e. Terdiri dari lima huruf yaitu: كهيعص (QS, Maryam), dan حم عسق (QS, Al-Syuara).

4. Pembukaan dengan sumpah (الاءتتفناح بقسام)
Terdapat dalam 16 surat dibagi kepada tiga bagian sebagai berikut:
a. Sumpah dengan benda angkasa misalnya: والنجم (QS, An-Nazm), والسماء والطارق (QS, Ath-Thariq), dan lain-lain.
b. Sumpah dengan benda bawah misalnya: والتين (QS, At-Tin), والعديت (QS, Al_’Adiyat), dan lain-lain
c. Sumpah dengan waktu misalnya: والعصر (QS, Al-Ashr), واليل (QS, Al-Lail), dan lain-lain.

5.Pembukaan dengan kalimat (jumlah) Khabariah ada 23 surat dan dibagi dua macam sebagai berikut:
a. Jumlah ismiyah, jumlah ismiyah menjadi pembuka surat yang terdiri dari 11 surat yaitu: براءة من الله ورسوله (QS, At-Taubat), سورة انزلناها وفرضناها (QS, An-Nur).
b. Jumlah fi’liyah, jumlah fi’liyah yang menjadi pembuka surat terdiri dari 12 surat yaitu: يسئلونك عن الانفال (QS, Al-Anfal), قد افلح المؤ منون (QS, Al-Mukminun) dan lain-lain.
6. Pembukaan dengan Syarat (الاءستفتاح با لشرط)
Terdiri dari tujuh surat misalnya اذالشمس كورت (QS, At-Takwir).اذالسماء انفطرت (QS, Al Inpithar) dan lain-lainnya.
7.Pembukaan dengan kata perintah.
Adapun pembukaannya terdiri dari enam surat yaitu: dengan kata اقرا dalam surat Al-Alaq, dan dengan kata قل dalam surat al-Jin, al-Kfirun, al-Falaq, dan al-Annas.
8 Pembukaan dengan pertanyaan.(al-Istiftah bil Istifham).
Bentuk nya ada dua dan terdapat empat surat dalam al-Qur’an. Yaitu:
a. Pertanyaan fositif misalnya: هل اتي علي الانسان (QS. Ad-dahr).
b. Pertanyaan negatif misalnya: الم نشرح لك صدرك (QS, Al-Insyirah).
9. Pembukaan dengan do’a
Ada tiga surat didalam al-Qur’an. Misalnya:ويل للمطففين (QS, Al-Muthaffifin).
10.Pembukaan dengan alasan (al-Istiftah bit-Ta’lil).
Ada satu surat didalam al-Qur’an. Misalnya لايلف قريش (QS. Al-Qurais).
C. Pendapat Ulama Tentang Fawatih al-Suwar.
Para ulama banyak yang membicarakan masalah ini diantara mereka ada yang berani menafsirkan nya, yang mana huruf-huruf itu adalah rahasia yang Allah saja yang mengetahuinya. Ada pun penafsiran ulama itu adalah sebagai berikut:
1.As-Suyuti menukil pendapat ibnu Abbas tentang hurup tersebut adalah sebagai berikut: diantaranya: الم berarti الله اعلم انا yang berarti hanya aku yang paling tahu kemudian المص yang berarti A’lamu wa Afshilu yaitu hanya aku yang paling mengetahui dan yang menjelaskan suatu perkara, sedangkan المر berarti Ana Ara yang berarti aku melihat. Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas bahwa makna كهيعص yaitu Kaf dari kata Karim yang berarti mulia, Ha adalah Hadin yang berarti memberi petunjuk, Ya adalah Hakim yang berarti yang maha bijaksana, Ain yaitu Alim yang berarti yang maha mengetahui, dan Shad yaitu Shadiq yang berarti yang maha Benar.[7]dan sebagainya.Dikatakan bahwa pendapat ini hanyalah dugaan saja. kemudian As-Suyuti menerangkan bahwa hal itu merupakan rahasia yang hanya Allah swt sendiri yang mengetahuinya.[8]
2. Az- Zarkasyi berkata dalam tafsirnya ‘al-Qassyaf tentang huruf-huruf itu bahwa di dalamnya terdapat beberapa pendapat yaitu: merupakan rahasia Allah yang hanya Allah sendiri nyang mengetahuinya. Atau merupakan nama surat, dan sumpah Allah swt dan supaya dapat menarik perhatian orang yang mendengarnya.
3. Al-Quwaibi mengatakan bahwasanya kalimat itu merupakan peringatan bagi nabi, mungkin pada saat itu beliau dalam keadaan sibuk, maka Allah menyuruh Jibril untuk memberikan perhatian terhadap apa yang disampaikan kepadanya.
4. As-sayyid rasyid ridha tidak membenarkan al-quwaibi diatas, karena nabi senantiasa dalam keadaan sadar dan senantiasa menanti kedatangan wahyu. Rasyid ridha berpendapat sesuai dengan ar-Razi bahwa tanbih ini sebenarnya dihadapkan kepada orang-orang musyrik mekkah dan ahli kitab madinah. Karena orang-orang kafir apabila nabi membaca al-Qur’an mereka satu sama lain menganjurkan untuk tidak mendengarkannya, seperti dijelaskan dalam surat fushilat ayat 26.
5. Ulama salaf berpendapat bahwa ‘‘Fawatih al-Suwar’’ telah disusun semenjak jaman azali, yang demikian itu melengkapi segala yang melemahkan manusia dari mendatangkan seperti al-Qur,an.
Oleh karena I’tiqad bahwa huruf-huruf itu telah sedemikian daari azalinya, maka banyaklah orang yang telah berani menafsirkannya dan tidak berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap huruf-huruf tersebut.[9]
D. Urgensi mempelajari tentang Fawatih as-Suwar
Banyak sekali urgensi yang kita dapat dalam mengkaji Fawatih al-Suwar. Adapun sebagian dari urgensinya sebagai berikut:
Sebagai Tanbih( peringatan ) dan dapat memberikan perhatian baik bagi nabi,maupun umatnya dan dapat menjadi pedoman bagi kehidapan ini.
Sebagai pengetahuan bagi kita yang senantiasa mengkajinya bahwa dalam fawatih as-suwar banyak sekali hal-hal yang mengandung rahasia-rahasia Allah yang kita tidak dapat mengetahuinya.
Sebagai motivasi untuk selalu mancari ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Dengan cara beriman dan beramal shaleh dan menambah keyakinan kita bahwa al-Qur’an itu adalah benar-benar kalam Allah swt.
Untuk menghilangkan keraguan terhadap al-Qur,an terutama bagi kaum mislimin yang masih lemah imannya karena sangat mudah terpengaruh oleh perkataan musuh-musuh islam yang mengatakan bahwa al-qur’an itu adalah buatan Muhammad. dengan mengkaji Fawatih al-Suwar kita akan merasakan terhadap keindahan bahasa al-Qur’an itu sendiri bahwa al-Qur’an itu datang dari Allah swt.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat kami ambil dari makalah ini adalah :
Ø Fawatih as-suwar adalah pembuka-pembuka surat, karena posisinya di awal surat dalam al-quran menurut al-Qasthalani seluruh surat dalam al-quran dibuka dengan sepuluh macam pembukaan dan tidak ada satu surat pun yang keluar dari sepuluh macam tersebut, sedangkan menurut Ibnu abi al-Isba’ hanya lima macam saja
Ø Para ulama berpendapat bahwa huruf-huruf fawatih as-suwar itu secara umum telah sedemikian azali maka banyak ulama yang tidak berani menafsirkannya dan tidak berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap makna huruf-huruf tersebut.
Ø Adapun urgensi mempelajari fawatih as-suwar itu secara pokok adalah bagaimana supaya bertambah keimanan kita dan keyakinan kita terhadap kebenaran ayat-ayat Allah swt. Dan menjadi pedoman dalam kehidupan kita.

DAFTAR PUSAKA
- Al-Quranul karim
- As suyuti Jalaluddin al-Itqon Fi Ulum al-Quran,{Dar al-Fikri. Beirut}.
- Ash-Shidiqi Hasby Ulum al-Qur’an, Pustaka Rizki putra .Semarang 2002
- Ahmad Rofi’I dan Ahmad Syadali, Ulum al-Quran , {Bandung; CV Pustaka Setia, 2000}.
[1] Jalaluddin as-Suyuti, al-Itqan Fi Ulum al Qur’an,
[2] Ibid al-
[3] Lihat al-Qur’an surat: fatihah, al-an’am, al-kahfi, saba, al-fatir.
[4] Lihat al-Qur’an surat: al-furqan, dan al-mulk.
[5] Lihat al-Qur’an surat: al-Isra’ al-A’la, al-Hadid, al-Hasr, al-Shaff, al-Jumu’ah, dan al-Taqhabun.
[6]Supian dar Karman, Ulumul al-Qur’an (Bandung: Pustaka Islami, 2002), hal. 173-1744
[7] Jalaluddin As-suyuti. Al-itqan fi ulum al-Qur’an.
[8] Hasby Ash-Shidiqi, Ulum al-Qur’an, Semarang, Pustaka Rizki Putra, cet, 2002), hal. 186
[9] Ahmad Syadali dan Ahmad rofi’I, Ulumul quran, ( Bandung ; CV Pustaka Setia, 2000), hal.1955-197


Tafsir, Takwil dan Terjemah

A. Pengertian Tafsir, Takwil dan Terjemah

  1. Tafsir

Tafsir menurut bahasa adalah penjelasan dan menerangkan, Tafsir diambil dari kata Al-Fasr’ yang berarti membuka dan menjelaskan sesuatu yang tertutup. Oleh karena itu dalam bahsa arab kata tafsir berarti membuka secara maknawi dengan menjelaskan arti yang tertangkap dari redaksional yang eksplisit (tersurat).

Maka defenisi Al-Qur’an adalah ilmu yang membahas tentang redaksi-redaksi Al-Qur’an dengan memperhatikan pengertian untuk mencapai pengetahuan tentang apa yang dikehendaki oleh Allah SWT, sesuai dengan kadar kemampuan manusia.

Adapun tentang pengertian tafsir berdasarkan istilah, para ulama banyak memberikan komentar antara lain sebagai berikut :

  1. Menrut Al-Kilabi

Tafsir adalah penjelasan Al-Qur’an dengan menerangkan makna dari tujuan (isyarat).

  1. Menurut Syekh Al-Jazari

Tafsir adalah hakekatnya menjelaskan lafazh yang sukar difahami dengan jalan mengemukakan salah satu lafazh yang bersinonim (mendekati) dengan lafazh tersebut

  1. Menurut abu Hayyan

Tafsir adalah ilmu yang mengenai cara pengucapan lafazh Al-Qur’an serta cara mengungkapkan petunjuk kandungan hukum dan makna yang terkandung didalamnya.

  1. Menurut Az-Zarkasyi

Tafsir adalah ilmu yang digunakan untuk memahami dan menjelaskan makna-makna Al-Qur’an yang diturunkan pada pada nabi Muhammad SAW, serta mengumpulkan kandungan dan hukum dan hikmahnya.

Berdasarkan beberapa rumusan tafsir yang dikemukakan para ulama tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa tafsir adalah suatu hasil yang tanggapan dan penalaran manusia untuk menyikapi nilai-nilai samawi yang terdapt didalam Al-Qur’an.

  1. Takwil

Arti takwil menurut lughat berarti menerangkan, menjelaskan. Adapun arti bahasanya menurut Az-Zarqoni adalah sama dengan tafsir.

Adapun mengenai arti takwil menurut istilah banyak para ulama memberikan pendapatnya antara lain sebagai berikut ini :

  1. Menurut Al-Jurzzani

Memalingkan suatu lafazh dari makna d’zamirnya terhadap makna yang dikandungnya apabila makna alternative yang dipandang sesuai dengan ketentuan Al-kitab dan As-sunnah.

  1. Menurut defenisi lain

Takwil adalah mengenbalikan sesuatu kepada ghayahnya (tujuannya) yakni menerangkan apa yang dimaksud.

  1. Menurut Ulama Salaf

1). Menafsirkan dan mejelaskan makna suatu ungkapan baik yang bersesuaian dengan makna ataupun bertentangan.

2). Hakekat yang sebenarnya yang dikehendaki suatu ungkapan.

  1. Menurut Khalaf

Mengalihkan suatu lafazh dari maknanya yang rajin kepada makna yang marjun karena ada indikasi untuk itu.

Pengertian takwil menurut istilah adalah suatu usaha untuk memahami lafazh-lafazh (ayat-ayat) Al-Qur’an melalui pendekatan pemahaman arti yang dikandung oleh lafazh itu.

  1. Terjemah

Arti terjemah menurut bahasa adalah susunan dari suatu bahasa kebahasa atau mengganti, menyalin, memindahkan kalimat dari suatu bahasa lain kesuatu bahasa lain.

Adapun yang dimaksud dengan terjemahan Al-Qur’an adalah seperti dikemukakan oleh “Ash-Shabuni” yakni memindahkan Qur’an kebahasa lain yang bukan bahasa arab dan mencetak terjemah ini kedalam beberapa naskah untuk dibaca orang yang tidak mengerti bahasa arab sehingga dia dapat

B. Perbedaan Tafsir, Takwil dan Terjemah

Adapun perbedaan tafsir, takwil dan terjemah itu sendiri dapat dijelaskan sebagai berikut.

  1. Tafsir.

Menerangkan makna lafazh yang telah diterima selama satu hari, selain itu juga menetapkan apa yang dikehendaki ayat yang dikehendaki Allah SWT.

  1. Takwil

- Menetapkan makna yang dikehendaki suatu lafazh yang dapat menerima banyak makna karena didukung oleh dalil.

- Mengoleksi salah satu makna yang mungkin diterima oleh suatu ayat tanpa menyakinkan bahwa itulah yang dikehendaki Allah SWT serta menafsirkan batin lafazh.

  1. Terjemah

Mengalihkan bahasa Al-Qur’an yang berasal dari bahasa arab kedalam bahasa non arab.

C. Klasifikasi Tafsir : Bi Al-Ma’tsur dan Bir-Ra’yi

  1. Tafsir Bi Al-Ma’tsur

Adalah penafsiran Al-Qur’an yang mendasarkan pada penjelasan Al-Qur’an rasul, para sahabat melalui ijtihadnya.

Hukum Tafsir Bi Al-Ma’tsur

Tafsir Bi Al-Ma’tsur wajib untuk mengikuti dan diambil karena terjaga dari penyelewengan makna kitabullah.

  1. Tafsir Bir-Ra’yi

Berdasarkan pengertian ra’yi berarti keyakinan dan ijtihad sebagaimana dapat didefinisikan tafsir Bir-ra’yi adalah penjelasan yang diambil berdasarkan ijtihad dan metodenya dari dalil hukum yang ditunjukkan.

Hukum Tafsir Bir-ra’yi

Tafsir banyak dilakukan oleh ahli bid’ah yang menyakini pemikiran tertentu kemudian membawa lafazh-lafazh Al-Qur’an kepada pemikiran mereka tanpa ada pendahuluan dari kalangan sahabat. Tafsir berlandaskan pokok-pokok pemikiran mereka yang sesat, sering penafsiran Al-Qur’an dianggap dengan akal semata, maka hukumnya adalah haram sebagai mana firman Allah:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (Q.S. Al-Isro’ : 36)

Dari uraian yang telah dijelaskan diatas bahwa tafsir, takwil dan terjemah banyak mengandung pengertian dari para ulama berdasarkan tujuan dari tafsir, takwil dan terjemah adalah sebagai penjelasan yang terkandung dalam Al-qur’an.

di 11:13 PM

Label: Tafsir, Takwil dan Terjemah


Korelasi Al-Quran dengan ilmu pengetahuan

Penafsiran Ilmiah Al-Quran
Al-Quran Al-Karim, yang merupakan sumber utama ajaran Islam, berfungsi sebagai “Petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya” (QS 17:9) demi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Petunjuk-petunjuk tersebut banyak yang bersifat umum dan global, sehingga penjelasan dan penjabarannya dibebankan kepada Nabi Muhammad saw. (QS 16:44; 4:105, dan sebagainya).
Di samping itu, Al-Quran juga memerintahkan umat manusia untuk memperhatikan ayat-ayat Al-Quran (QS 39:18; 47:24), dengan perhatian yang, di samping dapat mengantar mereka kepada keyakinan dan kebenaran Ilahi, juga untuk menemukan alternatif-alternatif baru melalui pengintegrasian ayat-ayat tersebut dengan perkembangan situasi masyarakat tanpa mengorbankan prinsip-prinsip pokok ajarannya (Al-Ushul Al-Ammah) atau mengabaikan perincian-perincian yang tidak termasuk dalam wewenang ijtihad. Dengan demikian, akan ditemukan kebenaran-kebenaran penegasan Al-Quran, bahwa:
a. Allah akan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya di seluruh ufuk dan pada diri manusia, sehingga terbukti bahwa ia (Al-Quran) adalah benar (baca QS 41:53).
b. Fungsi diturunkannya Kitab Suci kepada para Nabi (tentunya terutama Al-Quran), adalah untuk memberikan jawaban atau jalan keluar bagi perselisihan dan problem-problem yang dihadapi masyarakat (baca QS 2:213).
Perkembangan Penafsiran Ilmiah
Dalam rangka pembuktian tentang kebenaran Al-Quran, wahyu Ilahi ini telah mengajukan tantangan kepada siapa pun yang meragukannya untuk menyusun “semisal” Al-Quran. Tantangan tersebut datang secara bertahap:
a. Seluruh Al-Quran (QS 17:88; 52:34).
b. Sepuluh surah saja dari 114 surahnya (QS 11:13).
c. Satu surah saja (QS 10:38).
d. Lebih kurang semisal satu surah saja (QS 2:23).
Arti semisal mencakup segala macam aspek yang terdapat dalam Al-Quran, salah satu di antaranya adalah kandungannya yang antara lain berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang belum dikenal pada masa turunnya.
Dari sini tidaklah mengherankan jika sementara pihak dari kaum Muslim berusaha untuk membuktikan kemukjizatan Al-Quran, atau kebenaran-kebenarannya sebagai wahyu Ilahi melalui penafsiran, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, walaupun tidak jarang dirasakan adanya “pemaksaan-pemaksaan” dalam penafsiran tersebut yang antara lain diakibatkan oleh keinginan untuk membuktikan kebenaran ilmiah melalui Al-Quran, dan bukan sebaliknya.
Corak penafsiran ilmiah ini telah lama dikenal. Benihnya bermula pada masa Dinasti Abbasiyah, khususnya pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun (w. 853 M), akibat penerjemahan kitab-kitab ilmiah. Namun, agaknya, tokoh yang paling gigih mendukung ide tersebut adalah Al-Ghazali (w. 1059 – 1111 M) yang secara panjang lebar dalam kitabnya, Ihya’ ‘Ulum Al-Din dan Jawahir Al-Qur’an mengemukakan alasan-alasan untuk membuktikan pendapatnya itu. Al-Ghazali mengatakan bahwa: “Segala macam ilmu pengetahuan, baik yang terdahulu (masih ada atau telah punah), maupun yang kemudian; baik yang telah diketahui maupun belum, semua bersumber dari Al-Quran Al-Karim.”
Hal ini, menurut Al-Ghazali, karena segala macam ilmu termasuk dalam af’al (perbuatan-perbuatan) Allah dan sifat-sifat-Nya. Sedangkan Al-Quran menjelaskan tentang Zat, af’al dan sifat-Nya. Pengetahuan tersebut tidak terbatas. Dalam Al-Quran terdapat isyarat-isyarat menyangkut prinsip-prinsip pokoknya. Hal terakhir ini, antara lain, dibuktikan dengan mengemukakan ayat, “Apabila aku sakit maka Dialah yang mengobatiku” (QS 26:80).
“Obat” dan “penyakit”, menurut Al-Ghazali, tidak dapat diketahui kecuali oleh yang berkecimpung di bidang kedokteran. Dengan demikian, ayat di atas merupakan isyarat tentang ilmu kedokteran.
Agaknya, ulasan yang dikemukakan ini sukar untuk dipahami, karena, walaupun diyakini ilmu Tuhan tidak terbatas, namun apakah seluruh ilmu-Nya telah dituangkan dalam Al-Quran? Dan apakah setiap kata yang menyangkut disiplin ilmu telah merupakan bukti kecakupan pokok disiplin ilmu tersebut di dalamnya? Tentulah berbeda antara ilmu dan “kalam”. Karenanya, tidak semua yang diketahui itu diucapkan.
Fakhruddin Al-Raziy (1209 M), walaupun tidak sepenuhnya, sependapat dengan Al-Ghazali. Namun, kitab tafsirnya, Mafatih Al-Ghayb, dipenuhi dengan pembahasan ilmiah menyangkut filsafat, teologi, ilmu alam, astronomi, kedokteran, dan sebagainya. Sampai-sampai, kitab tafsirnya tersebut dinilai secara berlebihan sebagai mengandung segala sesuatu kecuali tafsir.
Penilaian yang mirip dengan ini juga diberikan oleh Tafsir Al-Jawahir karangan Thantawi jauhari (1870-1940). Bahkan, sebelumnya, Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935) dengan Tafsir Al-Manar-nya, dinilai berusaha juga membuktikan hal tersebut. Ia, menurut penilaian Goldziher, berusaha membuktikan bahwa: “Al-Quran mencakup segala hakikat ilmiah yang diungkapkan oleh pendapat-pendapat kontemporer (pada masanya), khususnya di bidang filsafat dan sosiologi.”
Di lain sisi, Al-Syathibi (w. 1388) merupakan tokoh yang paling gigih menentang sikap di atas secara berlebih-lebihan pula, sehingga ia mengatakan bahwa “Al-Quran tidak diturunkan untuk maksud tersebut,” dan bahwa “Seseorang, dalam rangka memahami Al-Quran, harus membatasi diri menggunakan ilmu-ilmu bantu pada ilmu-ilmu yang dikenal oleh masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Quran. Siapa yang berusaha memahaminya dengan menggunakan ilmu-ilmu bantu selainnya, maka ia akan sesat atau keliru dan mengatasnamakan Allah dan Rasul-Nya dalam hal-hal yang tidak pernah dimaksudkannya.”
Namun, apa yang dikemukakan oleh Al-Syathibi tersebut, juga sukar untuk dipahami, karena kita berkewajiban memahami Al-Quran sesuai dengan masa sekarang ini sebagaimana wajibnya orang-orang Arab yang hidup di masa dakwah Muhammad saw.
Di samping itu, bagaimana kita dapat melaksanakan maksud ayat seperti “Apakah mereka tak berpikir”, dan sebagainya, yang biasanya menjadi fashilah (penutup) ayat-ayat yang berbicara tentang biologi, astronomi, dan lainnya, apabila kita tidak memahaminya melalui bantuan ilmu-ilmu tersebut yang jelas belum dikenal dan berkembang dengan pesat sebagaimana yang kita alami dewasa ini?
Pendapat kedua tokoh yang memiliki reputasi tinggi di bidang ilmu keislaman dan yang bertolak belakang itu, masing-masing mempunyai pendukung sejak masa mereka hingga dewasa ini, walaupun pendapat yang dipelopori oleh Al-Ghazali lebih tersebar akibat faktor-faktor ekstern, baik menyangkut konflik yang terjadi di Eropa pada abad kedelapanbelas, antara pemuka Kristen dan ilmuwan-ilmuwan, maupun kondisi sosial umat Islam serta pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan.
Untuk mendudukkan persoalan di atas pada proporsinya yang benar, perlu kiranya ditinjau korelasi antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan.
Korelasi antara Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan
Hemat penulis, membahas hubungan antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan bukan dinilai dari banyak atau tidaknya cabang-cabang ilmu pengetahuan yang dikandungnya, tetapi yang lebih utama adalah melihat: adakah Al-Quran atau jiwa ayat-ayatnya menghalangi ilmu pengetahuan atau mendorongnya, karena kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya diukur melalui sumbangan yang diberikan kepada masyarakat atau kumpulan ide dan metode yang dikembangkannya, tetapi juga pada sekumpulan syarat-syarat psikologis dan sosial yang diwujudkan, sehingga mempunyai pengaruh (positif ataupun negatif) terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.
Sejarah membuktikan bahwa Galileo –ketika mengungkapkan penemuan ilmiahnya– tidak mendapat tantangan dari satu lembaga ilmiah, kecuali dari masyarakat di mana ia hidup. Mereka memberikan tantangan kepadanya atas dasar kepercayaan agama. Akibatnya, Galileo pada akhirnya menjadi korban penemuannya sendiri.
Dalam Al-Quran ditemukan kata-kata “ilmu” –dalam berbagai bentuknya– yang terulang sebanyak 854 kali. Di samping itu, banyak pula ayat-ayat Al-Quran yang menganjurkan untuk menggunakan akal pikiran, penalaran, dan sebagainya, sebagaimana dikemukakan oleh ayat-ayat yang menjelaskan hambatan kemajuan ilmu pengetahuan, antara lain:
1. Subjektivitas: (a) Suka dan tidak suka (baca antara lain, QS 43:78; 7:79); (b) Taqlid atau mengikuti tanpa alasan (baca antara lain, QS 33:67; 2:170).
2. Angan-angan dan dugaan yang tak beralasan (baca antara lain, QS 10:36).
3. Bergegas-gegas dalam mengambil keputusan atau kesimpulan (baca, antara lain QS 21:37).
4. Sikap angkuh (enggan untuk mencari atau menerima kebenaran) (baca antara lain QS 7:146).
Di samping itu, terdapat tuntutan-tuntutan antara lain:
1. Jangan bersikap terhadap sesuatu tanpa dasar pengetahuan (QS 17:36), dalam arti tidak menetapkan sesuatu kecuali benar-benar telah mengetahui duduk persoalan (baca, antara lain, QS 36:17), atau menolaknya sebelum ada pengetahuan (baca, antara lain, QS 10:39).
2. Jangan menilai sesuatu karena faktor eksternal apa pun –walaupun dalam pribadi tokoh yang paling diagungkan seperti Muhammad saw.
Ayat-ayat semacam inilah yang mewujudkan iklim ilmu pengetahuan dan yang telah melahirkan pemikir-pemikir dan ilmuwan-ilmuwan Islam dalam berbagai disiplin ilmu. “Tiada yang lebih baik dituntun dari suatu kitab akidah (agama) menyangkut bidang ilmu kecuali anjuran untuk berpikir, … serta tidak menetapkan suatu ketetapan yang menghalangi umatnya untuk menggunakan akalnya atau membatasinya menambah pengetahuan selama dan di mana saja ia kehendaki.” Inilah korelasi pertama dan utama antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan.
Korelasi kedua dapat ditemukan pada isyarat-isyarat ilmiah yang tersebar dalam sekian banyak ayat Al-Quran yang berbicara tentang alam raya dan fenomenanya. Isyarat-isyarat tersebut sebagiannya telah diketahui oleh masyarakat Arab ketika itu. Namun, apa yang mereka ketahui itu masih sangat terbatas dalam perinciannya.
Di lain segi, paling sedikit ada tiga hal yang dapat disimpulkan dari pembicaraan Al-Quran tentang alam raya dan fenomenanya:
1. Al-Quran memerintahkan atau menganjurkan manusia untuk memperhatikan dan mempelajarinya dalam rangka meyakini ke-Esa-an dan kekuasaan Tuhan. Dari perintah ini, tersirat pengertian bahwa manusia memiliki potensi untuk mengetahui dan memanfaatkan hukum-hukum yang mengatur fenomena alam tersebut, namun pengetahuan dan pemanfaatan ini bukan merupakan tujuan puncak (ultimate goal).
2. Alam raya beserta hukum-hukum yang diisyaratkannya itu diciptakan, dimiliki, dan diatur oleh ketetapan-ketetapan Tuhan yang sangat teliti. Ia tidak dapat melepaskan diri dari ketetapan-ketetapan tersebut kecuali bila Tuhan menghendakinya. Dari sini, tersirat bahwa: (a) alam raya atau elemen-elemennya tidak boleh disembah; (b) manusia dapat menarik kesimpulan tentang adanya ketepatan-ketepatan yang bersifat umum dan mengikat yang mengatur alam raya ini (hukum-hukum alam).
3. Redaksi yang digunakan oleh Al-Quran dalam uraiannya tentang alam raya dan fenomenanya itu, bersifat singkat, teliti dan padat, sehingga pemahaman atau penafsiran tentang maksud redaksi-redaksi tersebut sangat bervariasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan pengetahuan masing-masing.”
Dalam kaitannya dengan butir ketiga ini, kita perlu menggarisbawahi beberapa prinsip pokok:
a. Setiap Muslim, bahkan setiap orang, berkewajiban untuk mempelajari dan memahami kitab suci yang dipercayainya. Namun, walaupun demikian, hal tersebut bukan berarti bahwa setiap orang bebas untuk menafsirkan atau menyebarluaskan pendapatnya tanpa memenuhi syarat-syarat yang dibutuhkan guna mencapai maksud tersebut.
b. Al-Quran diturunkan bukan hanya khusus untuk orang-orang Arab ummiyin yang hidup pada masa Rasul saw., tidak pula untuk generasi abad keduapuluh ini, tetapi juga untuk seluruh manusia hingga akhir zaman. Mereka semua diajak berdialog oleh Al-Quran dan dituntut untuk menggunakan akalnya.
c. Berpikir secara modern, sesuai dengan keadaan zaman dan tingkat pengetahuan seseorang; tidak berarti menafsirkan Al-Quran secara spekulatif atau terlepas dari kaidah-kaidah penafsiran yang telah disepakati oleh para ahli di bidang ini.
Nah, kaitan prinsip ini dengan penafsiran ilmiah terhadap ayat-ayat Al-Quran, membawa kita kepada, paling tidak, tiga hal pula yang perlu digarisbawahi, yaitu (1) Bahasa; (2) Konteks ayat-ayat; dan (3) Sifat penemuan ilmiah.

  1. Bahasa
    Disepakati oleh semua pihak bahwa untuk memahami kandungan Al-Quran dibutuhkan pengetahuan bahasa Arab. Untuk memahami arti suatu kata dalam rangkaian redaksi suatu ayat, seorang terlebih dahulu harus meneliti apa saja pengertian yang dikandung oleh kata tersebut. Kemudian menetapkan arti yang paling tepat setelah memperhatikan segala aspek yang berhubungan dengan ayat tadi.

Dahulu Al-Thabariy (251-310 H), misalnya, menjadikan syair-syair Arab pra-Islam (jahiliah) sebagai salah satu referensi dalam menetapkan arti kata-kata dalam ayat-ayat Al-Quran. Bila apa yang ditempuh Al-Thabariy ini dikaitkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka penafsiran tentang ayat Al-Quran dapat saja sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Atau dengan kata lain, kita –yang hidup pada masa kini– tidak terikat dengan penafsiran mereka yang belum mengenal perkembangan ilmu pengetahuan.
Sebagai contoh, kata ‘alaq (terdapat dalam QS 96:2) tidak mutlak dipahami dengan “darah yang membeku”, karena arti tersebut bukan satu-satunya arti yang dikenal oleh masyarakat Arab pada masa pra-Islam atau masa turunnya Al-Quran. Masih ada lagi arti-arti lain seperti “sesuatu yang bergantung atau berdempet”.
Dari sini, penafsiran kata itu dengan implantasi, seperti apa yang dikemukakan oleh embriolog ketika membicarakan proses kejadian manusia, tidak dapat ditolak.
Muhammad ‘Abduh berpendapat bahwa adalah lebih baik memahami arti kata-kata dalam redaksi satu ayat, dengan memperhatikan penggunaan Al-Quran terhadap kata tersebut dalam berbagai ayat dan kemudian menetapkan arti yang paling tepat dari arti-arti yang digunakan Al-Quran itu.
Metode ini, antara lain, ditempuh oleh Hanafi Ahmad dalam tafsirnya ketika memahami bahwa penggunaan kata dhiya’ untuk matahari dan nur untuk bulan (QS 10:5). Ini mengandung arti bahwa sumber sinar matahari adalah dari dirinya sendiri, sedangkan cahaya bulan bersumber dari sesuatu selain dari dirinya (matahari). Pemahaman ini ditarik dari penelitian terhadap penggunaan kata dhiya’ yang terulang –dalam berbagai bentuknya– sebanyak enam kali dan nur sebanyak lebih kurang 50 kali.
Disamping kedua metode di atas, perlu pula kiranya dipertimbangkan tentang perkembangan arti dari suatu kata. Karena disadari bahwa ketika mendengar atau mengucapkan suatu kata, maka yang tergambar dalam benak kita adalah bentuk material atau yang berhubungan dengan materinya. Namun, dilain segi, bentuk materi tadi dapat mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan ilmu pengetahuan.
Sebagai contoh, kata “lampu” bagi masyarakat tertentu berarti suatu alat penerang yang terdiri dari wadah yang berisi minyak dan sumbu yang dinyalakan dengan api. Namun apa yang tergambar dalam benak kita dewasa ini tentang gambaran material tersebut telah berubah. Yang tergambar dalam benak kita kini adalah listrik.
Kita tidak dapat membenarkan seseorang menafsirkan arti sayyarah (QS 12:10 dan 19; dan 5: 96) dengan mobil. Walaupun demikian, itulah terjemahannya yang secara umum dipakai dewasa ini, karena pada masa lalu, mobil –dalam pengertian kita sekarang– belum ada. Namun, kita dapat membenarkan penafsiran zarrah dalam ayat-ayat Al-Quran, dengan atom karena kata ini menurut Al-Biqa’iy (885 H/ 1480 M), “digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang amat kecil atau ketiadaan.”
Selain aspek yang dikemukakan di atas, aspek-aspek kebahasaan lainnya pun perlu mendapat perhatian. Dr. Mustafa Mahmud, misalnya, ketika menafsirkan surah Al-’Ankabut, ayat 41, mengatakan bahwa yang membuat sarang laba-laba adalah betina laba-laba bukan jantannya. Karena, katanya, ayat tersebut menggunakan kata kerja mu’annats “ittakhadzat” bukan “ittakhadza”
Menurutnya, Al-Quran telah mengisyaratkan bahwa tali-temali yang dihasilkan oleh laba-laba dalam membuat sarangnya bukanlah sesuatu yang rapuh, karena penelitian ilmiah membuktikan bahwa tali-temali tersebut, dalam kadar yang sama, lebih kuat daripada baja atau sutera-sutera alam.
Prof. Dr. ‘Aisyah Abdurrahman binti Al-Syathi’, Guru Besar Studi Ilmu-ilmu Al-Quran Universitas Qarawiyin di Maroko, serta Sastra Bahasa Arab di Universitas Kairo, menanggapi pendapat di atas. Ia menyatakan: “Para pelajar bahasa Arab tingkat pertama mengetahui bahwa bahasa ini menggunakan bentuk mu’annats (feminin) untuk kata al-ankabut (laba-laba), sebagaimana halnya dengan bentuk-bentuk mufrad (tunggal) dari kata-kata: namlah, nihlah, dan dawdah (semut, lebah, dan ulat)”.
Dengan demikian, menurutnya, bentuk mu’annats untuk kata al-’ankabut dalam ayat ini adalah atas pertimbangan bahasa dan tak ada hubungannya sedikit pun dengan biologi. Demikian pula, menetapkan ayat di atas dengan berpendapat bahwa sarang laba-laba lebih kuat daripada baja atau sutera-sutera alam, akan mengakibatkan runtuhnya ungkapan yang dikenal oleh bahasa Al-Quran, bagi sesuatu Yang sangat rapuh yakni sarang laba-laba, sehingga jika penafsiran yang diungkapkan itu benar, maka akan kelirulah redaksi Al-Quran dan kandungannya yang mengatakan bahwa (serapuh-rapuh rumah tempat berlindung adalah sarang laba laba).”
Dari sini dapat dipahami mengapa ulama-ulama Tafsir berkesimpulan bahwa “tidak wajar kita beralih dari pengertian hakiki suatu kata kepada pengertian kiasan (majazi), kecuali bila terdapat tanda-tanda yang jelas yang menghalangi pengertian hakiki tersebut”.
Dengan demikian, kita dapat mentoleransi (walaupun tidak sependapat dengan) para ahli yang memahami ayat 37 surah Fushshilat, atau ayat 33 surah Al-Anbiya; yang berbicara tentang matahari dan bulan, malam dan siang, kemudian menggunakan kata ganti hunna yang berbentuk jamak (plural), bahwa terdapat sekian banyak matahari dan bulan di alam raya. Tetapi, adalah tidak wajar jika kita menetapkan suatu pengertian terhadap satu kata atau ayat terlepas dari konteks kata tersebut dengan redaksi ayat secara keseluruhan dan dengan konteksnya dengan ayat-ayat yang lain.
2. Konteks antara Kata atau Ayat
Memahami pengertian satu kata dalam rangkaian satu ayat tidak dapat dilepaskan dari konteks kata tersebut dengan keseluruhan kata-kata dalam redaksi ayat tadi. Seseorang yang tidak memperhatikan hubungan antara arsalna al-riyah lawaqi’ dengan fa anzalna min aisama’ ma’a (QS 15:22), yakni hubungan antara lawaqi’ dan ma’a akan menerjemahkan dan memahami arti lawaqi’ dengan “mengawinkan (tumbuh-tumbuhan)”. Namun, bila diperhatikan dengan seksama bahwa kata tersebut berhubungan dengan kalimat berikutnya, maka hubungan sebab dan akibat atau hubungan kronologis yang dipahami dari huruf fa pada fa anzalna tentunya pengertian “mengawinkan tumbuh-tumbuhan”, melalui argumentasi tersebut, tidak akan dibenarkan. Karena, tidak ada hubungan sebab dan akibat antara perkawinan tumbuh-tumbuhan dengan turunnya hujan –juga “jika pengertian itu yang dikandung oleh arti fa anzalna min al-sama’ ma’a”, maka tentunya lanjutan ayat tadi adalah “maka tumbuhlah tumbuh-tumbuhan dan siaplah buahnya untuk dimakan manusia”.
Demikian pula hubungan antara satu ayat dengan ayat yang lain.
Sebelum dinyatakan bahwa ayat 88 surah Al-Naml, … dan engkau lihat gunung-gunung itu kamu sangka tetap pada tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan …, mengemukakan tentang “teori gerakan bumi, baik mengenai peredarannya mengelilingi matahari maupun gerakan lapisan pada perut bumi”, terlebih dahulu harus dipahami konteks ayat ini dengan ayat-ayat sebelum dan ayat-ayat sesudahnya dan dibuktikan bahwa keadaan yang dibicarakan adalah keadaan di bumi kita sekarang ini, bukan kelak di hari kemudian.
Ada yang menyatakan bahwa ayat 33 surah Al-Rahman telah mengisyaratkan kemampuan manusia menjelajahi angkasa luar. Tapi dengan memperhatikan konteksnya dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, khususnya dengan ayat 35, Kepada kamu (Jin dan Manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga, maka kamu tidak akan dapat menyelamatkan diri, maka pemahamannya itu hendaknya ditinjau kembali agar ia tidak terperangkap oleh suatu kemungkinan tuduhan adanya kontradiksi antara dua ayat: ayat 33, berbicara tentang kemampuan manusia menjelajahi angkasa luar, sedangkan ayat 35, menegaskan ketidakmampuannya.
Disamping memperhatikan konteks ayat dari segi kata demi kata, ayat demi ayat, maka pemahaman atau penafsiran ayat-ayat Al-Quran yang berhubungan dengan satu cabang ilmu pengetahuan –bahkan semua ayat yang berbicara tentang suatu masalah dari berbagai disiplin ilmu– hendaknya ditinjau dengan metode mawdhu’iy, yaitu dengan jalan menghimpun ayat-ayat Al-Quran yang membahas masalah yang sama, kemudian merangkaikan satu dengan yang lainnya, hingga pada akhirnya dapat diambil kesimpulan-kesimpulan yang jelas tentang pandangan atau pendapat Al-Quran tentang masalah yang dibahas itu.
3. Sifat Penemuan Ilmiah
Seperti telah dikemukakan di atas bahwa hasil pemikiran seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain, perkembangan ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalamannya. Perkembangan ilmu pengetahuan sudah sedemikian pesatnya, sehingga dari faktor ini saja pemahaman terhadap redaksi Al-Quran dapat berbeda-beda.
Namun perlu kiranya digarisbawahi bahwa apa yang dipersembahkan oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu, sangat bervariasi dari segi kebenarannya. Nah, bertitik tolak dari prinsip “larangan menafsirkan Al-Quran secara spekulatif”, maka penemuan-penemuan ilmiah yang belum mapan tidak dapat dijadikan dasar dalam menafsirkan Al-Quran.
Seseorang bahkan tidak dapat mengatasnamakan Al-Quran terhadap perincian penemuan ilmiah yang tidak dikandung oleh redaksi ayat-ayatnya, karena Al-Quran –seperti yang telah dikemukakan dalam pembahasan semula– tidak memerinci seluruh ilmu pengetahuan, walaupun ada yang berpendapat bahwa Al-Quran mengandung pokok-pokok segala macam ilmu pengetahuan.
Ayat 30 surat Al-Anbiya’, yang menjelaskan bahwa langit dan bumi pada suatu ketika merupakan suatu gumpalan kemudian dipisahkan Tuhan, merupakan suatu hakikat ilmiah yang tidak diketahui pada masa turunnya Al-Quran oleh masyarakatnya. Tetapi ayat ini tidak memerinci kapan dan bagaimana terjadinya hal tersebut.
Setiap orang bebas dan berhak untuk menyatakan pendapatnya tentang “kapan dan bagaimana”, tetapi ia tidak berhak untuk mengatasnamakan Al-Quran dalam kaitannya dengan pendapatnya jika pendapat tadi melebihi kandungan redaksi ayat-ayat tersebut. Tetapi, hal ini bukan berarti bahwa seseorang dihalangi untuk memahami arti suatu ayat sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Hanya selama pemahaman tersebut sejalan dengan prinsip ilmu tafsir yang telah disepakati, maka tak ada persoalan.
Dahulu, misalnya, ada ulama yang memahami arti sab’ samawat (tujuh langit) dengan tujuh planet yang mengedari tata surya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan ketika itu. Pemahaman semacam ini, ketika itu, dapat diterima. “Ini adalah suatu ijtihad yang baik yang merupakan pendapat seseorang, selama dia tidak mewajibkan dirinya mempercayai hal tersebut sebagai suatu i’tiqad (kepercayaan) dan tidak pula mewajibkan kepercayaan tersebut kepada orang lain.”
Pemahaman semacam ini tidak dapat dinamakan “tafsir”, tetapi lebih mirip untuk dinamai tathbiq (penerapan).
Penutup
Melihat kompleksnya permasalahan Al-Quran dan ilmu pengetahuan, dimana dibutuhkan pengetahuan bahasa dengan segala cabang-cabangnya serta pengetahuan menyangkut berbagai bidang ilmu pengetahuan yang diungkapkan oleh ayat-ayat Al-Quran, maka sudah pada tempatnya jika pemahaman dan penafsirannya tidak hanya dimonopoli oleh sekelompok atau seorang ahli dalam suatu bidang tertentu saja. Tetapi hendaknya merupakan usaha bersama dari berbagai ahli dalam pelbagai bidang lain .

syahdan05.multiply.com/reviews


  1. Pengertian wahyu / الــــوحي

Secara bahasa kata “wahyu” berarti “isyarat yang cepat, surat, tulisan, dan segala sesuatu yang disampaikan kepada orang lain untuk diketahui.[10]

Dalam Alquran, kata wahy (الوحي) , digunakan dalam bentuk الإيحاء dan dipakai dalam berbagai macam pengertian. Di antaranya:

  • Ilham Fithriah bagi manusia:

Artinya: Dan Kami wahyukan (berikan ilham) kepada ibu Musa agar ia menyusuinya …[Q.S. Al-Qashash/28: 7].

- Instink bagi hewan :

Artinya: Dan Tuhanmu telah mewahyukan (memberikan instink) kepada lebah, “buatlah sarang-sarang di bukit-bukit dan di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibuat oleh manusia [Q.S. Al-Nahl/16: 68].

- Isyarat :

Artinya: Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia wahyukan (memberi isyarat) kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang [Maryam/19: 11].

- Bisikan/rayuan syeithan :

Artinya: Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan [Q. S. Al-An’am/6: 112]

Demikian arti kata wahyu menurut penggunaannya dalam Alquran. Sedangkan kata wahy menurut istilah, sebagaimana dikemukakan oleh Muhammad Abduh, ialah “pengetahuan yang didapat seseorang di dalam dirinya serta diyakini bahwa pengetahuan tersebut datangnya dari Allah, baik dengan perantaraan, dengan suara atau tanpa suara, maupun tanpa perantaraan”.[11] Jika definisi ini dipadukan dengan pengertian wahyu menurut bahasa atau yang digunakan oleh Alquran sendiri, maka secara definitif, wahyu dapat diartikan sebagai “Pemberitahuan Tuhan kepada nabi/rasul-Nya tentang hukum-hukum Tuhan, berita-berita dan cerita-cerita dengan cara yang samar tetapi meyakinkan, bahwa apa yang diterimanya benar-benar dari Tuhan. Pemberitahuan tersebut bersifat ghaib, rahasia dan berlangsung sangat cepat.

Pengertian demikian ini juga digunakan dalam Alquran, antara lain pada ayat :

Artinya: Sesungguhnya Kami Telah memberikan wahyu kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami juga telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang sesudahny;, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman, dan Kami berikan Zabur kepada Daud [Q. S. Al-Nisa’/4: 163]

Sedangkan proses penyampaiannya yang kadangkala secara langsung dan kadangkala melalui perantara, diungkapkan dalam Alquran surat al-Syura/42: 51 sebagai berikut:

  1. Artinya: Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir (secara langsung) atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana [Q.S. Al-Syura/42: 51]..

E. Macam-macam wahyu

Berkaitan dengan wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad, maka segala sesuatu yang disampaikan beliau kepada umatnya dalam kapasitas beliau sebagai rasul, adalah wahyu. Karena apa yang disampaikannya tidaklah lahir dari keinginan pribadinya, melainkan berupa wahyu yang diterimanya dari Allah. Seperti dalam firman-Nya:

$tBur ß,ÏÜZtƒ Ç`tã #“uqolù;$# ÇÌÈ ÷bÎ) uqèd žwÎ) ÖÓórur 4ÓyrqムÇÍÈ

Artinya: Dan dia (Muhammad) tidak memngucapkan sesuatu yang keluar dari hawa nafsunya, melainkan (apa yang diucapkannya) adalah wahyu yang diwahyukan Tuhan [Al-Najm/53: 3 – 4].

Sungguhpun redaksi ayat ini bersifat umum, mencakup apa saja — ajaran — yang disampaikan/diucapkan oleh Muhammad, namun dalam realitasnya harus dibatasi pada hal-hal yang bersifat ilahiyah, yang menempatkan Muhammad sebagai utusan Allah[12].

Ajaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad kepada umatnya dideskripsikan dalam tiga macam bentuk wahyu, yaitu: Alquran, Hadits Qudsi dan Hadits Nabawi. Perbandingan antara ketiga macam wahyu ini dapat ditabulasikan sebagai berikut:

ALQURAN HADITS QUDSI HADITS NABAWI
Redaksi bahasa dan mak-nanya dari Allah Maknanya dari Allah, redaksi bahasanya disusun sendiri oleh Nabi dengan menis-batkannya kepada Allah. Maknanya dari Allah, sedangkan redaksinya disusun sendiri oleh Nabi tanpa menisbatkan-nya kepada Allah
Keabsahan-nya sebagai

wahyu Allah bersifat mutlaq (قطعيّ الورود)

Keabsahannya sebagai wahyu Allah ada yang

bersifat mutlaq (قطعيّ الورود) dan ada yang relatif (ظنيّ الورود)

Keabsahannya sebagai wahyu Allah ada yang bersifat mutlaq (قطعيّ الورود) dan ada yang tidak mutlaq (ظنيّ الورود)

F. Perbedaan Wahyu, Ilham dan Ta’lim

Ketiga istilah ini memiliki kesamaan, bahwa semuanya sama-sama menunjukkan pengetahuan yang bersumber dari Allah Swt. Perbedaannya adalah, wahyu hanya diperuntukkan bagi orang-orang tertentu yang dipilih oleh Allah, yaitu para Nabi dan Rasul; sedangkan ilham dan ta’lim (ilmu) diberikan oleh Allah kepada semua manusia.

Pengertian ilham, menurut pendapat sebagian ulama, sebagaimana dikemukakan oleh Hasbi Ash-Shiddieqie, ialah “menuangkan suatu pengetahuan kedalam jiwa yang menuntut penerimanya supaya mengerjakannya, tanpa didahului dengan ijtihad dan penyelidikan hujjah-hujjah agama”.[13] Sejalan dengan pendapat ini, Al-Jurjani dalam Kitāb At-Ta’rīfāt mendefinisikan, bahwa ilham ialah “sesuatu yang dilimpahkan ke dalam jiwa dengan cara pemancaran, ia merupakan ilmu yang ada di dalam hati/jiwa, dan dengannya seseorang tergerak untuk melakukan sesuatu tanpa didahului dengan pemikiran”.[14]

Ilham dalam pengertian ini hampir sama dengan pengertian instink yang dikenal dalam dunia Psikologi, yaitu “pola tingkahlaku yang merupakan karakteristik-karakteristik spesi tertentu; tingkahlaku yang diwariskan dan dilakukan secara berulang-ulang yang merupakan khas spesi tertentu. Bahkan menurut Sigmund Freud, ia merupakan sumber energi atau dorongan primal yang tidak dapat dipecahkan. Lebih lanjut Freud menambahkan, instink itu terbagi dua: instink kehidupan (Eros) dan instink Kematian (Tahanatos)”.[15]

Dua macam instink (ilham) yang terdapat dalam jiwa setiap manusia juga diungkapkan dalam Aquran dengan sebutan Fujur dan Taqwa. Sebagaimana termaktub dalam Alquran, surat Al-Syams/91: 8,

Artinya: Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaannya (Q. S. al-Syams/91: 8).

Dua macam instink yang disebutkan dalam ayat di atas adalah instink atau kecendrungan untuk berbuat buruk (Fujur) dan instink atau kecendrungan untuk berbuat baik (Taqwa). Kedua macam instink ini bersifat potensial. Artinya, setiap manusia memiliki potensi untuk berbuat baik dan berbuat buruk. Karena sifatnya yang potensial, maka aktualisasi instink ini tergantung pada kecendrungan/kemauan manusia untuk mengaktualkan instink mana dari kedua instink tersebut. Jika seorang manusia memiliki kecendrungan untuk mengaktualkan instink keburukan (fujur), maka yang akan dominan dalam dirinya adalah sifat kejahatan; sehingga jadilah dia sebagai penjahat, pengingkar terhadap perintah dan larangan Allah. Demikian pula sebaliknya, jika instink kebaikan yang dikembangkan/diaktualkan, maka jadilah dia sebagai manusia yang baik, patuh terhadap perintah dan larangan Allah.

Dari pengertian ini dapat disimpulkan, bahwa perbedaan antara kedua istilah yang disebutkan terakhir (ilham dan ta’lim) terletak pada proses/cara memperolehnya. Ilham hanya dapat diperoleh atas kehendak Allah, tanpa usaha manusia; sedangkan ta’lim (ilmu) harus melalui usaha manusia; kecuali ilmu ladunniy yang dalam pandangan ahli tasawwuf proses perolehannya sama dengan ilham.


[1] Abdul ‘Azhim Az-Zarqani, مناهل العرفان في علوم القرآن , Daar al-Fikr, Beirut, 1988, Juz I, hal. 14; Bandingkan dengan Rosihon Anwar, hal. 29; Masjfuk Zuhdi, hal. 2.

[2] Badruddin Muhammad Bin Abdullah Al-Zarkasyi, Al-Burhan Fi ‘Ulum al-Qur’an, Isa al-Baby al-Halaby, Kaero, 1957, Juz I, hal. 278

[3] Dr. Fahd bin Abdurrahman Ar-Rumi, دراسات في علوم القرآن (ULUMUL-QUR’AN: Studi Kompleksitas Alquran), Alih Bahasa Amirul Hasan & Muhammad Halabi, Titian Ilahi Press, Yogyakarta, Cet. I, 1997, hal. 38

[4] Abdul ‘Azhim Az-Zarqani, op. cit, Juz I, hal. 19

[5] Mutawatir adalah proses penyampaian informasi yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta atau melakukan manipulasi.

[6] Imam Muhyiddin An-Nawawi, Riyadhush-Shalihin, Alih Bahasa Salim Bahreisy, PT. Al-Ma’arif, Bandung, Cet. V, 1979, hal. 126

[7]Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, Universitas Indonesia, Jakarta, 1986: 27 – 34

[8] Muhammad Mushthafa Al-Maraghy, Tafsir al-Maraghy, Daar al-Fikr, Beirut, 2001, Juz I, hal. 17

[9] Fachruddin Ar-Razy, Tafsir Mafatih al-Ghaib, Daar al-Fikr, Beirut, 1425H, Juz I., hal. 123

[10]Prof. Dr. M. Qureish Shihab, et.al. SEJARAH & ULUM AL-QURAN, Pustaka Firdaus, Jakarta, Cet. II, 2000, hal. 48

[11] Ibid. Dikutip dari Muhammad Abduh, Risalah al-Tauhid, Daar al-Syuruq, Beirut, 1994, hal. 101

[12] Salah satu contoh ucapan Muhammad yang disampaikan dalam kapasitasnya sebagai manusia biasa, bukan sebagai utusan Allah, adalah ketika akan terjadi perang Khandaq. Muhammad menginstruksikan kepada prajuritnya untuk membuat pertahanan di dalam kota. Namun instruksi ini dipertanyakan oleh salah seorang tentaranya, dengan berkata: “Ya Rasulallah, apakah instruksi ini merupakan wahyu dari Allah?” Muhammad menjawab, “Bukan”. Lalu tentara tadi mengusulkan agar pertahanan dilakukan di luar kota, karena kalau bertahan di dalam kota, walaupun menang dalam peperangan tetapi akan menyebabkan hancurnya kota. Karena itu dibuatlah parit (Khandaq) sebagai benteng pertahanan di luar kota.

[13] Prof. Dr. TM. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Alquran/Tafsr, Bulan Bintang, Jakarta, 1980, hl. 29 – 31.

[14] Al-Jurjani, Kitab al-Ta’rifat, Al-Haramain, Singapore, t.t., 34

[15] Dali Gulo, Kamus Psychologi, Tonis, Bandung, 1982, hal. 123


Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Utsman

Semakin meluasnya daerah kekuasaan islam pada masa Utsman membuat perbedaan yang cukup mendasar dibandingkan dengan pada masa Abu Bakar

Latar belakang pengumpulan Al-Qur’an di masa Utsman r.a. adalah karena beberapa faktor lain yang berbeda dengan faktor yang ada pada masa Abu Bakar. Daerah kekuasaan Islam pada masa Utsman telah meluas, orang-orang Islam telah terpencar di berbagai daerah dan kota. Di setiap daerah telah populer bacaan sahabat yang mengajar mereka.

Penduduk Syam membaca Al-Qur’an mengikuti bacaan Ubay ibnu Ka’ab, penduduk Kufah mengikuti bacaan Abdullah Ibnu Mas’ud, dan sebagian yang lain mengikuti bacaan Abu Musa al-Asy’ari. Diantara mereka terdapat perbedaan tentang bunyi huruf, dan bentuk bacaan. Masalah ini membawa mereka kepada pintu pertikaian dan perpecahan sesamanya. Hampir satu sama lainnya saling kufur-mengkufurkan karena berbeda pendapat dalam bacaan.

Diriwayatkan dari Abi Qilabah bahwasanya ia berkata: “Pada masa pemerintahan Utsman guru-pengajar menyampaikan kepada anak didiknya, guru yang lain juga menyampaikan kepada anak didiknya. Dua kelompok murid tersebut bertemu dan bacaannya berbeda, akhirnya masalah tersebut sampai kepada guru/pengajar sehingga satu sama lain saling mengkufurkan. Berita tersebut sampai kepada Utsman. Utsman berpidato dan seraya mengatakan: “Kalian yang ada di hadapanku berbeda pendapat, apalagi orang-orang yang bertempat tinggal jauh dariku pasti lebih-lebih lagi perbedaannya”.

Karena latar belakang dari kejadian tersebut Utsman dengan kehebatan pendapatnya dan kebenaran pandangannya ia berpendapat untuk melakukan tindakan prefentip menambal pakaian yang sobek sebelum sobeknya meluas dan mencegah penyakit sebelum sulit mendapat pengobatannya. Ia mengumpulkan sahabat-sababat yang terkemuka dan cerdik cendekiawan untuk bermusyawarah dalam menanggulangi fitnah (perpecahan) dan perselisihan.

Mereka semua sependapat agar Amirul Mu’minin menyalin dan memperbanyak mushhaf kemudian mengirimkannya ke segenap daerah dan kota dan selanjutnya menginstruksikan agar orang-orang membakar mushhaf yang lainnya sehingga tidak ada lagi jalan yang membawa kepada pertikaian dan perselisihan dalam hal bacaan Al-Qur’an.

Sahabat Utsman melaksanakan keputusan yang sungguh bijaksana tadi, ia menugaskan kepada empat orang sahabat pilihan, lagi pula hafalannya dapat diandalkan. Mereka tersebut adalab Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said Ibnu al-’Asb dan Abdurrahman Ibnu Hisyam. Mereka semua dari suku Quraisy golongan muhajirin kecuali Zaid Ibnu Tsabit, dimana ia adalah dari kaum Anshar. Pelaksanaan gagasan yang mulia ini adalah pada tahun kedua puluh empat hijrah.

Utsman mengatakan kepada mereka: “Bila anda sekalian ada perselisihan pendapat tentang bacaan, maka tulislah berdasarkan bahasa Quraisy, karena Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Quraisy”. Utsman meminta kepada Hafsah binti Umar agar ia sudi menyerahkan mushhaf yang ada padanya sebagai hasil dari jasa yang telah dikumpulkan Abu Bakar, untuk ditulis dan diperbanyak. Dan setelah selesai akan dikembalikan lagi, Hafsah mengabulkannya.

Motif Utsman mengumpulkan Al-Qur’an

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas Ibnu Malik bahwasanya ia berkata:

“Sesungguhnya Hudzaifah Ibnu al-Yaman datang kepada Utsman, ketika itu, penduduk Syam bersama-sama dengan penduduk Irak sedang berperang menaklukkan daerah Armenia dan Adzerbaijan. Tiba-tiba Hudzaifah merasa tercengang karena penyebabnya adalah faktor perbedaan dalam bacaan. Hudzaifah berkata kepada Utsman: “Ya Amirul Mu’minin perhatikanlah umat ini sebelum mereka terlibat dalam perselisihan dalam masalah Kitab sebagaimana perselisihan diantara kaum Yahudi dan Nasrani”.

Selanjutnya Utsman mengirim surat kepada Hafsah yang isinya:

“Kirimlah kepada kami lembaran-lembaran yang bertuliskan Al-Qur’an kami akan menyalinnya dalam bentuk mushhaf dan setelah selesai akan kami kembalikan lagi kepada anda”. Kemudian Hafsah mengirimkannya kepada Utsman. Utsman memerintahkan kepada Zaid ibnu Tsabit, Abdullah ibnu Zubair, Said ibnu al-’Ash dan Abdurrahman ibnu al-Harits ibnu Hisyam lalu mereka menyalinnya dalam mushhaf.

Utsman berpesan kepada ketiga kaum Quraisy: “Bila anda bertiga dan Zaid ibnu Tsabit berbeda pendapat tentang hal Al-Qur’an maka tulislah dengan ucapan/lisan Quraisy karena Al-Qur’an diturunkan dengan lisan Quraisy”.

Setelah mereka selesai menyalin ke dalam beberapa mushhaf, Utsman mengembalikan lembaran/mushhaf asli kepada Hafsah. Selanjutnya ia menyebarkan mushhaf yang baru tersebut ke seluruh daerah dan ia memerintahkan agar semua bentuk lembaran/mushhaf yang lain dibakar.(HR. al-Bukhari).

Perbedaan antara Mushhaf Abu Bakar dan Mushhaf Utsman

Perbedaan antara pengumpulan (mushhaf) Abu Bakar dan Utsman sebagaimana kami kemukakan di atas dapat kami ketahui dan kami tandai dari masing-masingnya.

Pengumpulan mushhaf pada masa Abu Bakar adalah bentuk pemindahan dan penulisan Al-Qur’an ke dalam satu mushhaf yang ayat-ayatnya sudah tersusun, berasal dari tulisan yang terkumpul pada kepingan-kepingan batu, pelepah kurma dan kulit-kulit binatang. Adapun latar belakangnya karena banyaknya huffazh yang gugur. sedangkan pengumpulan mushhaf pada masa Utsman adalah menyalin kembali yang telah tersusun pada masa Abu Bakar, dengan tujuan untuk dikirimkan ke seluruh negara Islam. Latar belakangnya adalah disebabkan karena adanya perbedaan dalam hal membaca Al-Qur’an. Wallâhu a’lam wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ Muhammad wa âlihî washahbihî wa sallam.

Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Nabi

Masa pengumpulan Al-Qur’an dengan menggunakan dua kategori, yaitu: (1) pengumpulan dalam dada, dan (2) dalam dokumen/catatan

Pengumpulan Al-Qur’anul Karim terbagi dalam dua periode:
(1) Periode Nabi SAW.
(2) Periode Khulafaur Rasyidin.

Masing-masing periode tersebut mempunyai beberapa ciri dan keistimewaan.

Istilah pengumpulan kadang-kadang dimaksudkan dengan penghafalan dalam hati, dan kadang-kadang pula dimaksudkan dengan penulisan dan pencatatan dalam lembaran-lembaran.

Pengumpulan Al-Qur’an di masa Nabi ada dua kategori:
(1) Pengumpulan dalam dada berupa penghafalan dan penghayatan/pengekspresian, dan
(2) Pengumpulan dalam dokumen atau catatan berupa penulisan pada kitab maupun berupa ukiran.

Kami akan menjelaskan keduanya secara terurai dan mendetail agar nampak bagi kita suatu perhatian yang mendalam terhadap Al-Qur’an dan penulisannya serta pembukuannya. Langkah-langkah semacam ini tidak terjadi pada kitab-kitab samawy lainnya sebagaimana halnya perhatian terhadap Al-Qur’an, sebagai kitab yang maha agung dan mu’jizat Muhammad yang abadi.

Pengumpulan Al-Qur’an dalam dada.

Al-Qur’anul Karim turun kepada Nabi yang ummy (tidak bisa baca-tulis). Karena itu perhatian Nabi hanyalah dituangkan untuk sekedar menghafal dan menghayatinya, agar ia dapat menguasai Al-Qur’an persis sebagaimana halnya Al-Qur’an yang diturunkan. Setelah itu ia membacakannya kepada orang-orang dengan begitu terang agar merekapun dapat menghafal dan memantapkannya. Yang jelas adalah bahwa Nabi seorang yang ummy dan diutus Allah di kalangan orang-orang yang ummy pula, Allah berfirman:

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dengan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. (Al-Jumu’ah: 2)

Biasanya orang-orang yang ummy itu hanya mengandalkan kekuatan hafalan dan ingatannya, karena mereka tidak bisa membaca dan menulis. Memang bangsa Arab pada masa turunnya Al-Qur’an, mereka berada dalam budaya Arab yang begitu tinggi, ingatan mereka sangat kuat dan hafalannya cepat serta daya fikirnya begitu terbuka.

Orang-orang Arab banyak yang hafal beratus-ratus ribu syair dan mengetahui silsilah serta nasab keturunannya. Mereka dapat mengungkapkannya di luar kepada, dan mengetahui sejarahnya. Jarang sekali diantara mereka yang tidak bisa mengungkapkan silsilah dan nasab tersebut atau tidak hafal Al-Muallaqatul Asyar yang begitu banyak syairnya lagi pula sulit dalam menghafalnya.

Begitu Al-Qur’an datang kepada mereka dengan jelas, tegas ketentuannya dan kekuasaannya yang luhur, mereka merasa kagum, akal fikiran mereka tertimpa dengan Al-Qur’an, sehingga perhatiannya dicurahkan kepada Al-Qur’an. Mereka menghafalnya ayat demi ayat dan surat demi surat. Mereka tinggalkan syair-syair karena merasa memperoleh ruh/jiwa dari Al-Qur’an.

Pegumpulan dalam bentuk tulisan.

Keistimewaan yang kedua dari Al-Qur’anul Karim ialah pengumpulan dan penulisannya dalam lembaran. Rasulullah SAW mempunyai beberapa orang sekretaris wahyu. Setiap turun ayat Al-Qur’an beliau memerintahkan kepada mereka menulisnya, untuk memperkuat catatan dan dokumentasi dalam kehati-hatian beliau terhadap kitab Allah ‘Azza Wa Jalla, sehingga penulisan tesebut dapat melahirkan hafalan dan memperkuat ingatan.

Penulis-penulis tersebut adalah sahabat pilihan yang dipilih oleh Rasul dari kalangan orang yang terbaik dan indah tulisannya agar mereka dapat mengemban tugas yang mulia ini. Diantara mereka adalah Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab; Muadz bin Jabal, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Khulafaur Rasyidin dan Sahabat-sahabat lain.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas r.a. bahwasanya ia berkata: “Al-Qur’an dikumpulkan pada masa Rasul SAW oleh 4 (empat) orang yang kesemuanya dari kaum Anshar; Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid. Anas ditanya: “Siapa ayah Zaid?” Ia menjawab: “Salah seorang pamanku”.

Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Abu Bakar

Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah setelah beliau selesai menyampaikan risalah dan amanah, menasehati ummat serta memberi petunjuk. pada agama yang lurus. Setelah beliau wafat kekuasaan dipegang oleh Abu Bakar Siddik ra

Pada masa pemerintahannya Abu Bakar banyak menghadapi malapetaka, berbagai kesulitan dan problem yang rumit, diantaranya memerangi orang-orang yang murtad (keluar dari agama Islam) yang ada di kalangan orang Islam, memerangi pengikut Musailamah al-Kadzdzab.

Peperangan Yamamah adalah suatu peperangan yang amat dahsyat. Banyak kalangan sahabat yang hafal Al-Qur’an dan ahli bacanya mati syahid yang jumlahnya lebih dari 70 orang huffazh ternama. Oleh karenanya kaum muslimin menjadi bingung dan khawatir. Umar sendiri merasa prihatin lalu beliau menemui Abu Bakar yang sedang dalam keadaan sedih dan sakit. Umar mengajukan usul (bermusyawarah dengannya) supaya mengumpulkan Al-Qur’an karena khawatir lenyap dengan banyaknya khufazh yang gugur, Abu Bakar pertama kali merasa ragu.

Setelah dijelaskan oleh Umar tentang nilai-nilai positipnya ia memandang baik untuk menerima usul dari Umar. Dan Allah melapangkan dada Abu Bakar untuk melaksanakan tugas yang mulia tersebut, ia mengutus Zaid bin Tsabit dan mengajukan persoalannya, serta menyuruhnya agar segera menangani dan mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushhaf. Mula pertama Zaid pun merasa ragu, kemudian iapun dilapangkan Allah dadanya sebagaimana halnya Allah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar.

Al-Bukhari telah meriwayatkan dalam shahihnya tentang kisah pengumpulan ini. Karena pentingnya maka di sini kami menukilnya sebagai berikut:

“Dari Zaid bin Tsabit r.a. bahwa ia berkata: “Abu Bakar mengirimkan berita kepadaku tentang korban pertempuran Yamamah, setelah orang yang hafal Al-Qur’an sejumlah 70 orang gugur. Kala itu Umar berada di samping Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar mengatakan “Umar telah datang kepadaku dan ia mengatakan: “Sesungguhnya pertumpahan darah pada pertempuran Yamamah banyak mengancam terhadap para penghafal Al-Qur’an. Aku khawatir kalau pembunuhan terhadap para penghafal Al-Qur’an terus-menerus terjadi di setiap pertempuran, akan mengakibatkan banyak Al-Qur’an yang hilang. Saya berpendapat agar anda memerintahkan seseorang untuk mengumpulkan Al-Qur’an”. Aku (Abu Bakar) menjawab: “Bagaimana aku harus melakukan suatu perbuatan sedang Rasul SAW tidak pernah melakukannya?”. Umar r.a. menjawab: “Demi Allah perbuatan tersebut adalah baik”. Dan ia berulangkali mengucapkannya sehingga Allah melapangkan dadaku sebagaimana ia melapangkan dada Umar. Dalam hal itu aku sependapat dengan pendapat Umar.

Zaid berkata: Abu Bakar mengatakan: “Anda adalah seorang pemuda yang tangkas, aku tidak meragukan kemampuan anda. Anda adalah penulis wahyu dari Rasulullah SAW. Oleh karena itu telitilah Al-Our’an dan kumpulkanlah….!” Zaid menjawab: “Demi Allah andaikata aku dibebani tugas untuk memindahkan gunung tidaklah akan berat bagiku jika dibandingkan dengan tugas yang dibebankan kepadaku ini”.

Saya mengatakan: “Bagaimana anda berdua akan melakukan pekerjaan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasululah SAW?”. Abu Bakar menjawab: “Demi Allah hal ini adalah baik”, dan ia mengulanginya berulangkali sampai aku dilapangkan dada oleh Allah SWT sebagaimana ia telah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar.

Selanjutnya aku meneliti dan mengumpulkan Al-Qur’an dari kepingan batu, pelepah kurma dan dari sahabat-sahabat yang hafal Al-Qur’an, sampai akhirnya aku mendapatkan akhir surat At-Taubah dari Abu Khuzaimah Al-Anshary yang tidak terdapat pada lainnya (yaitu):

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat baginya apa yang kamu rasakan, ia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan) maka katakanlah: Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung. (At-Taubah: 128-129).

Lembaran-lembaran tersebut disimpan pada Abu Bakar sampai ia wafat Kemudian (diserahkan) kepada Umar sampai wafat dan kemudian disimpan di rumah Hafsah binti Umar

Riwayat ini menyatakan tentang sebab pengumpulan Al-Qur’an.


ULUMUL QURAN

Sejarah Turun dan Penulisan Al-Quran
a. Pengertian Al-quran
1. Secara Etimologi
Secara etimimologi menurut para ulama, al-quran berasal dari beberapa kata, diantaranya : – Berasal dari kata “qara’a” yang berarti membaca.
- Berasal dari kata “al-qar” yang berarti menghimpun.
- Berasal dari kata “qarana” yang berarti menyertakan.
- Berasal dari kata “qara’in” yang berarti penguat
2. Secara Terminologi
- Menurut Manna Al-Qaththan : “kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan membacanya memperoleh pahala”.
- Menurut Al-Jurjani : “yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, yang dituli di dalam mushaf dan yang diriwayatkan secara mutawatir tanpa keraguan.”
- Menurut Abu Syahbah : “kitab Allah yang diturunkan baik lafazh maupun maknanya kepada nabi terakhir, Muhammad SAW yang diriwayatkan secara mutawatir, yakni dengan penuh kepastian dan keyakinan (akan kesesuainnya dengan apa yang diturunkanya kepada Muhammad), yang ditulis pada mushaf mulai surat AL-fatihah sampai surat An-nas.
- Menurut kalangan pakar ushul fiqih, fiqih dan bahasa arab : “Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-nya, Muhammad, yang lafazh-lafazhnya mengandung mukjizat, membacanya mempunyai nilai ibadah, diturunkan secara mutawatir, dan dituli pada mushaf, mulai dari surat Al-fatihah sampai surat An-Nas
b. Proses turunya Al-quran kepada Nabi Muhammad SAW.
Proses turunya Al-quran kepada Nabi Muhammad SAW adalah melalui tiga tahapan, yaitu :
- Pertama, Al-quran turun secara sekaligus dari Allah ke lauh al-mahfuzh, yaitu suatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan kepastian Allah.
- Tahap kedua, Al-quran diturunkan dari lauh al-mahfuzh itu ke bait al-izzah (tempat yang berada di langit dunia)
- Tahap ketiga, Al-quran diturunkan dari bait al-izzah ke dalam hati Nabi Muhammad dengan jalan berngsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Adakalanya satu ayat, dua ayat, bahkan satu surat.
c. Hikmah Al-quran diturunkan secara berangsur-angsur.
1. Memantapkan hati Nabi Muhammad SAW.
2. Menentang dan melemahkan para penentang Al-quran.
3. Memudahkan untuk dihapal dan dipahami.
4. Mengikuti setiap kejadian (yang karenanya ayat-ayat Al-quran turun) dan melakukan pentahapan dalam penetapan syari`at.
5. Membuktikan dengan pasti bahwa al-quran turun dari Allah SAT yang maha bijaksana.
d. Pengumpulan Al-quran
- Proses penghapalan Al-quran
- Proses penulisan Al-quran
1. Pada masa Nabi Muhammad SAW
2. Pada Masa Khulafa’Ar-rasyidin
a. Pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq
b. Pada masa ‘Utsman bin Affan
3. Penyempurnaan penulisan Al-quran setelah masa khalifah
e. Pengertian Rasm Al-Quran
Rasm Al-quran adalah tata cara menulis Al-Quran yang ditetapkan pada masa khalifah
Utsman bin Affan. Istilah yang terakhir lahir bersamaan dengan lahirnya mushaf utsman, yaitu mushaf yang ditulis panitia empat yang terdiri dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Al-Ash, dan Abdurrahman bin Al-Harist. Mushaf Utsman ditulis dengan kaidah-kaidah tertentu. Para ulama meringkas kaidah-kaidah itu menjadi enam istilah, yaitu :
a. Al-hadzf (membuang, menghilangkan, atau meniadakan huruf)
b. Al-Jidayah (penambahan)
c. Al-Hamzah
d. Badal (penggantian)
e. Washal (penyambungan dan pemisahan)
f. Kata yang dapat dibaca dua bunyi.
f. Pendapat para ulama sekitar Ras Al-quran
1. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa Rasm Utsmani bersifat tauqifi
2. Sebagian ulama berpendapat bahwa Rasm utsmani bukan tauqifi tetapi merupakan kesepakatan cara penulisan (ishthilahi) yang disetujui utsman dan diterima umat, sehingga wajib diikuti dan ditaati siapapun ketika menulis Al-quran.

3. Asbabul An-Nuzul
a. Pengertian Asbab An-Nuzul
1. Secara etimologi
Ungkapan asbab An-Nuzul merupakan bentuk idhafah dari kata “asbab” dan “nuzul”. Secara etimologi, asbab An-Nuzul adalah sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu. Meskipun segala fenomena yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu bisa disebut asbab An-Nuzul, namun dalam pemakaiannya, ungkapan asbab An-Nuzul khusus dipergunakan untuk menyatakan sebab-sebab yang melatarbelakangi turunya Al-Quran, seperti halnya asbab al-wurud yang secara khusus digunakan bagi sebab-sebab terjadinya hadist.
2. Secara terminologi
- Menurut Az-Zaqrani
Asbab An-Nuzul adalah khusus atau sesuatu yang terjadi serta ada hubunganya dengan turunya ayat Al-Quran sebagai penjelas hukum pada saat peristiwa itu terjadi.
- Ash-Shabumi
Asbab An-Nuzul adalah peristiwa atau kejadian yang menyebabkan turunnya satu atau beberapa ayat mulia yang berhubungan dengan peristiwa dan kejadian tersebut, baik berupa pertanyaan yang diajukan kepada nabi atau kejadian yang berkaitan dengan urusan agama.
- Shubhi Shalih
Asbab An-Nuzul adalah suatu yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat Al-quran (ayat-ayat) terkadang menyiratkan peristiwa itu, sebagai repons atasnya, atau sebagai penjelas terhadap hukum-hukum di saat peristiwa itu terjadi.
- Mana ‘Al-Qthathan
Asbab An-Nuzul adalah peristiwa-peristiwa yang menyebabkan turunya Al-quran berkenaan denganya waktu peristiwa itu terjadi, baik berupa satu kejadian atau berupa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi.
b. Urgensi dan kegunaan Asbab An-Nuzul
- Membantu dalam memahami sekaligus mengatasi ketidakpastian dalam menangkap pesan ayat-ayat Al-quran.
- Mengatasi keraguan ayat yang diduga mengandung pengertian umum.
- Mengkhususkan hukum yang terkandung dalam ayat Al-quran, bagi ulama yang berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab yang bersifat khusus (khusus al-asbab) dan bukan lafazh yang bersifat umum (umum al-lafaz).
- Mengidentifikasikan pelaku yang menyebabkan ayat Al-quran turun.
- Memudahkan untuk menghapal dan memahami ayat, serta untuk memantapkan wahyu ke adalah hati orang yang mendengarnya
c. Cara mengetahui Asbab An-Nuzul
Asbab An-Nuzul adalah peristiwa yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW, oleh karena itu, tidak boleh ada jalan lain untuk mengetahuinya selain berdasarkan periwayatan (pentransmisian) yang benar (naql Ash-shalih) dari orang-orang yang melihat dan mendengar langsung tentang turunnya ayat Al-quran.

d. Macam-macam Asbab An-Nuzul
a. Dilihat dari sudut pandang redaksi-redaksi yang dipergunakan dalam riwayat Asbab
an-Nuzul.
1. Sharih (visionable/jelas)
2. Muhtamilah (impossible/kemungkinan)
b. Dilihat dari sudut pandang berbilangnya Asbab an-Nuzul untuk satu ayat atau berbilangnya ayat untuk satu Asbab an-Nuzul.
1. Berbilangnya asbab an-nuzul untuk satu ayat (Ta’addud al-Sabab wa Nazil al-Wahid)
2. Variasi ayat untuk satu sebab (Ta’addud al-Nazil wa As-Sabab al-Wahid)
e. Kaidah “Al-Ibrah”
Mayoritas ulama berpendapat bahwa pertimbangan untuk satu lafazh Al-quran adalah keumuman pafazh dan bukanya kekhususan sebab (al-‘ibrah bi ‘umum al-al-lafzhi la bi khusus as-sabab). Di sisi lain, ada juga ulama yang berpendapat bahwa ungkapan satu lafazh al-quran harus dipandang dari segi kekhususan sebab bukan dari segi keumuman lafazh (al-‘ibrah bi khusus as-sabab la bi bi’umum al-lafazh).

4. Munasabah Al-Quran
a. Pengertian Munasabah
1. Secara etimologi : Al-musyakalah (keserupaan) dan Al-muqarabah (kedekatan)
2. Secara terminologi :
- Menurut Az-Zarkasyi : Munasabah adalah suatu hal yang dapat dipahami. Tatkala dihadapkan pada akal, pasti akal akan menerimanya.
- Menurut Manna Al-Qaththan : Munasabah adalah sisi keterkaitan antara beberapa ungkapan di dalam satu ayat atau antar surat (di dalam Al-Quran)
- Menrut ibn Al-Arabi : Munasabah adalah keterkaitan ayat-ayat Al-quran sehingga seolah-olah merupakan satu ungkapan yang mempunyai kesatuan makna dan keteraturan redaksi. Munasabah merupakan ilmu yang sangat agung.
- Menurut Al-Biqa’i : Munasabah adalah satu ilmu yang mencoba mengetahui alasan-alasan di balik susunan atau urutan bagian-bagian Al-quran, baik ayat dengan ayat atau surat dengan surat.
b. Cara Mengetahui Munasabah
1. Harus diperhatikan tujuan pembahasan suatu surat yang menjadi objek pencarian.
2. Memperhatikan uraian ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang dibahas dalam surat.
3. Menentukan tingkatan uraian-uraian itu, apakan ada hubungannya atau tidak.
4. Dalam mengambil kesimpulannya, hendaknya memperhatikan ungkapan-ungkapan bahasannya dengan benar dan tidak berlebihan.
c. Macam-macam Munasabah
1. Munasabah antarsurat dengan surat sebelumnya.
2. Munasabah antarnama surat dan tujuan turunnya.
3. Munasabah antarbagian surat ayat.
4. Munasabah antar ayat yang letaknya bedampingan.
5. Munasabah antarsuatu kelompok ayat dengan kelompok ayat disampingnya.
6. Munasabah antarFashilah (pemisah) dan isi ayat.
7. Munasabah antarawal surat dengan akhir surat yang sama.
8. Munasabah antarpenutup suatu surat dengan awal surat berikutnya.
d. Urgensi dan Kegunaan Mempelajari Munasabah
1. Dapat mengembangkan sementara anggapan orang yang menganggap bahwa tema-tema Al-quran kehilangan relevansi antara suatu bagian denga bagian lainnya.
2. Mengetahui persambungan atau hubungan anatara bagian Al-quran, baik antara kalimat-kalimat atau ayat-ayat maupun surat-suratnya yang asatu denga yang lain,sehingga lebih memperdalam pengeahuan dan pengenalan terhadap kitabAl-quran dan memperkuat keyakinan terhadap kewahyuan dan kemukjizatannya.
3. Dapat diketahui mutu dan tikngkatkebalaghahan bahasa Al-quran dan konteks kalimat-kalimatnya yang satu dengan yang lainnya, serta persesuaian ayat/surat yang satu dari yang lain.
4. Dapat membantu dalam menafsirkan ayat-ayat Al-quran setelah diketahui hubungan suatu kalimat atau ayat dengan kalimat atau ayat yang lain.
5. Makkiyyah dan Madaniyyah
a. Pengertian Makkiyah dan Madaniyyah
1. Dari perspektif masa turun : Makkiyyah ialah ayat-ayat yang turun sebelum rasullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Mekkah. Adapun Madanyyah adalah ayat-ayat yang turun di Madinah. Ayat-ayat yang turun setelah peristiwa hijrah disebut Madaniyyah walaupun turun di Mekkah atau Arafah.
b. Cara mengetahui Makiyyah dan Madaniyyah
- Pendekatan Transmisi (periwayatan)
- Pendekatan Analogi (Qiyas)
c. Ciri-ciri Spesifik Makiyyah dan Madaniyyah
1. Makkiyyah :
a. Di dalamnya terdapat ayat sajdah.
b. Ayat-ayatnya dimulai dengan kata “kalla”.
c. Dimulai denga ungkapan “ya ayyuha An-nas”
d. Ayat-ayatnya mengandung tema kisah para nabi dan umat-umat terdahulu.
e. Ayat-ayatnya berbicara tentang kisah Nabi Adam dan Iblis, kecuali surat Al-Baqarah [2].
f. Ayat-ayatnya dimulai dengan huruf-huruf terpotong-potong (huruf At-thaiji) seperti alif lam mim dan sebagainya, kecuali surat Al-Baqarah [2] dan Ali’Imran [3]

.
2. Madaniyyah :
a. Mengandung ketentuan-ketentuan fara’id dan had.
b. Mengandung sindiran-sindiran terhadap kaum munafik, kecuali surat Al-Ankabut.
c. Mengandung uraian tentang perdebatan denga Ahli Kitabin.
d. Urgensi Pengetahuan tentang Makiyyah dan Madaniyyah
1. Membantu dalam menafsirkan Al-quran.
2. Pedoman bagi langkah-langkah dakwah.
3. Memberi informasi tentang sirah kenabian.

6. Mukham dan Mutasyabih
a. Pengertian Muhkam dan Mutasyabih
- Ayat-ayat Muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan gamblang, baik melalui takwil (metafora) ataupun tidak. Adapun ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang maksudnya hanya dapat diketahui Allah.
- Ayat-ayat Muhkam adalah ayat yang maknanya jelas, sedangkan ayat-ayat Mutasyabih adalah sebaliknya.
b. Sikap para Ulama terhadap Ayat-ayat Muhkan dan Mutasyabih
1. Madzhab salaf, yaitu para ulama yang mempercayai dan mengimani ayat-ayat Mutasyabih dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah sendiri (tafwidh ilallah)
2. Madzhab Khalaf, yaitu para ulama yang berpendapat perlunya menakwilkan ayat-ayat mutasyabih yang menyangkut sifat Allah sehingga melahirkan arti yang sesuai dengan keluhuran Allah.
c. Fathatih As-Suwar
Bentuk redaksi fawatih as-suwar di dalam Al-quran :
1. Terdiri atas satu huruf.
2. Terdiri atas dua huruf.
3. Terdiri atas tiga huruf.
4. Terdiri atas empat huruf.
5. Terdiri atas lima huruf.
d. Hikmah Keberadaan Ayat Mutasyabih dalam Al-Quran.
1. Memperlihatkan kelemahan akal manusia.
2. Teguran bagi orang-orang yang mengotak-atik ayat mutasyabih.
3. Memberikan pemahaman abstrak-ilahiah kepada manusia melalui pengalaman indrawi yang biasa diskasikannya.

7. Nasikh-Mansukh dalam Al-quran
a. Definisi Naskh
1. Secara etimologi : penghilangan (izalah), penggantian (tabdil), pengubahan (tahwil) dan pemindahan (naql).
2. Secara terminologi : “raf’u Al-hukm Al-syar’i bi Al-khitabh Al-syar’i” (menghapus hukum syara dengan khitab syara pula) atau “raf’u Al-hukm Al-syar’i bi Al-dalil Al-syar’i” (menghapuskan hukum syara dengan dalil syara yang lain).
b. Rukun Naskh
Rukun Naskh ada Empat, yaitu :
1. Adat Naskh
2. Nasikh
3. Mansukh
4. Mansukh’anh
c. Syarat Naskh
1. Yang dibatalkan adalah hukum syara’.
2. Pembatalan itu datangnya dari tuntutan syara’.
3. Pembatalan hukum tidak disebabkan oleh berakhirnya waktu pemberlakuan hukum.
4. Tuntutan yang mengandung naskh harus datang kemudian.
d. Cara mengetahui Nasikh dan Mansukh
1. Penjelasan langsung dari Rasulullah.
2. Dalam suatu naskh terkadang terdapat keterang yangenyatakan bahwa salah satu nash diturunkan terlebih dahulu.
3. Berdasarkan keterangan dari periwayat hasits yang menyatakan satu hadis dikeluarkan tahun sekian dan hadis lain dikeluarkan tahun sekian

.
e. Dasar-dasar penetapan Nasikh dan Mansukh
1. Melalui pentransmisian yang jelas (an-nawl Al-sharih) dari Nabi atau para sahabatnya.
2. Melalui kesepakan ymat bahwa ayat ini nasikh dan ayti itu mansukh.
3. Melalui studi sejarah, mana ayat yang lebih belakang turun, karenanya disebut nasikh,, dan mana yang duluan turun, karenanya disebut mansukh.
f. Bentuk-bentuk dan macam-macam Naskh dalam Al-quran
1. Naskh sharih
2. Nasikh dhimmy
3. Nasikh kully
4. Nasikh juz’iy
g. Hikmah kebradaan Naskh
1. Menjaga kemaslahatan hamba.
2. Pengembangan pensyariatan hukum sampai pada tingkat kesempurnaan seiring dengan perkembangan dakwah dan kondisi manusia itu sendiri.
3. Menhuji kualitas keimanan mukalaf dengan cara adanya suruhan yang kemudian dihapus.
4. Merupakan kebaikan dan kemudahan bagi umat.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.