Skip navigation

Category Archives: ulumul hadits


1.Perkembangan Hadits Pada Masa Rasullullah SAW
a.Cara Rasulullah Menyampaikan Hadis
Dalam riwayat Bukhari, disebutkan Ibnu Mas’ud pernah bercerita, bahwa Rasulullah SAW, menyampaikan hadisnya dengan berbagai cara, sehingga para sahabat selalu ingin mengikuti pengajiannya dan tidak mengalami kejenuhan.
Ada beberapa cara yang digunakan oleh Rasulullah SAW. Dalam menyampaikan hadis kepada para sehabat yaitu:
Pertama, melalui jama’ah yang berada dipusat pembinaan atau majelis Al-Ilm terkadang kepala suku yang jauh dari madinah mengirim utusannya ke majelis, untuk kemudian mengajarkan kepada suku mereka sekembalinya dari sini.
Kedua, melalui para sahabat tertentu, kemudian mereka menyampaikan pada orang lain.
Ketiga, cara lain yang dilakukan Rasulullah SAW, adalah melalui ceramah atau pidato ditempat terbuka, seperti ketika haji wada dan futuh mekkah.

b.Perbedaan Antara Sahabat dalam Menguasai Hadis
1)Perbedaan mereka dalam soal kesempatan bersama dengan Rasulullah SAW
2)Perbedaan dalam soal kesanggupan untuk selalu bersama Rasulullah SAW
3)Perbeadaan mereka dalam soal kekuatan hafalan dan kesungguhan bertanya pada sahabat lain.
4)Perbedaan mereka dalam waktu masih islam dan jarak tempat tinggal mereka dari majelis Rasulullah SAW.
c.Sahabat Yang Banyak Menerima Hadits dari Rasulullah SAW dengan beberapa penyebabnya, mereka adalah:
1)As-Sabiqun al-awalun (yang mula-mula masuk islam). Seperti Abubakar, Umar Bin Khatab, Usman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib dan Ibnu Mas’ud. Mereka banyak menerima hadis dari nabi Muhammad Rasulullaah SAW, karena lebih awal masuk dari sahabat-sahabat lain.
2)Ummahad Al-Mukminin (isteri-isteri rasulullah SAW), seperti Siti Aisyah dan Ummu Salamah. Mereka lebih dekat denga Rasulullah SAW dari pada isteri lainnya. Hadits-hadits yang diterima kebanyakan berkaitan dengan soal-soal keluarga dan pergaulan suami-isteri.
3)Para sahabat yang selalu dekat dengan Rasulullah SAW dan juga menuliskan hadits-hadits yang diterimanya, seperti Abdullah Bin Amr Al-As.
4)Sahabat yang tidak lama bersama Rasulullah SAW, tetapi banyak bertanya kepada sahabat lainnya dengan sungguh-sungguh seperti Abu Hurairah.
5)Para sahabat yang sungguh-sungguh mengikuti majelis Rasulullah SAW dan banyak bertanya kepada lain dan dari sudut usia mereka hidup lebih lama dari wafatnya Rasulullah SAW.

d.Menghafal dan menulis hadis
1)Menghafal hadis
Jika Nabi Muhammad Rasulullah SAW menginstruksikan pada sahabatnya supaya menulis dan menghafalnya, sedangkan terhadap hadis, beliau menyuruh mereka menghafal dan melarang mereka menulisnya secara resmi. Ini bertujuan untuk memelihara kemurnian dan mencapai kemaslahatan Al-Qur’an dan Hadis sebagai dua sumber ajaran Islam.
2)Menulis hadis
Sekalipun ada larangan Rasulullah SAW, untuk menulis hadis ternyata ada sejumlah sahabat yang memiliki catatan hadits yaitu:

Abdullah Bin Amr Bin Al-As
Hadits-hadits yang terhimpun dalam catatannya berkisar sekitar 1000 hadis yang menurut pengakuannya diterima langsung dari Rasulullah SAW yaitu ketika beliau berada di sisi Rasulullah SAW tanpa ada yang menemaninya.
Jabir Bin Abdillah Bin Amr Al-Anshari (w.78 H) ia memiliki catatan hadits tentang manasik haji. Hadits-haditsnya kemudian diriwayatkan oleh muslim catatan ini dikenang dengan Shaitah Jabir.
Abu Hurairah Ad-Dawi memiliki catatan hadits yang dikenal dengan As-Sahafiah dan As-sahahihah. Hasil karyanya diwariskan kepada putranya yang bemama Hamam.
Abu Syah (Umar Bin Sa’ad Al- Anmari) seorang penduduk yaman. Ia memilih kepada Rasulullah SAW agar dicatatatkan hadits yang disampaikan beliau ketika pidato pada peristiwa Futuh Mekkah.

2.Perkembangan Hadits Pada Masa Sahabat
Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, perkembangan penyebaran hadits dilanjutkan oleh para sahabat beliau, terutama oleh khulaf Ar-Rasyidin (Abu Bakar, Umar Bin Khatab, Usman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib). Namun pada saat itu perkembangan hadits tidak begitu diutamakan karena prioritas yang paling utama pada saat itu adalah terfokus kepada pemeliharaan dan penyebaran Al-Qur’an, dan periwayatan hadits sendiri belum begitu berkembang dan masih di batasi.
1)Menjaga Pesan Rasulullah SAW
Nabi Muhammad adalah Nabi yang sangat peduli terhadap keselamatan hidup umatnya baik itu kehidupan dunia terlebih untuk kehidupan akhirat. Beliau tidak henti-henti dan tidak bosan-bosanya memberikan nasehat, peringatan bahkan teguran terhadap umatnya. Beliau selalu meminta kepada para umatnya agar selalu berpegang teguh pada Al-Quran dan As-sunnah yang telah beliau ajarkan dan yang telah beliau sampaikan serta beliau meminta agar sumber ajaran tersebut disampaikan atau didakwahkan kepada orang lain yang belum mengetahui tentang kebenaran yang disampaikan oleh beliau. Hal ini tercennin dalam hadis beliau berikut ini.

Artinya:
“Telah aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka. Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya niscaya tidak akan tersesat yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya.”

Dan sabdanya pula

Artinya:
“Sampaikan dariku walaupun satu ayat atau satu hadis.”

Karena para sahabat-sahabat beliau sangat patuh dan sangat menghormati beliau, maka perintah yang beliau sampaikan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik oleh para sahabat sehingga pada masa sahabat perkembangan dan imperium islam sangat luas dan wilayah dakwah islampun menjadi luas.

2)Teliti dalam meriwayatkan dan menerima hadits
Kehati-hatian dan usaha membatasi periwayatan yang dilakukan para sahabat, disebabkan kekhawatiran mereka akan terjadinya kekeliruan pada hadits. Mereka menyadari bahwa hadits adalah sumber hukum setelah Al-Qur’an yang harus terjaga dari kekeliruannya sebagaiman Al-Qur’an. Oleh karena itu, para sahabat khususnya khulafa Ar-rasyidin dan sahabat lainnya berusaha memperketat periwayatan dan penerimaan hadits.
Abubakar sebagai khalifah yang pertama menunjukkan perhatiannya dalam memelihara hadits. Menurut Adz Dzahabi, Abu Bakar adalah sahabat yang pertama sekali menerima hadits dengan hati-hati. Apabila ada sesorang yang ingin menyampaikan sebuah hadits, maka beliau menyuruhnya untuk mendatangkan saksi-saksi dan apabila saksi tersebut menyatakan benar maka hadits tersebut pula dinyatakan benar.
Sikap kehati-hatian itu sangat diutamakan oleh para sahabat dan itu juga di tunjukkan oleh Umar Bin Khatab, beliau juga apabila ada hadits yang ingin disampaikan maka orang tersebut harus mendatangkan saksi-saksi yang dapat dipercaya. Tetapi beliau juga selalu menerima hadis tanpa syarat tertentu atau hadis tersebut dianggap benar, seperti hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah. Dan sahabat-sahabat yang lain juga mereka melakukan hal yang sama dan bahkan orang yang merupakan sumber hadits tersebut harus melakukan sumpah terlebih dahulu seperti yang dilakukan oleh Ali Bin Abi Thalib.

3)Periwayatan Hadits
Ada dua jalan yang ditempuh oleh para sahabat dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW. Pertama, dengan jalan periwayatan lafzhi, kedua adalah periwayatan maknawi.
a.Periwayatan Lafzhi
Periwayatan lafzi adalah periwayatan hadis yang redaksinya persis seperti yang diwurudkan oleh Rasulullah SAW., ini hanya bisa dilakukan apabila mereka benar, benar nebghafl hadis yang disabdakan oleh Rasulullah SAW.
Kebanyakan para sahabat menempuh periwayatan hadits melalui jalan ini. Mereka berusaha agar periwayatan hadis sesuai dengan redaksi dari Rasulullah SAW, dan bukan menurut redaksi mereka. Bahkan menururt Ajjal Al-Khatib, seluruh sahabat menginginkan agar periwayatan hadis itu dilakukan dengan lafzhi bukan dengan maknawi. Sebagian dari mereka secara ketat melarang meriwayatkan hadis dengan makanannya saja (maknawi), bahkan mereka tidak membolehkan mengganti satu huruf atau satu katapun. Begitu pula mendahulukan susunan kata yang disebut rasul belakangan atau sebaliknya meringankan bacaan yang siqal (berat) dan sebaliknya. Dan dalam hal ini Umar Bin Khatab pernah berkata: “barang siapa yang mendengar hadis dari Rasulullah SAW kemudian ia meriwayatkannya sesuai yang ia dengar maka ia akan selamat.
b.Periwayatan Maknawi
Para sahabat lainnya berpendapat bahwa dalam keadaan darurat karena tidak menghafal persis yang diwurudkan oleh Nabi Muhammad SAW, di bolehkan meriwayatkan hadits berdasarkan maknanya (maknawi). Periwayatan maknawi adalah periwayatan hadis yang matanya tidak sama dengan yang didengarnya dari Rasulullah SAW. Tetapi isi dan maknanya tetap terjaga secara utuh sesuai dengan yang dimaksud oleh Nabi Muhammad SAW.
Mekipun begitu para sahabat melakukan dengan sangat hati-hati. Ibnu Mas’ud misalnya, ketika ia meriwayatkan hadis, ia menggunakan term-term tertentu untuk meguatkan penukilannya.
Periwayatan hadis dengan maknawi mengakibatkan munculnya hadis-hadis yang redaksinya antara satu hadits dengan hadits yang lainnya berbeda-beda, meskipun maksud dan maknanya tetap sania. Hal itu sangat bergantung kepada para sahabat atau generasi berikutnya yang meriwayatkan haits-hadis tersebut.

3.Perkembangan Hadits Pada Masa Tabi’in
Wawasan Hukum Zaman Tabi’in
Antara Islam sebagai agama dan hukum terdapat kaitan langsung yang tidak mungkin diingkari. Meskipun baru setelah tinggal menetap di Madinah Nabi SAW. melakukan kegiatan legislasi, namun ketentuan-ketentuan yang bersifat kehukuman telah ada sejak di Makkah, bahkan justru dasar-dasarnya telah diletakkan dengan kokoh dalam periode pertama itu. Dasar-dasar itu memang tidak semuanya langsung bersifat kehukuman atau legalistik, sebab selalu dikaitkan dengan ajaran moral dan etika. Maka sejak di Makkah Nabi mengajarkan tentang cita-cita keadilan sosial yang antara lain mendasari konsep-konsep tentang harta yang halal dan yang haram (semua harta yang diperoleh melalui penindasan adalah haram), keharusan menghormati hak milik sah orang lain, kewajiban mengurus harta anak yatim secara benar, perlindungan terhadap kaum wanita dan janda, dan seterusnya. Itu semua tidak akan tidak melahirkan sistem hukum, sekalipun keadaan di Makkah belum mengizinkan bagi Nabi untuk melaksanakannya. Maka tindakan Nabi dan kebijaksanaannya di Madinah adalah kelanjutan yang sangat wajar dari apa yang telah dirintis pada periode Makkah itu.
Pada masa para sahabat yang kemudian disusul masa para Tabi’in, prinsip-prinsip yang diwariskan Nabi itu berhasil digunakan, menopang ditegakkannya kekuasaan politik Imperium Islam yang meliputi daerah antara Nil sampai Amudarya, dan kemudian segera melebar dan meluas sehingga membentang dari semenanjung Iberia sampai lembah sungai Indus. Daerah-daerah itu, yang dalam wawasan geopolitik Yunani kuno dianggap sebagai heatland Oikoumene (Daerah Berperadaban -Arab: al-Da’irat al-Ma’murah) telah mempunyai tradisi sosial-politik yang sangat mapan dan tinggi, termasuk tradisi kehukumannya. Di sebelah Barat tradisi itu merupakan warisan Yunani-Romawi, dan Indo-Iran umumnya. Karena itu mudah dipahami jika timbul semacam tuntutan intelektual untuk berbagai segi kehidupan masyarakat yang haruas dijawab para penguasa yang terdiri dari kaum Muslim Arab itu.
Tuntutan intelektual itu mendorong tumbuhnya suatu genre kegiatan ilmiah yang sangat khas Islam, bahkan Arab, yaitu Ilmu Fiqh. Tapi sebelum ilmu itu tumbuh secara utuh, agaknya yang telah terjadi pada masa tabi’in itu ialah semacam pendekatan ad hoc dan praktis-pragmatis terhadap persoalan-persoalan hukum, dengan menggunakan prinsip-prinsip umum yang ada dalam Kitab Suci, dan dengan melakukan rujukan pada Tradisi Nabi dan para Sahabat serta masyarakat lingkungan mereka yang secara ideal terdekat, khususnya masyarakat Madinah.

Pusat-pusat Pembinaan Hadis
Tercatat beberapa kota yang menjadi pusat pembinaan dalam periwayatan hadis sebagai tempat tujuan para tabi’in dalam mencari hadis, yaitu ialah Madinah Al-Munawaroh, Mekah Al-Mukaroma, kufah basrah, syam, mesir, magrib, dan Andalas, yaman, dan khurasan dan sejumlah para sahabat Pembina hadits pada kota-kota tersebut, ada beberapa orang yang tercatat banyak meriwayatkan hadis, antara lain Abu Hurairah, Abdullah Bin Umar, Anas Bin Malik, Aisyah, Abdullah Bin Abbas, Jabir bin Abdillah, dan Sa’id Al-Khudzri.
Pusat pembinaan hadis pertama adalah madinah karena disinilah Rasulullah SAW menetap setelah hijrah. Disini pula Rasulullah SAW membina masyarakat Islam yang terdiri dari Muahajirin dan Anshar dari berbagai suku atau kabilah, disamping umat non muslim, seperti yahudi yang dilindungi oleh beliau. Para sahabat menetap disini, diantaranya khula Ar-Rasyidin, Abu Hurairah, Siti Aisyah, Abdullah Bin Umar, dan Abu Said Al-khudzri serta para pembesar tabi’in.
Diantara para sahabat yang membina hadis di mekah tercatat nama-nama, seperti Muadz Bin Zabal, Atab Bin Asid, Haris Bin Hisyam, Usman Bin Thalhah, dan Uqbah bin Al-Haris. Diantara para tabi’in yang muncul dari sini tercatat Mujahid Bin Jabar, Ata’ Bin Abi Rabah, Tawus Bin Kaisam dan Ikrimah Maula Ibnu Abbas.
Masih banyak para sahabat dan Tabi’in yang berperan dalam perkembangan hadis diberbagai kota.

Pergolakan Politik dan Pemalsuan Hadis
Pergolakan politik ini terjkadi pada masa sahabat setelah terjadinya perang jamal dan perang siffin, ketika kekuasaan dipegang oleh Ali Bin Abi Thalib. Akan tetapi akibatnya cukup panjang dan berlarut-larut, dengan terpecahnya umat islam kedalam beberapa kelompok. Secara langsung maupun tidak langsung, pergolakan politik tersebut memberikan pengaruh kepada perkembangan hadis berikutnya. Pengaruh yang langsung dan bersifat negative ialah munculnya hadis-hadis palsu (maudu’).
Adapun pengaruh yang berakibat positif adalah lahirnya rencana dan usaha untuk mendorong diadakannya kodifikasi atau tadwin hadis sebagai upaya peyelamatan dari pemusnahan dan pemalsuan akibat dari pergolakan politik tersebut.

4.Proses Perkembangan Hadis pada Masa Kodifikasi
Proses Kodifikasi al-Hadits

Proses kodifikasi hadits atau tadwiin al-Hadits yang dimaksudkan adalah proses pembukuan hadits secara resmi yang dilakukan atas instruksi Khalifah, dalam hal ini adalah Khalifah Umar bin Abd al-Aziz (memerintah tahun 99-101 H). Beliau merasakan adanya kebutuhan yang sangat mendesak untuk memelihara perbendaharaan sunnah. Untuk itulah beliau mengeluarkan surat perintah ke seluruh wilayah kekuasaannya agar setiap orang yang hafal Hadits menuliskan dan membukukannya supaya tidak ada Hadits yang akan hilang pada masa sesudahnya.
Abu Naaim menuliskan dalam bukunya Tarikh Isbahan bahwa Khalifa Umar bin Abd al-Aziz mengirimkan pesan perhatikan hadits Nabi dan kumpulkan. Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Umar bin Abd al-Aziz mengirim surat kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Hazm sebagai berikut: Perhatikanlah apa yang ada pada hadits-hadits Rasulullah SAW, dan tulislah, karena aku khawatir akan terhapusnya ilmu sejalan dengan hilangnya ulama, dan janganlah engkau terima selain hadits Nabi SAW (Shahih al-Bukhari, Juz I. hal 29)
Khalifah menginstruksikan kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Hazm (w. 117 H) untuk mengumpulkan hadits-hadits yang ada pada Amrah binti Abd al-Rahman bin Saad bin Zaharah al- Anshariyah (21-98 H) dan al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr al-Shiddiq.
Pengumpulan al-Hadits khususnya di Madinah ini belum sempat dilakukan secara lengkap oleh Abu Bakar bin Muhammad bin Hazm dan akhirnya usaha ini diteruskan oleh Imam Muhammad bin Muslim bin Syihab al-Zuhri (w. 124) yang terkenal dengan sebutan Ibnu Syihab al-Zuhri. Beliaulah sarjana Hadits yang paling menonjol di jamannya. Atas dasar ini Umar bin Abd al-Aziz pun memerintahkan kepada anak buahnya untuk menemui beliau. Dari sini jelaslah bahwa Tadwin al-Hadits bukanlah semata-mata taktib al-Hadits (penulisan al-Hadits).
Tadwin al-Hadits atau kodifikasi al-Hadits merupakan kegiatan pengumpulan al-Hadits dan penulisannya secara besar-besaran yang disponsori oleh pemerintah (khalifah). Sedangkan kegiatan penulisan al-Hadits sendiri secara tidak resmi telah berlangsung sejak masa Rasulullah saw masih hidup dan berlanjut terus hingga masa kodifikasi. Atas dasar ini tuduhan para orientalis dan beberapa penulis muslim kontemporer bahwa al-Hadits sebagai sumber hukum tidak otentik karena baru ditulis satu abad setelah Rasulullah wafat adalah tidak tepat. Tuduhan ini menurut M.M. Azami lebih disebabkan karena kurangnya ketelitian dalam melacak sumber-sumber yang berkaitan dengan kegiatan penulisan Hadits.
Pada masa tadwin ini penulisan hadits belum tersistimatika sebagimana kitab-kitab Hadits yang ada saat ini tetapi sekadar dihimpun dalam bentuk kitab-kitab jamia dan mushannaf. Demikian juga belum terklasifikasikannya Hadits atas dasar shahih dan tidaknya. Barulah pada periode sesudahnya muncul kitab Hadits yang disusun berdasarkan bab-bab tertentu, juga kitab hadits yang memuat hanya hadits-hadits shahih saja. Pada periode terakhir ini pengembangan ilmu jarh wa taadil telah semakin mantap dengan tampilnya Muhammad bin Ismaail al-Bukhari.


KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah penulis persembahkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat dan salam penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk menjadi rahamat sekalian alam. Seiring dengan itu, tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan motivasi dalam menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini menjelaskan secara ringkas mengenai klasifikasi hadis dari segi kuantitasnya. Penulis menyadari akan kekurangan dari makalah ini. Karena “Tak ada gading yang tak retak”. Oleh karena itu, saran dan masukan dari berbagai pihak sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah ini dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat berguna bagi pembaca.

BAB I

PENDAHULUAN

Pada Awalnya rasulullah SAW melarang sahabat untuk menulis hadis, karena dikhawatirkan bercampur baur penulisannya dengan Al-Qur’an. Perintah untuk melukiskan hadis yang pertama kali oleh khalifah umar bn abdul azis. Beliau penulis surat kepada gubernur di madinah yaitu Abu Bakar bin Muhammad bin Amr hazm al-alsory untuk membukukan hadis. Sedangkan ulama yang pertama kali mengumpulkan hadis adalah Arroby bin Sobiy dan Said bin Abi Arobah, akan tetapi pengumpulan hadis tersebut masih acak (tercampur antara yang sohih dengan dhoif, dan perkataan para sahabat).

Sebagian orang bingung melihat jumlah pembagian hadis yang banyak dan beragam. Tetapi kebingungan itu kemudian menjadi hilang setelah melihat pembagian hadis yang ternyata dilihat dari berbagai tinjauan dan berbagai segi pandangan, bukan hanya dari satu segi pandangan saja.

Hadis memiliki beberapa cabang dan masing-masing memiliki pembahasan yang unik dan tersendiri. dalam makalah ini akan dikemukakan pembaian hadis dari tinjauan kuantitas perawi. Sedangkan tinjauan mengenai kualitas akan dibahas oleh makalah yang dibawakan oleh kelompok lain.

Untuk mengungkapkan tinjauan pembagian hadis dari segi kuantitas jumlah para perawi para penulis hadis pada umumnya menggunakan beberapa redaksi yang berbeda. Sedangkan mereka melihat pembagian hadis dari segi bagaimana proses penyampaian hadis dan sebagian lagi memilih dari segi kuantitas atau jumlah perawinya.

Penulis

BAB II

PEMBAHASAN

Kuantitas hadis disini yaitu dari segi jumlah orang yang meriwayatkan suatu hadis atau dari segi jumlah sanadnya. Jumhur (mayoritas) ulama membagi hadis secara garis besar menjadi dua macam, yaitu hadis mutawatir dan hadis ahad , disamping pembagian lain yang diikuti oleh sebagian para ulama, yaitu pembagian menjadi tiga macam yaitu: hadis mutawatir , hadis masyhur (hadis mustafidh) dan hadis ahad .

A. Hadis Mutawatir

1. Pengertian Hadis Mutawatir

Dari segi bahasa, mutawatir, berarti sesuatu yang dating secara beriringan tanpa diselangai antara satu sama lain. Adapun dari segi istilah yaitu Hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang tidak mungkin bersepakat untuk berdusta dari sejumlah rawi yang semisal mereka dan seterusnya sampai akhir sanad. Dan sanadnya mereka adalah pancaindra. Berdasarkan definisinya ada 4 kriteria hadis mutawati, yaitu sebagai berikut :

a. Diriwayatkan Sejumlah Orang Banyak

Para perawi hadis mutawatir syaratnya harus berjumlah banyak. Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah banyak pada para perawi hadis tersebut dan tidak ada pembatasan yang tetap. Di antara mereka berpendapat 4 orang, 5 orang, 10 orang, 40 orang, 70 orang bahkan ada yang berpendapat 300 orang lebih. Namun, pendapat yang terpilih minimal 10 orang seperti pendapat Al-Ishthikhari.

b. Adanya Jumlah Banyak Pada Seluruh Tingkatan Sanad

Jumlah banyak orang pada setiap tingkatan (thabaqat) sanad dari awal sampai akhir sanad. Jika jumlah banyak tersebut hanya pada sebagian sanad saja maka tidak dinamakan mutawatir , tatapi dinamakan ahad atau wahid.

c. Mustahil Bersepakat Bohong

Di antara alas an pengingkar sunnah dalam penolakan mutawatir adalah pencapaian jumlah banyak tidak menjamin dihukumi mutawatir karena dimungkinkan adanya kesepakatan berbohong. Hal ini karena mereka menganalogikan dengan realita dunia modern dan kejujurannya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, apalagi jika ditunggangi masalah politik dan lain-lain. Demikian halnya belum dikatakan mutawatir karena sekalipun sudah mencapai jumlah banyak tetapi masih memungkinkan untuk berkosensus berbohong.

d. Sandaran Berita Itu Pada Pancaindra

Maksud sandaran pancaindra adalah berita itu didengar dengan telinga atau dilihat dengan mata dan disentuh dengan kulit, tidak disandarkan pada logika atau akal seperti tentang sifat barunya alam, berdasarkan kaedah logika; Setiap yang baru itu berubah (Kullu hadis in mutghayyirun). Alam berubah (al-alamu mutaghayyirun). Jika demikian, Alam adalah baru (al-alamu hadis un). Baru artinya sesuatu yang diciptakan bukan wujud dengan sendirinya. Jika berita hadis itu logis, maka tidak mutawatir . Sandaran berita pada pancaindra misalnya ungkapan periwayatan:

: Kami mendengar [dari Rasulullah bersabda begini]

: Kami sentuh atau kami melihat [Rasulullah melakukan begini dan seterusnya].

2. Pembagian Hadis Mutawatir

Sebagian jumhur ulama menyebutkan Hadis Mutawatir ada 3 yaitu :

a. Hadis Mutawatir Lafdhi

Hadis mutawatir lafdhi adalah mutawatir dengan susunan redaksi yang persis sama. Dengan demikian garis besar serta perincian maknanya tentu sama pula, juga dipandang sebagai hadis mutawatir lafdhi, hadis mutawatir dengan susunan sedikit berbeda, karena sebagian digunakan kata-kata muradifnya (kata-kata yang berbeda tetapi jelas sama makna atau maksudnya). Sehingga garis besar dan perincian makna hadis itu tetap sama.

Contoh hadis mutawatir lafdhi yang artinya:

“ Rasulullah SA W, bersabda: “Siapa yang sengaja berdusta terhadapku, maka hendaklah dia menduduki tempat duduknya dalam neraka” (Hadis Riwayat Bukhari). “

Hadis tersebut menurut keterangan Abu Bakar al-Bazzar, diriwayatkan oleh empat puluh orang sahabat, bahkan menurut keterangan ulama lain, ada enam puluh orang sahabat, Rasul yang meriwayatkan hadis itu dengan redaksi yang sama.

b. Hadis Mutawatir Maknawi

Hadis mutawatir maknawi adalah hadis mutawatir dengan makna umum yang sama, walaupun berbeda redaksinya dan berbeda perincian maknanya. Dengan kata lain, hadis-hadis yang banyak itu, kendati berbeda redaksi dan perincian maknanya, menyatu kepada makna umum yang sama.

Jumlah hadis-hadis yang termasuk hadis mutawatir maknawi jauh lebih banyak dari hadis-hadis yang termasuk hadis mutawatir lafdhi.

Contoh hadis mutawatir maknawi yang artinya:

“ Rasulullah SAW pada waktu berdoa tidak mengangkat kedua tangannya begitu tinggi sehingga terlihat kedua ketiaknya yang putih, kecuali pada waktu berdoa memohon hujan (Hadis Riwayat Mutafaq’ Alaihi). ”

c. Hadis Mutawatir ‘Amali

Hadis mutawatir ‘amali adalah hadis mutawatir yang menyangkut perbuatan Rasulullah SAW, yang disaksikan dan ditiru tanpa perbedaan oleh orang banyak, untuk kemudian juga dicontoh dan diperbuat tanpa perbedaan oleh orang banyak pada generasi-generasi berikutnya. Contoh : Hadis-hadis Nabi tentang waktu shalat, tentang jumlah rakaat shalat wajib, adanya shalat Id, adanya shalat jenazah, dan sebagainya.

Segala macam amal ibadah yang dipraktekkan secara sama oleh umat Islam atau disepakati oleh para ulama, termasuk dalam kelompok hadis mutawatir ‘amali. Seperti hadis mutawatir maknawi, jumlah hadis mutawatir ‘amali cukup banyak. Diantaranya, shalat janazah, shalat ‘ied, dan kadar zakat harta.

3. Kedudukan Hadis Mutawatir

Seperti telah disinggung, hadis-hadis yang termasuk kelompok hadis mutawatir adalah hadis-hadis yang pasti (qath’i atau maqth’u) berasal dari Rasulullah SAW. Para ulama menegaskan bahwa hadis mutawatir membuahkan “ilmu qath’i” (pengetahuan yang pasti), yakni pengetahuan yang pasti bahwa perkataan, perbuatan atau persetujuan berasal dari Rasulullah SAW. Para ulama juga biasa menegaskan bahwa hadis mutawatir membuahkan “ilmu dharuri” (pengetahuan yang sangat mendesak untuk diyakini atau dipastikan kebenarannya), yakni pengetahuan yang tidak dapat tidak harus diterima bahwa perkataan, perbuatan, atau persetujuan yang disampaikan oleh hadis itu benar-benar perkataan, perbuatan, atau persetujuan Rasulullah SAW.

Taraf kepastian bahwa hadis mutawatir itu sungguh-sungguh berasal dari Rasulullah SAW, adalah penuh dengan kata lain kepastiannya itu mencapai seratus persen.

Oleh karena itu, kedudukan hadis mutawatir sebagai sumber ajaran Islam tinggi sekali. Menolak hadis mutawatir sebagai sumber ajaran Islam sama halnya dengan menolak kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Kedudukan hadis mutawatir sebagai sumber ajaran Islam lebih tinggi dari kedudukan hadis ahad .

B. Hadis Ahad

1. Pengertian Hadis Ahad

Ahad (baca: aahaad) menurut bahasa adalah kata jamak dari waahid atau ahad . Bila waahid atau ahad berarti satu, maka aahaad, sebagai jamaknya, berarti satu-satu. Hadist ahad menurut bahasa berarti hadist satu-satu. Sebagaimana halnya dengan pengertian hadist mutawatir , maka pengertian hadist ahad , menurut bahasa terasa belum jelas. Oleh karena itu, ada batasan yang diberikan oleh ulama batasan hadist ahad antara lain berbunyi: hadist ahad adalah hadist yang para rawinya tidak mencapai jumlah rawi hadist mutawatir , baik rawinya itu satu, dua, tiga, empat, lima atau seterusnya, tetapi jumlahnya tidak memberi pengertian bahwa hadist dengan jumlah rawi tersebut masuk dalam kelompok hadist mutawatir , atau dengan kata lain Hadis Ahad adalah hadis yang tidak mencapai derajat mutawatir.

2. Pembagian Hadis Ahad

a. Hadist Masyhur (Hadist Mustafidah)

Masyhur menurut bahasa berarti yang sudah tersebar atau yang sudah populer. Mustafidah menurut bahasa juga berarti yang telah tersebar atau tersiar. Jadi menurut bahasa hadist masyhur dan hadist mustafidah sama-sama berarti hadist yang sudah tersebar atau tersiar. Atas dasar kesamaan dalam pengertian bahasa para ulama juga memandang hadist masyhur dan hadist mustafidah sama dalam pengartian istilah ilmu hadist yaitu: hadist yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi atau lebih, dan beliau mencapai derajat hadist mutawatir . Sedangkan batasan tersebut, jumlah rawi hadist masyhur (hadist mustafidah) pada setiap tingkatan tidak kurang dari tiga orang, dan bila lebih dari tiga orang, maka jumlah itu belum mencapai jumlah rawi hadist mutawatir .

Contoh hadist masyhur (mustafidah) adalah hadist berikut ini:

Yang artinya:

“ Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin tidak mengganggu oleh lidah dan tangannya.” (Hadist Riwayat Bukhari, Muslim, dan Turmudzi) “

Hadist di atas sejak dari tingkatan pertama (tingkatan sahabat Nabi) sampai ke tingkat imam-imam yang membukukan hadist (dalam hal ini adalah Bukhari, Muslim, dan Turmudzi) diriwayatkan oleh tidak kurang dari tiga rawi dalam setiap tingkatan.

b. Hadist ‘Aziz

‘ Aziz menurut bahasa, berarti: yang mulai atau yang kuat dan juga berarti jarang. Hadist ‘aziz menurut bahasa berarti hadist yang mulia atau hadist yang kuat atau hadist yang jarang, karena memang hadist ‘aziz itu jarang adanya. Para ulama memberikan batasan sebagai berikut: hadist ‘aziz adalah hadist yang diriwayatkan oleh dua orang rawi, kendati dua rawi itu pada satu tingkatan saja, dan setelah itu diriwayatkan oleh banyak rawi.

Berdasarkan batasan di atas, dapat dipahami bahwa bila suatu hadist pada tingkatan pertama diriwayatkan oleh dua orang dan setelah itu diriwayatkan oleh lebih dari dua rawi maka hadist itu tetap saja dipandang sebagai hadist yang diriwayatkan oleh dua orang rawi, dan karena itu termasuk hadist ‘aziz.

Contoh hadist aziz adalah hadist berikut ini:

Yang artinya:

“ Rasulullah SAW bersabda: “Kita adalah orang-orang yang paling akhir (di dunia) dan yang paling terdahulu di hari qiamat.” (Hadist Riwayat Hudzaifah dan Abu Hurairah) “

Hudzaifah dan abu hurairah yang dicantumkan sebagai rawi hadist tersebut adalah dua orang sahabat Nabi, walaupun pada tingkat selanjutnya hadist itu diriwayatkan oleh lebih dari dua orang rawi, namun hadist itu tetap saja dipandang sebagai hadist yang diriwayatkan oleh dua orang rawi, dan karena itu termasuk hadist ‘aziz.

c. Hadist Gharib

Gharib, menurut bahasa berarti jauh, terpisah, atau menyendiri dari yang lain. Hadist gharib menurut bahasa berarti hadist yang terpisah atau menyendiri dari yang lain. Para ulama memberikan batasan sebagai berikut: hadist gharib adalah hadist yang diriwayatkan oleh satu orang rawi (sendirian) pada tingkatan maupun dalam sanad. Dari segi istilah ialah Hadis yang berdiri sendiri seorang perawi di mana saja tingkatan (thabaqah) dari pada beberapa tingkatan sanad.

Berdasarkan batasan tersebut, maka bila suatu hadist hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat Nabi dan baru pada tingkatan berikutnya diriwayatkan oleh banyak rawi, hadist tersebut tetap dipandang sebagai hadist gharib.

Contoh hadist gharib itu antara lain adalah hadist berikut:

Yang artinya:

“ Dari Umar bin Khattab, katanya: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Amal itu hanya (dinilai) menurut niat, dan setiap orang hanya (memperoleh) apa yang diniatkannya.” (Hadist Riwayat Bukhari, Muslim dan lain-lain) “

3. Kedudukan Hadis Ahad

Bila hadist mutawatir dapat dipastikan sepenuhnya berasal dari Rasulullah SAW, maka tidak demikian hadist ahad . Hadist ahad tidak pasti berasal dari Rasulullah SAW, tetapi diduga ( zhanni dan mazhnun) berasal dari beliau. Dengan ungkapan lain dapat dikatakan bahwa hadist ahad mungkin benar berasal dari Rasulullah SAW, dan mungkin pula tidak benar berasal dari beliau.

Karena hadist ahad itu tidak pasti (hgairu qath’i atau ghairu maqthu’), tetapi diduga (zhanni atau mazhnun) berasal dari Rasulullah SAW, maka kedudukan hadist ahad , sebagai sumber ajaran Islam, berada dibawah kedudukan hadist mutawatir . Lain berarti bahwa bila suatu hadist, yang termasuk kelompok hadist ahad , bertentangan isinya dengan hadist mutawatir , maka hadist tersebut harus ditolak.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Demikian hadis dilihat dari kuantitas jumlah para perawi yang dapat menunjukkan kualitas bagi hadis mutawatir tanpa memerisa sifat-sifat para perawi secara individu, atau menunjukan kualitas hadis ahad, jika disertai pemeriksaan memenuhi persyaratan standar hadis yang makbul. Hadis ahad masih memerlukan barbagai persyaratan yaitu dari segi sifat-sifat kepercayaan para perawi atau sifat-sifat yang dapat mempertanggungjawabkan kebenaran berita secara individu yaitu sifat keadilan dank e-dhabith-an, ketersambungan sanad dan ketidakganjilannya. Kebenaran berita hadis mutawatir secara absolute dan pasti (qath’i), sedangkan kebenaran berita yang dibawa oleh hadis ahad bersifat relative ( zhanni ) yang wajib diamalkan.

Dalam kehidupan sehari-hari seseorang dalam melaksanakan Islam tidak lepas dari zhann dan itu sah-sah saja, misalnya menghadap ke kiblat ketika shalat, pemeraan air mandi janabah pada seluruh anggota badan, masuknya waktu imsak dan fajar bagi orang yang berpuasa, dan lain-lain. Pengertian zhann tidak identik dengan syakk (ragu) dan juga tidak identik dengan waham . Zhann diartikan dugaan kuat (rajah) yang mendekati kepada keyakinan, syakk diartikan dugaan yang seimbang antara ya dan tidak sedang waham adalah dugaan lemah (marjuh) antomim zhann .

B. Saran

Kami selaku pemakalah mohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat dalam makalah ini, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman semua agar makalah ini dapat dibuat dengan lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Nawawi, I. (2001). Dasar-Dasar Ilmu Hadis. Jakarta: Pustaka Firdaus.

As-Shalih, S. (1997). Membahas Ilmu-Ilmu Hadits. Pustaka Firdaus: Jakarta.

Ismail, M. S. (1994). Pengantar Ilmu Hadis. Bandung: Angkasa.

Khon, A. M. (2008). Ulumul Hadis. Jakarta: Amzah.

Mudzakir, M. (1998). Ulumul Hadis. Bandung: CV Pustaka Setia.

Rahman, F. (1974). Ikhtisar Mushthalahul Hadits. Bandung: PT Alma’arif.

http://rud1.cybermq.com/post/detail/2237/klasifikasi-hadits Drs. H. Muhammad Ahmad dan Drs. M. Mudzakir, Ulumul Hadis, (Bandung :CV Pustaka Setia, 1998) hlm. 87 As-Sayuthi, Tadrib Ar-Rawi…, Juz 2, hlm. 225 Baru diartikan wujudnya sesuatu setelah tidak ada atau diciptakan, tidak wujud dengan sendirinya. Drs. M. Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadis, (Bandung : Angkasa, 1994) hlm. 139 Drs. Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadis, (Bandung : Alma’Arif, 1974) hlm. 86 Abdul Majid Khon, Ulumul Hadist, (Jakarta: Amzah, 2008) hlm.143


Al-Qur’an merupakan kitab suci terakhir yang diturunkan Alloh. Kitab Al-Qur’an adalah sebagai penyempurna dari kita-kitab Alloh yang pernah diturunkan sebelumnya.

Al-Qur’an dan Hadits merupakan sumber pokok ajaran Islam dan merupakan rujukan umat Islam dalam memahami syariat. Pada tahun 1958 salah seorang sarjana barat yang telah mengadakan penelitian dan penyelidikan secara ilmiah tentang Al-Qur’an mengatan bahwa : “Pokok-pokok ajaran Al-Qur’an begitu dinamis serta langgeng abadi, sehingga tidak ada di dunia ini suatu kitab suci yang lebih dari 12 abad lamanya, tetapi murni dalam teksnya”. (Drs. Achmad Syauki, Sulita Bandung, 1985 : 33).

Fungsi Hadits terhadap Al-Qur’an meliputi tiga fungsi pokok, yaitu :

1. Menguatkan dan menegaskan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an.

2. Menguraikan dan merincikan yang global (mujmal), mengkaitkan yang mutlak dan mentakhsiskan yang umum(‘am), Tafsil, Takyid, dan Takhsis berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. Rasululloh mempunyai tugas menjelaskan Al-Qur’an sebagaimana firman Alloh SWT dalam QS. An-Nahl ayat 44:

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”(QS. An-Nahl : 44

3. Menetapkan dan mengadakan hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hukum yang terjadi adalah merupakan produk Hadits/Sunnah yang tidak ditunjukan oleh Al-Qur’an. Contohnya seperti larangan memadu perempuan dengan bibinya dari pihak ibu, haram memakan burung yang berkuku tajam, haram memakai cincin emas dan kain sutra bagi laki-laki.

D. Kewajiban Umat Islam Terhadap Hadits

Perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullih SAW. Menjadi suritauladan bagi umat manusia. Dalam sebuah hHadits disebutkan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan Akhlaq dan budi pekerti manusia. Kebiasaan-kebiasaan kaum muslimin pada masa sahabat adalah mengambil hukum-hukuim syariat Islam dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasululloh SAW. Begitu pula dengan Amirul Mu’minin sampai para wali maupun pejabat-pejabat pemerintah lainnya.

Kaum muslim sepakat bahwa Hadits merupakan hukum yang kedua setelah Al-Qur’an. Hal ini berdasarkan kepada kesimpulan yang diperoleh dari dalil-dalil yang memberi petunjuk tentang kedudukan dan fungsi Hadits. Maka dengan demikian kewajiban umat Islam Hadits harus dijadikan hukum (hujjah) dalam melaksanakan perintah Al-Qur’an yang masih bersifat Ijma dan Hadits sebagai penjelas untuk melaksanakannya. Melaksanakan apa yang dicontohkan oleh Rasululloh SAW berarti mentaati perintah-perintah Alloh.

Alloh SWT berfirman :

`

“Barang siapa yang mentaati Rosul, maka sesugguhnya dan telah mentaati Alloh”. (QS. An-Nisa : 80)

Dalam ayat lain Alloh berfirman :

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka termalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. (QS. Al-Hasyr : 7)

Dari penjelasan kedua ayat di atas jelaslah bahwa umat Islam harus menjadikan Hadits dan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

KESIMPULAN

Dari berbagai uraian yang telah disampaikan pada bab sebelumnya dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Hadits merupakan berbagai hal yang telah diucapkan dan dicontohkan oleh Rosululloh yang harus dajadikan pedoman dan contoh bagi umat Islam

2. Fungsi Hadits terhadap Al-Qur’an adalah sebagai penguat dan memperjelas apa-apa yang ada di dalam Al-Qur’an yang masih bersifat global (mu’mal).

3. Hadits dan Al-Qur’an adalah merupakan sumber hukum dalam kehidupan manusia untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

DAFTAR PUSTAKA

DR. H. Bisri Affandi, MA. (1993) “Dirasat Islamiyyah (Ilmu Tafsir & Hadits)”.CV Aneka Bahagia Offset,

Taqiyyudin an-Nabhani (2003) “Peraturan Hidup dalam Islam” Bogor, Pustaka Thariqul ‘Izzah

Drs. Ahmad Syauki (1984) “Lintasan Sejarah Al-Qur’an”, Bandung CV Sulita Bandung.


UNSUR-UNSUR POKOK DALAM HADIS

Seorang yang tidak meliha dengan mata kepala sendiri suatu peristiwa masih dapat mengetahuinya melalui pemberitaan. Persoalannya, tidak semua pemberitaan itu benar. Ada pemberitaan yang bias, atau sengaja di buat keliru. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk melakukan klarifikasi atas berita-berita yang di terima agar tidak keliru dalam menilai suatu peristiwa di masa lalu.

Kebenaran suatu berita sangat di tentukan oleh kualitas pewarta, yang darinya suatu berita diterima. Jika pewarta bertingkat-tingkat, maka pewarta terakhir harus mampu menunjukan kesinambungan urutan pewarta sebelumnya sampai kepewarta-pewarta pertama, yang mengantarkan berita tersebut hingga sampai kepada dirinya1.
Demikian halnya dengan hadis Nabi SAW. Untuk menerima hadis dari Nabi Muhammad unsur-unsur tersebut, yakni pewarta (rawi), materi berita (matnul hadis) dan sandaran berita (sanad). Satupun tidak dapat ditinggalkan.

A. RAWI

1.Ta’rif Rawi

Rawi adalah orang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu kitab apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (guru). Bentuk jamaknya ruwah dan perbuatannya menyampaikan hadis tersebut dinamakan me-rawi (meriwayatkan hadis). Seorang penyusun atau pengarang, bila hendak menguatkan suatu hadis yang ditakhrijkan dari suatu kitab hadis pada umumnya membubuhkan nama rawi (terakhirnya) yakni salah satunya Imam Muslim, Imam Bukhari, Abu Daud, Ibnu Mazah, dan lain sebagainya, pada akhir matnul hadis. Ini berarti bahwa rawi yang terkhir bagi kita semisal Bukhari dan Muslim, kendatipun jarak kita dan beliau sangat jauh dan tidak segenerasi, namun demikian kita dapat menemui dan menguji kitab beliau, yang hal ini merupakan sanad yang kuat bagi kita bersama.2

2.Sistem Para Penyusun Kitab Hadis dalam Menyebutkan Nama Rawi yang Terakhir

Untuk menghemat mencantumkan nama-nama rawi yang banyak jumlahnya, penyusun kitab hadis, biasanya tidak mencantumkan nama-nama para perawi secara keseluruhan, melainkan hanya merumuskan dengan bilangan yang menunjukan banyak atau sedikitnya rawi hadis pada akhir matnul hadisnya. Misalnya rumusan yang di ciptakan oleh

Ibnu Isma’il as-Shan’any dalam kitab Subulus-Salam:3

a)Akhrajahus-Sab’ah:Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Abu Dawud, Turmidzi, An-Nasa’iy, dan Ibnu Majah.
b)Akhrajahus-Sittah: diriwayatkan oleh enam rawi, yakni tujuh rawi diatas kecuali Imam Ahmad.
c)Akhrajahul-Khamsah: diriwayatkan oleh lima orang rawi, yakni tujuh rawi diatas, di kurangi Buklhari dan Muslim. Rumusan ini dapat diganti dengan istilah Akhrajahul-Arba’ah wa Ahmad.
d)Akhrajahul-Arba’ah: Ashabus-Sunan yang empat yakni Abu Dawud, At-Turmidzi, An-Nasa’iy, dan Ibnu Majah.
e)Akhrajus-Tsalatsah: diriwayatkan oleh tiga orang rawi yakni Abu Dawud, At-Turmidzi, dan An-Nasa’iy.
f)Akhrajahus-Syaikhain: diriwayatkan dua imam hadis yakni Bukhari dan Muslim.
g)Akhrajahul-Jama’ah: diriwayatkan oleh rawi-rawi hadis yang banyak jumlahnya.
h)Muttafakun ‘Alaih: diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan Imam Ahmad (rumusan yang diciptakan oleh Mansur Ali Nashif).

3. Bentuk dan Sistem Para Muhadditsin dalam Menyusun Kitab Hadis

Dalam menghimpun dan menyusun kitab-kitab hadis para muhaditsin menggunakan tiga bentuk:
a)Takhrij
Istilah takhrij dalam penggunaan fi’il Madlinya memakai kata akhraja yang mempunyai tiga pengertian yakni:
Suatu usaha menjadi sanad hadis yang terdapat dalam sebuah kitab hadis karya orang lain menyimpang dari pada sanad hadis karya orang lain tersebut. Usaha mukharrij (oranr yang mentakhrijkan) tersebut di himpun dalam sebuah kitab, dn kitab yang demikian inilah yang disebut Mustakhraj misalnya: Mustakhraj Abu Nu’aim adalah salah satu kitab takhrij hadis soheh Bukhari, dan takhrij Ahman bin Hamdan adalah salah satu dari kitab mustakhraj soheh Muslim.
Suatu penjelasan dari penyusun hadis bahwa hadis yang dinukilnya terdapat dalam kitab hadis yang telah disebut nama penyusunnya. Misalnya apabila pada nuklin hadisnya menggunakan istilah akhrajahul Bukhari, hadis itu dinukil dari kitab Sohih Bukhari.
Suatu istilah penyusun hadis untuk mencari derajat, sanad, dan rawi hadis yang diterangkan oleh pengarang suatu kitab.
b)Tashnif
Tashnif ialah usaha menhimpun/menyusun beberapa hadits ( kitab hadits ) dengan membubuhi keterangan mengenai arti kalimat yang sulit-sulit dan memberikan interpretasi sekedarnya . Kalau dalam memberikan interpretasi itu dengan jalan memberikan dan menjelaskan dengan hadits lain,dengan ayat-ayat Al-Qur’an atau ilmu-ilmu yang lain, maka usaha semacam ini disebut men-syarah-kan, misalnya: shahihu’l Bukhary bi Syahri’l Kirmany, oloeh Muhammad Ibn Yusuf Al-Kirmany.
c)Ikhtishar
Ikhtishar ialah suatu usaha untuk meringkaskan kitab-kitab Hadits. Yang diringkas biasanya ialah sanadnya dan hadits-hadits yang telah berulang-ulang disebutkan oleh pengarang semula, tidak perlu ditulis kembali.Diantara mukhtasharShahih Bukhary ialah kitab Mukhtasharul Bukhary, karya Abul Abbas Al-Qurtuby.Perbedaan antara kitab Mustakhraj dan Mukhtashar ialah Kitab Mushtakhraj itu tidak perlu adanya persesuaian lafadh dengan kitab yang di takhrijkan bahkan kadang ditemui adanya perbedaan lafadh dan perubahan yang sangat menonjol, sehingga mengakibatkan perbedaan arti.

4.Gelar Rawi Hadits

Para imam ahli hadits mendapat berbagai gelar sesuai keahlian dibidang ilmu hadits yang dimilikinya, termasuk kemampuannya menghafal ribuan hadits. Gelar yang di maksud adalah sebagai berikut:
a)Amirul Mukminin fil Hadits
Gelar ini diberikan kepda khalifah setelah khalifah Abu Bakar As-Shidiq. Mereka yang memperoleh gelar ini antara lain Syu’bah Ibnu al-Halaj, Sofyan ats-Tsauri, Ishak Ibnu Rahawaih, Ahmad Ibnu Hambal, Bukhari ad-Daruqutni, dan Muslim.
b)Al-Hakim
Yaitu gelar keahlian bagi imam-imam hadits yang menguasai seluruh hadits yang marwiyah (diriwayatkan), baik matan, maupun sanadnya dan mengetahui ta’dil (terpuji) dan tajrih (tercela)-nya rawi-rawi. Setiap rawi di ketahui sejarah hidupnya, perjalanannya, guru-guru, dan sifat-sifatnya yang dapat duterima maupun di tolak. Beliau harus dapat menghafal hadits lebih dari 300.000 hadits beserta sanadnya.4 Yang dapat belar ini antara lain Imam Syafi’i dan Imam Malik.
c)Al-Hujjah
Yaitu gelar para imam ahli hadits yang mampu menghafal 300.000 hadits baik matan, sanad, maupun ikhwal biografi para perawinya termasuk tentang keadilan dan cacat yang dimilikinya. Diantara mereka adalah Hisyam bion Urwah (wafat 146 H), Muhamad bin al-Walid (wafat 149 H) dan Muhamad Abdullah bin Amr (wafat 242 H).
d)Al-Hafidz
Merupakan gelar yang di berikan kepada ahli hadits yang dapat menshahihkan sanad dan matan hadits serta dapat menunjukan keadilan maupun cacat perawinya. Al-Hafidz mampu menghafal 100.000 hadits. Di antaranya adalah Al-Iraqiy, Syarafuddin ad-Dimyathi, Ibnu Hajar al-Asqolani dan Ibnu Daqiqil id.
e)Al-Muhadditsin
Ada yang berpendapat bahwa Al-Muhadits sama dengan Al-Hafidz namun belakangan, Al-Muhaddis diberikan kepada orang yang mampu nengetahui sanad, illat, nama rawi, tinggi rendahnya derajat hadits dan memahami kutubus-Sittah, musnad Imam Ahmad, Sunan Baihaqi, Mu’jam Thabrani. Ia juga mampu menghafal 1.000 hadits di antaranya adalah Atha’ bin Abi Ribah (wafat 115 H) dan Imam Az-Zabidi (ulama yang meringkas kitab Bukhari-Muslim).
f)Al-Musnid
Yakni gelar kleahlian bagi orang yang meriwayatkan hadits beserta sanadnya baik menguasai ilmunya atau tidak. Al-Musnad juga di sebut dengan At-Thalib, Al-Mubtadi’ dan Ar-Rawi.5

B. MATNUL HADITS

Kata matan menurut bahasa berarti: keras, kuat, suatu yang nampak dan yang asli. Dalam perkembangan karya penulisan ada matan dan syarah. Matan disini di maksudkan karya atau karangan asal seseorang yang pada umumnya menggunakan bahasa yang universal, padat, dan singkat. Dimaksudkan dalam konteks hadits, hadits sebagai matan kemudian diberikan syarah atau penjelasan yang luas oleh para ulama, misalnya Shahih Bukhari disyarahkan oleh Al-Asqolani dengan nama Fath al-Bari’ dan lain-lain.6

Yang di sebut dengan matnul hadits, ialah pembicaraan (kalam) atau materi berita yang diover oleh sanad yang terakhir. Baik pembicaraan itu sabda Rasulullah saw, sahabat atau tabi’in. Baik isi pembicaraan itu tentang perbuatan Nabi, maupun perbuatan sahabat yang tidak di sanggah oleh Nabi.7 Misalnya, Al-Hakim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,”Penghulu syuhada adalah Hamzah dan orang yang berdiri dihadapan penguasa untuk menasehatinya lantas ia dibunuh karenanya”. Pernyataan demikian merupakan matan (isi dari sebuah hadits) yang diriwayatkan oleh Imam Malik. Contoh lain, Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,”Masyarakat itu berserikat dalam tiga barang: air, padang gembalaan, dan api”. Sabda Rasul tersebut merupakan matan hadits yang diriwayatkan oleh kedua perawi hadits tersebut.8

C. SANAD

1. Arti Sanad

Sanad atau thariq, ialah jalan yang dapat menyambungkan matnul hadits kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw. Dalam bidang ilmu haduts sanad itu merupakan neraca untuk menimbang shahih atau dhaifnya. Andai kata salah seorang dalam sanad ada yang fasik atau yang tertuduh dusta atau jika setiap para pembawa berita dalam mata rantai sanad tidak bertemu langsung (muttashil), maka hadits tersebut dhaif sehingga tidak dapat dijadikan hujja. Demikian sebaliknya jika para pembawa hadits tersebut orang-orang yang cakap dan cukup persyaratan, yakni adil, takwa, tidak fasik, menjaga kehormatan diri (muru’ah), dan memilikimdaya ingat yang kredibel, sanadnya bersambung dari satu periwayat ke periwayat lain sampai pada sumber berita pertama, maka haditsnya dinilai shahih.9

Tidak layak naik ke loteng atau atap rumah kecuali dengan tangga. Maksud tangga adalah sanad, jadi seseorang tidak akan mungkin sampai kepada Rasulullah dalam periwayatan hadits melainkan harus melalui sanad. Pernyataan di atas memberikan petunjuk, bahwa apabila sanad suatu hadits benar-benar dapat di pertanggung jawabkan keshahihannya, maka hadits itu pada umumnya berkualitas shahih dan tidak ada alasan untuk menolaknya. Studi sanad khusus hanya dimiliki umat Muhammad, umat-umat terdahulu sekslipun dalam penghimpunan kitab suci mereka dan juga tidak ditulis pada masa Nabi nya tidak disertai sanad. Padahal ditulis setelah ratusan tahun dari masa Nabi nya. Kitab suci mereka ditulis berdasarkan ingatan beberapa generasi yang dinisbatkan pada Nabi Isa yang tidak di sertai dengan sanad.10

1.Arti Isnad, Musnid dan Musnad

Usaha seseorang ahli hadits dalam menerangkan sebuah hadits yang diikutinya dengan penjelasan kepada siapa hadits itu disandarkan, disebut meng-isnad-kan hadits. Hadits yang telah di isnadkan oleh si Musnid (orang yang mengisnadkan) disebut dengan hadits musnad. Misalnya musnad Asy-Syihhab dan musnad Al-Firdaus, merupakan kumpulan hadits yang telah di isnadkan oleh Asy-Syihhab dan Al-Firdaus.
Selain itu musnad dapat juga berarti :
a)Hadits yang marfu’ lagi muttasil (sanadnya bersambung-sambung, tidak terputus)
b)Nama kitab yang menghimpun seluruh hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat.11
Dalam kitab musnad ini, nama shahabatlah yang di ketengahkan sebagai maudlu’ (objek). Semua hadits yang diriwayatkan oleh seorang shahabat terhimpun dalam satu kelompok, tanpa diklasifikasikan isinya dan tanpa disisihkan antara makna hadits yang shahih dan yang dlaif.

2.Tinggi Rendahnya Rangkaian Sanad

Sebagaimana dimaklumi, bahwa suatu hadits sampai kepada kita melalui sanad-sanad. Setiap sanad bertemu dengan rawi yang dijadikan sandaran menyampaikan berita (sanad setingkat lebih di atas), sehingga seluruh sanad itu merupakan suatu rangkaian. Rangkaian sanad itu adalah berderajat tinggi, sedang dan lemah, mengingat perbedaan ke-dlabith-an (kesetiaan ingatan) dan keadilan rawi yang dijadikan sanadnya. Rangkaian sanad yang berderajat tinggi menjadikan suatu hadits lebih tinggi derajatnya dari pada hadits yang rangkaian sanadnya sedang atau lemah.

12 Para muhaditsin membagi tingkatan sanadnya menjadi tiga bagian,yaitu:
a)Ashahhul Asanid (sanad-sanad yang lebih shahih), contoh Ashahhul Asanid dari sahabat tertentu yaitu, Umar bin Khaththab r.a., ialah yang diriwayatkan oleh Ibnu Syihab Az-Zhuhri dari Salim bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya (Abdullah bin Umar), dari kakeknya (Umar bin Khaththab).
b)Ahsanul Asanid (sanad-sanad yang lebih hasan). Sanad ini lebih rendah derajatnya daripada yang bersanad Ashahhul Asanid. Contoh bila hadis tersebut bersanad antara lain : Bahaz bin Hakim dari ayahnya (Hakim bin Mu’awiyah) dari kakeknya (Mu’awiyah bin Haidah) dan Amru’ bin Syuaib dari ayahnya (Syuaib bin Muhamad) dari kakeknya (Muhamad bin Abdillah bin Amr bin Ash).
c)Adl’aful Asanid (sanad-sanad yang lebih lemah), rangkaian sanad yang Adl’aful Asanid salah satunya adalah : Abu Bakar As-Shidiq r.a., ialah yang diriwayatkan oleh Shadaqah bin Musa dari Abi Ya’qub Farqad bin Ya’qub dari Murrah Ath-Thayyib dari Abu Bakar r.a.


ari ilmu hadits riwayah dan dirayah, pada perkembangan berikutnya muncullah cabang-cabang ilmu hadits lainnya, diantaranya :

  • Ilmu Rijal al-Hadits
  • Ilmu Al-jarh wa At-Ta’dil
  • Tarikh al-Ruwah
  • Ilmu ‘llal Al-Hadits
  • Ilmu Al-nasikh wa Al-mansukh
  • Ilmu Asbab Wurud Al-Hadits
  • Ilmu Gharib Al-Hadits
  • Ilmu Tasikh wa al-Tahrif
  • Ilmu Mukhtalif Al-Hadits

Dalam pembahan ini, kami akan menguraikan satu persatu ilmi-ilmu diatas

1.Ilmu Rijal al-Hadits
Ilmu Rijal al-Hadits ialah “Ilmu untuk mengetahui para perawi hadits dalam kapasitasnya dalam perawi hadits”. dalam buku ilmu hadits (kajian riwayah dan dirayah ) karangan Prof. DR. H. Endang Soetari AD.,M.Si. disebutkan Ilmu Rijal al- Hadits adalah ilmu yang membahas tentang hal ihwal dan sejarah para rawi dari kalangan sahabat, tabi’in dan atba’ al-Tabi’in. para ulama muhaditsin mendefinisikan ilmu Rijal al- Hadits ialah ilmu yang membahas tentang para perawi dan biografinya dari kalnagn sahabat, tabi’in dan tabi’. Al- Tabi’in .
ilmu ini sangat penting kedudukannya dalam dalam lapangan ilmu hadits. Karena obyek kajian hadits pada dasarnya ada dua hal, yaitu matan dan sanad. Ilmu Rijalul Hadits ini lahir bersama-sma dengan periwayatan hadits dalam Islam dan mengambil kedudukan khusus untuk mempelajari persoalan-persoalan sanad.
Diantaranya akitab yang paling tua yang menguraikan tentang sejarah para perawi Thobaqat demi Thobaqat adalah karya Muhammad Ibn Sa’ad (W. 230 H) yaitu Thobaqat al-ruwwah dan lain-lain. Apabila dilihat lebih lanjut, ditemukan adanya dua cabang ilmu hadits lainya yang dicakup oleh ilmu ini; ilmu al- Jarh wa at-ta’dil dan ilmu tarikh al- Ruwwah

2.Ilmu al- Jarh wa at- Ta’dil
Ilmu al- Jarh, dan secara bahasa berarti luka, cela, atau cacat, adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari kecacatan para perawi, seperti pada keadilan dan kedhabitanya. Para ahli hadits mendefinisikan al- Jarh dengan:
“kecacatan para perawi hadits disebabkan oleh sesuatu yang dapat merusak keadalian atau kedhabitan perawi”.
Seang at- Ta’dil secara bahasa berarti at- Tasywiyah (menymakan) menurut istilah berarti:
“lawan dari al- Jarh, yaitu pembersihan atau pensucian perawi dan perawi dan ketetapan, bahwa ia adil atau dhabit”,
Ulama laian mendefinisikan al- Jarh dan at- Ta’dil dalam satu definisi yaitu ilmu yang membahas tentang para perwai hadits dari segi yang dapat menunjukkan keadaan mereka, dengan ungkapan atau lafaz tertentu.
Ilmu ini digunakan untuk menetapkan apakah periwayatan seorang perawi itu bisa diterima atau harus ditolak sama sekali. Apabila seorang rawi “ Jarh” ole para ahli sebagai rawi yang cacat maka periwayatannya harus ditolak. Sebaliknya, bila dipuji maka haditsnya bisa diterima Selama syarta-syarat yang lain dipenuhi.
Kecacatan rawi itu bisa ditelusuri melalui perbuatan-perbuatan ynag dialakuaknya, biasanya dikatagorikan dalam lingkup perbutan:
– bid’ah, yakni melakukan tindakan tercela atau diluar ketentuan Syariah
– mukalaf, yakni berbeda dengan periwayatan dari rawi yang lebih Tsiqqah
– Ghalath, yakni banyak melakuakn kekeliruan dalam meriwayatkan hadits
– Jahalat al- Hal, yaitu tidak diketahui identitasnya secara jelas dan lengkap
– Da’wat al-Inqitha’, yaitu diduga penyandaran (sanad) –nya tidak bersambung
Adapun informasi Jarh dan Ta’dilnya seorang rawi bisa diketahui melalui dua jalan, yaitu:
a) popualaritas para perawi dikalangan para ahli ilmu bahwa mereka dikenal dengan seorang yang adil, atau rawi yang mempunyai aib.
b) Berdasarkan pujian atau pen-tajrih-an dari rawi lain yang adil. Bila seorang rawi yang adil menta’dilkan seorang rawi yang lain yang belum dikenal keadilanya, maka telah dianggap cukup dan rawi bisa menyandang gelar adail dan periwaytanya bisa diterima.

3. Ilmu Tarikh ar- Ruwwah
Ilmu tarikh ar- Ruwwah ialah
“ ilmu untuk mengetahui para perwai Hadis yang berkaitan dengan usaha periwayatan mereka terhadap hadits”.
Dengan ilmu ini akan diketahui keadaan dan identitas para perawi, seperti kelahirannya, wafatnya, guru-gurunya, masa, atau waktu mereka mendengar hadits dari gurunya, siapa yang meriwayatakan hadits darinya, tempat tinggal mereka, tempat mereka mengadakan lawatan, dan lain-lain. Sebagai bagian dari ilmu Rijal al- Hadits, ilmu ini mengkhususkan pembahasanya secara mendalam pada sudut kesejarahan dari orang-orang yang terlibat dalam periwayatan
Jadi ilmu tarikh ar- ruwah ini merupakan senajata yang ampuh untuk megetahui keadaan rawi yang sebenarnya, terutama untuk membongkar para perawi

4. Ilmu ‘Ilal al- Hadits
Kata ‘ilal adalah bentuk jama dari kata al- ‘Ilah, yang menurut bahasa adalah “al- Marad (penyakit atau sakit). Menurut Muhaddisin, istilah ‘ilah berarti sebab yang tersembunyi atau samar-samar yang berakibat tercemarnya hadits. Akan tetapi yang terlihat adalah kebalikanya yakni tidak terlihat adanya kecacatan.

5. Ilmu Asbab Wurud al- Hadits
Kata Asbab adalah jam’ dari sabab. Menurut ahli bahasa diartikan dengan “ al- Habl” (tali), saluran, yang artinya dijelaskan sebagai: “segala yang menghubungkan satu beda dengan benda dengan benda yang lainnya”.
Menurut istilah adalah
“ segala sesuatu yang mengantarkan pada tujuan”.
Ada juga yang mendefinisikan dengan: “sesuatu jalan menuju terbentuknya suatu hokum tanpa adanya pengaruh apa pun dalam hokum itu”.
Sedangkan kata Wurud bisa berarti sampai, muncul, dan mengalir, seperti:
“ air yang memancar, atau air yang mengalir”
Dalam pengertian yang lebih lua, AL- Suyuthi merumuskan pengertian asbab wurud al- hadits dengan: “sesuatu yang membatasi arti suatu hadits, baik berkaitan dengan arti umum atau khusus, mutlak atau muqayyad, dinasak.

>> Asbabul Wurud : ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi menuturkan sabdanya dan masa-masanya Nabi menuturkan itu.

Pembagian Asbabul Wurud : ada hadits yang mempunyai sebab disabdakan dan ada hadits yang tidak mempunyai sebab-sebab disabdakan.

(1) Hadits yang mempunyai sebab disebutkan dalam hadits itu sendiri. Misalnya hadits yang timbul karena pertanyaan Jibril kepada Nabi SAW tentang pengertian Islam, Iman, dan Ihsan.

(2) Hadits yang sebab tidak disebutkan dalam hadits tersebut tetapi disebutkan pada jalan (thuruq) hadits yang lain, misalnya : hadits yang menerangkan shalat yang paling utama bagi wanita adalah di rumah kecuali shalat fardhu.

Asbabul Wurud ditentukan oleh beberapa hal :

(1) Ada ayat al-Qur’an yang perlu diterjemahkan Rasulullah. Fungsi hadits sebagai Tafsirul Qur’an bis Sunnah).

(2) Ada matan hadits yang masih perlu dijelaskan oleh Rasulullah. Hadits yang dijelaskan itu merupakan sababul wurud dari hadits berikutnya.

(3) Ada peristiwa yang timbul yang perlu dijelaskan oleh Rasulullah.

(4) Ada masalah atau pertanyaan dari para sahabat. Ulama yang mula-mula menyusun kitab mengenai asbabul wurud adalah Abu Hafsah al-‘Akbari (380-456 H). As-Suyuthi – karyanya berjudul “al-Muma’ fi Asb al-Hadits” 5. Urgensi Asbabul Wurud : dapat membantu atau menolong dalam memahami hadits secara benar. Jika hadits tidak diketahui asbabul wurudnya, akan mengaburkan pemikiran seseorang dalam memahamai hadits, bahkan bisa salah sama sekali. Misalnya sebuah hadits yang berbunyi :
“Barang siapa menyerupai kaum maka termasuk golongan mereka”

Menurut Muh.Zuhri, hadits ini pernah dipahami, karena penjajah orang kafir itu bercelana panjang dan berdasi, maka orang Islam yang berpakaian semacam itu termasuk kafir, berdasarkan hadits tersebut


Hadis Qauli

Hadis Qauli adalah:

Seluruh Hadis yang diucapkan Rasul SAW untuk berbagai tujuan dan dalam berbagai kesempatan. (Wahbah al-Zuhayli, Ushul al-Fiqh al-Islami, Beirut: Dar al-Fikr, 1406 H/1986M, juz 1, h.450)

Khusus bagi para Ulama Ushul Fiqh, adalah seluruh perkataan yang dapat dijadikan dalil untuk menetapkan hukum syara’. Contoh Hadis Qauli adalah, seperti sabda Rasul SAW mengenai status air laut. Beliau bersabda:

Dari Abu Hurairah r. a., dia berkata, bersabda Rasulullah SAW tentang laut, “Airnya adalah suci dan bangkainya adalah halal.” (Muhammad ibn Ismail al-Kahlani, Subul al-Salam, Juz 1, Bandung:Dahlan, t.t., h.14-15)

Contoh lain adalah Hadis mengenai niat:

Dari ‘Umar ibn al-Khaththab r.a., dia berkata, “Aku mendengar Rasul SAW bersabda, `Sesungguhnya seluruh amal itu ditentukan oleh niat, dan sesungguhnya setiap orang akan memperoleh sesuai dengan niatnya. Maka barangsiapa yang melakukan hijrah untuk kepentingan dunia yang akan diperolehnya, atau untuk mendapatkan wanita yang akan dinikahinya, maka ia akan memperoleh sebatas apa yang ia niatkan ketika berhijrah tersebut’.”

(Bukhari, Shahih al-Bukhari, juz 1, h.2)

Hadis Fi’li

Hadis Fi’li adalah:

Yaitu seluruh perbuatan yang dilaksanakan oleh Rasul SAW. (Wahbah al-Zuhayli, Ushul al-Fiqh al-Islami, juz 1, h.450) .

Perbuatan Rasul SAW tersebut adalah yang sifatnya dapat dijadikan contoh teladan, dalil untuk penetapan hukum syara’, atau pelaksanaan suatu ibadah. Umpamanya, tata cara pelaksanaan ibadah shalat, haji, dan lainnya. Tentang cara pelaksanaan shalat, Rasul SAW bersabda:

… Dan shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat. (Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari, Shahih Bukhari. Juz 1, h.135)

Salah satu tata cara yang dicontohkan Nabi SAW dalam pelaksanaan shalat adalah, cara mengangkat tangan ketika bertakbir di dalam shalat, seperti yang diceritakan oleh ‘Abd Allah ibn ‘Umar sebagai berikut:

Dan ‘Abd Allah ibn ‘Umar, dia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW apabila dia berdiri melaksanakan shalat, dia mengangkat kedua tangannya hingga setentang kedua bahunya, dan hal tersebut dilakukan beliau ketika bertakbir hendak rukuk, dan beliau juga melakukan hal itu ketika bangkit dari rukuk seraya membaca, ‘Sami’ Allahu liman hamidah’. Beliau tidak melakukan hal itu (yaitu mengangkat kedua tangan) ketika akan sujud.” (Bukhari, Shahih al-Bukhari, juz 1, h.180)

Hadits Taqriri

Taqrir adalah keadaan beliau yang mendiamkan atau tidak mengadakan sanggahan dan reaksi terhadap tindakan atau perilaku para sahabatnya serta menyetujui apa yang dilakukan oleh para sahabatnya itu.

Hadits Himma ( cita-cita )

adalah suatu keinginan atau cita-cita nabi dan nabi belum melakukannya . cita -cita nabi karena ketakutan beliau masihkan diberi kesempatan untuk hidup

Himmah (keinginan) Nabi untuk melaksanakan suatu hal, seperti keinginan beliau untuk berpuasa setiap tanggal 9 Muharram.

Hadits Ahwal

adalah hadits pribadi nabi baik fisik maupun psikologis

- Sifat-sifat Nabi yang digambarkan dan dituliskan oleh para sahabatnya dan dan para ahli sejarah baik mengenai sifat jasmani ataupun moralnya

- Silsilah (nasab), nama-nama dan tahun kelahirannya yang ditetapkan oleh para sejarawan


Ulumul Hadis

Ulumul Hadis adalah istilah ilmu hadis di dalam tradisi ulama hadits. (Arabnya: ‘ulumul al-hadist). ‘ulum al-hadist terdiri dari atas 2 kata, yaitu ‘ulum dan Al-hadist. Kata ‘ulum dalam bahasa arab adalah bentuk jamak dari ‘ilm, jadi berarti ”ilmu-ilmu”; sedangkan al-hadist di kalangan Ulama Hadis berarti “segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi SAW dari perbuatan, perkataan, taqir, atau sifat.” (Mahmud al-thahhan, Tatsir Mushthalah al-hadist (Beirut: Dar Al-qur’an al-karim, 1979), h.14) dengan demikian, gabungan kata ‘ulumul-hadist mengandung pengertian “ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan Hadis nabi SAW”.

Ilmu Hadis Riwayah

Menurut Ibn al-Akfani, sebagaimana yang dikutip oleh Al-Suyuthi, bahwa yang dimaksud Ilmu Hadis Riwayah adalah: Ilmu Hadis yang khusus berhubungan dengan riwayah adalah ilmu yang meliputi pemindahan (periwayatan) perkataan Nabi saw dan perbuatannya, serta periwayatannya, pencatatannya, dan penguraian lafaz-lafaznya. (Jalal al-din ‘Abd al-Rahman Ibn Abu Bakar al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi. Ed. ‘Abdul Al-Wahhab’ Abd al-Lathif (Madinah: Al-Maktabat al-‘Ilmiyyah.cet kedua. 1392 H/ 1972 M), h. 42; Lihat juga M. Jammaluddin al-Qasimi, Qawa’id al-Tahdist min Funun wa Mushthalah al-Hadist (Kairo: Al-Bab al-Halabi, 1961). H. 75)

Sedangkan pengertian menurut Muhammad ‘ajjaj a-khathib adalah: Yaitu ilmu yang membahas tentang pemindahan (periwayatan) segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw, berupa perkataan, perbuatan, taqrir (ketetapan atau pengakuan), sifat jasmaniah, atau tingkah laku (akhlak) dengan cara yang teliti atau terperinci. (Lihat M.’Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), h.7.

Definisi yang hampir sama senada juga dikemukkan oleh Zhafar Ahmad ibn Lathif al-‘Utsmani al-Tahanawi di dalam Qawa’id fi ‘ulum al-Hadist, Ilmu hadis yang khusus dengan riwayah adalah ilmu yang dapat diketahui dengan perkataan, perbuatan dan keadaan Rasulullah saw serta periwayatan, pencatatan, dan penguraian lafaz-lafaznya. (Zhafar Ahmad ibn Lathif al-‘Utsmani al- Tahanawi, Qawa ‘id fi ‘ Ulum al-Hadist, Ed. ‘Abd al-Fattah Abu Ghuddah (Beirut: Maktabat al-Nahdhah, 1404 H/ 1984).h.22.).

Dari ketiga definisi di atas dapat dipahami bahwa Ilmu Hadis Riwayah pada dasarnya adalah membahas tentang tata cara periwayatan, pemeliharaan, dan penulisan atau pembukuan Hadis Nabi saw.

Objek kajian ilmu Hadis Riwayah adalah Hadis Nabi saw dari segi periwayatan dan pemeliharaannya. Hal tersebut mencakup:

1.Cara periwayatan Hadis, baik dari segi cara penerimaan dan demikian juga dari cara penyampaiannya dari seorang perawi ke perawi lain;
2. Cara pemeliharaan Hadis, yaitu dalam bentuk penghafalan, penulisan, dan pembukuannya.

Ilmu Hadis Riwayah ini sudah ada semenjak Nabi saw masih hidup, yaitu bersamaan dengan dimulainya periwayatan dengan hadis itu sendiri. Para Sahabat Nabi saw menaruh perhatian yang tinggi terhadap Hadis Nabi saw. Mereka berusaha untuk memperoleh Hadis-Hadis Nabi saw dengan cara mendatangi Majelis Rasul saw serta mendengar dan menyimak pesan atau nasihat yang disampaikan beliau. Sedemikian besar perhatian mereka, sehingga kadang-kadang mereka berjanji satu sama lainnya untuk bergantian menghadiri majelis Nabi saw. Tersebut, manakala di antara mereka ada yang sedang berhalangan. Hal tersebut seperti yang dilakukan Umar r.a., yang menceritakan, “Aku beserta tetanggaku dari kaum Ansar, yaitu Bani Umayyah ibn Zaid, secara bergantian menghadiri majelis Rasul saw. Apabila giliranku yang hadir, maka aku akan menceritakan kepadanya apa yang aku dapatkan dari Rasul SAW pada hari itu; dan sebaliknya, apabila giliran dia yang hadir, maka dia pun akan melakukan hal yang sama. (“Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits, h. 67).

Demikianlah periwayatan dan pemeliharaan Hadis Nabi saw berlangsung hingga usaha penghimpunan Hadis secara resmi dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz (memerintah 99 H/717 M- 124 H/ 742 M). Al-Zuhri dengan usahanya tersebut dipandang sebagai pelopor Ilmu Hadis Riwayah; dan dalam sejarah perkembangan Hadis, dia dicatat sebagai ulama pertama yang menghimpun Hadis Nabi saw atas perintah Khalifah ‘Umar ibn ‘abd al-Aziz.

Usaha penghimpunan, penyeleksian, penulisan, dan pembukuan Hadis secara besar-besaran terjadi pada abad ke 3 H yang dilakukan oleh para ulama, seperti Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam al-Tarmidzi, dan lain-lain. Dengan dibukukan Hadis-Hadis Nabi saw oleh para Ulama di atas, dan buku mereka pada masa selanjutnya telah jadi rujukan para Ulama yang datang kemudian, maka dengan sendirinya Ilmu Hadis Riwayah tidak banyak lagi berkembang.

Berbeda lagi dengan Ilmu Hadis Dirayah, pembicaraan dan perkembangannya tetap berjalan sejalan dengan perkembangan dan lahirnya sebagai cabang Ilmu Hadis. Dengan demikian, pada masa berikutnya apabila terdapat pembicaraan dan pengkajian tentang Ilmu Hadis Dirayah, yang oleh para Ulama disebut juga dengan ‘Ilm Mushthalah al-Hadist atau ‘Ilm Ushul al-Hadist.

Ilmu Hadis Dirayah

Ibn al-Akfani memberikan Ilmu Hadis Dirayah sebagai berikut: dan Ilmu Hadis yang khusus tentang Dirayah adalah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui hakikat riwayat, syarat-syarat, macam-macam, dan hukum-hukumnya, keadaan para perawi, syarat-syarat mereka, jenis yang diriwayatkan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya (Lihat al-Suyuthi, Tadrb al-Rawi h. 40; Lihat juga al-Qasimi, Qawa’id al-Tahdits, h.75.)

Uraian dan elaborasi dari definisi di atas diberikan oleh Imam al-Suyuthi, sebagai beikut: Hakikat riwayat, adalah kegiatan sunah (Hadis) dan penyandaran kepada orang yang meriwayatkannya dengan kalimat tahdits, yaitu perkataan seorang perawi “haddatsana fulan“, (telah menceritakan kepada kami si Fulan), atau Ikhbar, seperti perkataannya “akhbarana fulan”, (telah mengabarkan kepada kami si Fulan). (al-suyuthi. Tadrib al-Rawi, h. 40.)

Syarat-syarat riwayat, yaitu penerimaan para perawi terhadap apa yang diriwayatkannya dengan menggunakan cara-cara tertentu dalam penerimaan riwayat (cara-cara tahammul al-Hadits), seperti sama’ (perawi mendengarkan langsung bacaan Hadis dari seorang guru), qira’ah (murid membacakan catatan Hadis dari gurunya di hadapan guru tersebut), ijazah (memberi izin kepada seseorang untuk meriwayatkan suatu Hadis dari seorang ulama tanpa dibacakan sebelumnya), kepada seorang untuk diriwayatkan), kitabah (menuliskan Hadis untuk seseorang), munawalah, (menyerahkan suatu hadis yang tertulis kepada seseorang untuk diriwayatkan), kitabah, (menuliskan hadis untuk seseorang), i’lam (memberitahu seseorang bahwa Hadis-Hadis tertentu adalah koleksinya), washiyyat (mewasiatkan kepada seseorang koleksi hadis yang dikoleksinya), dan wajadah (mendapatkan koleksi tertentu tentang Hadis dari seorang guru). (M.M Azami, Studies ih Hadith Methologi and Literature.16: Mahmud al-thahhan. Taisir Mushthalah al-Hadist, h. 157-164)
Muttashil, yaitu periwayatan yang bersambung mulai dari perawi pertama sampai perawi terakhir, atau munqathi’, yaitu periwayatan yang terputus, baik di awal, di tengah, ataupun di akhir, dan lainnya.

Hukum riwayat, adalah al-qabul, yaitu diterimanya suatu riwayat karena telah memenuhi persyaratan tertentu, dan al-radd, yaitu ditolak, karena adanya persyaratan tertentu yang tidak terpenuhi.

Keadaan para perawi, maksudnya adalah, keadaan mereka dari segi keadilan mereka (al’adalah) dan ketidakadilan mereka (al-jarh). Syarat-syarat mereka, yaitu syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang perawi ketika mereka menerima riwayat (syarat-syarat pada tahammul) dan syarat ketika menyampaikan riwayat (syarat pada al-adda’).

Jenis yang diriwayatkan (ashnaf al-marwiyyat), adalah penulisan Hadis di dalam kitab al-musnad, al-mu’jam, atau al-ajza’ dan lainnya dari jenis-jenis kitab yang menghimpun Hadis Nabi saw. Definisi yang lebih ringkas namun komprehensif tentang Ilmu Hadis Dirayah dikemukakan oleh M. ‘Ajjaj al-Khathib, sebagai berikut : Ilmu Hadis Dirayah adalah kumpulan kaidah-kaidah dan masalah-masalah untuk mengetahui keadaan rawi dan marawi dari segi diterima atau ditolaknya. (M, ‘Ajjaj al-khathib, Ushul al- Hadits, h. 8 )

Al-khatib lebih lanjut menguraikan definisi di atas sebagai berikut: al-rawi atau perawi, adalah orang yang meriwatkan atau menyampaikan Hadis dari satu orang kepada yang lainnya; al-marwi adalah segala sesuatu yang diriwayatkan, yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw atau kepada yang lainnya, seperti sahabat atau yang lainnya Tabi’in; keadaan perawi dari segi diterima atau ditolaknya adalah, mengetahui keadaan para perawi dari segi jarh dan ta’dil ketika tahammul dan adda’ al-Hadist, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya dalam kaitannya dengan periwayatan Hadis; keadaan marwi adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan ittishal al-sanad (persambungan sanad) atau terputusnya, adanya ‘illat atau tidak, yang menentukan diterima atau ditolaknya suatu Hadis.

Objek kajian atau pokok bahasan Ilmu Hadis Dirayah ini, berdasarkan definisi di atas, adalah sanad dan matan Hadis.

Pembahasan tentang sanad meliputi: (i) segi persambungan sanad (ittishal al-sanad), yaitu bahwa suatu rangkaian sanad Hadis haruslah bersambung mulai dari Sahabat sampai pada Periwayat terakhir yang menuliskan atau membukukan Hadis tersebut; oleh karenanya, tidak dibenarkan suatu rangkaian sanad tersebut yang terputus, tersembunyi, tidak diketahui identitasnya atau tersamar: (ii) segi kepercayaan sanad (tsiqat al-sanad), yatu setiap perawi yang terdapat di dalam sanad suatu Hadis harus memiliki sifat adil dan dhabith (kuat dan cermat hafalan atau dokumentasi Hadisnya ); (iii) segi keselamatan dan kejanggalan (syadz); (iv) keselamatan dan cacat (‘illat); dan (v) tinggi dan rendahnya martabat suatu sanad.

Sedangkan pembahasan mengenai matan adalah meliputi segi ke-shahih-an atau ke dhaifan-nya. Hal tersebut dapat dilihat dari kesejalananya dengan makna dan tujuan yang terkandung di dalam al-quran, atau selamatnya: (i) dari kejanggalan redaksi (rakakat al-faz); (ii) dari cacat atau kejanggalan dari maknanya (fasad al- ma’na), karena bertentangan dengan akal dan panca indera, atau dengan kandungan dan makna Al-Qur’an, atau dengan fakta sejarah; dan(iii) dari kata-kata asing (gharib), yaitu kata-kata yang tidak bisa dipahami berdasarkan maknanya yang umum dikenal.

Tujuan dan urgensi Ilmu Hadis Dirayah adalah untuk mengetahui dan menetapkan Hadis-Hadis yang maqbul (yang dapat diterima sebagai dalil atau untuk diamalkan) dan yang mardud (yang ditolak).

Ilmu Hadis Dirayah inilah yang pada masa selanjutnya secara umum dikenal dengan Ulumul Hadis, mushthalah al-Hadits, atau Ushul al-Hadits. Keseluruhan nama-nama di atas, meskipun bervariasi, namun mempunyai arti dan tujuan yang sama, yaitu ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah untuk mengetaui keadaan perawi (sanad) dan marwi (matan) suatu Hadis, dari segi diterima dan ditolaknya. (Ibid., h. 9.)

Para ulama Hadis membagi Ilmu Hadis Dirayah atau Ulumul Hadis ini kepada beberapa macam, berdasarkan kepada permasalahan yang dibahas padanya, seperti pembahasan tentang pembagian Hadis Shahih, Hasan, Dan Dha’if, serta macam-macamnya, pembahasan tentang tata cara penerimaannya (tahmmul) dan periwayatan (adda’) Hadis, pembahasan al-jarih dan al-ta’dil serta tingkatan-tingkatannya, pembahasan tentang perawi, latar belakang kehidupannya, dan pengklasikasiannya antara yang tsiqat dan yang dha’if, dan pembahasan lainnya. Masing-masing pembahasan di atas dipandang sebagai macam-macam dari Ulumul Hadis, sehingga, karena banyaknya, Imam al-Suyuthi menyatakan bahwa macam-macam Ulumul Hadis tersebut banyak sekali, bahkan tidak terhingga jumlahnya. (Ibd, h. 11, lihat juga Tadrib al-rawi, h. 53 ). Ibn al-Shaleh menyebutkan ada 65 macam Ulumul Hadis, sesuai dengan pembahasannya, seperti yang dikemukakan di atas. (Abu ‘Amr Ibn al-Shaleh, ‘ulum al-hadits, ed. Nur al-Din ‘Atr (Madinah: Maktabat al-Ilmiyyah, 1972), h 5-10).


Pengertian, Pembagian, dan Contoh Hadits Shahih

Pengertian hadits shahih adalah sebuah hadits yang sanadnya bersambung dan diriwayatkan oleh rawi yang tsiqah[1] Serta tidak ada cacat atau kekurangan dalam hadits tersebut.[2] Atau dalam istilah lain tidak termasuk hadits yang syadz dan mu’allal[3].

Dari pengertian ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa kriteria hadits shahih adalah

a)      Tersambung sanadnya (ittisal as-sanad) artinya setiap hadits yang yang diriwayatkan oleh rowi  kerowi di atasnya sehingga sambung dalam penerimaan haditsnya kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, akan mengecualikan hadits yang munqoti’, muaddlol, mullaq dan mursal.

b)      Diriwayatkan oleh rawi yang tsiqah (‘adil dan dhabit)

Adil adalah sifat yang yang ada pada seseorang yang senantiasa mendorong untuk bertakwa dan menjaga kredibilitasnya. Ini terkait dengan dimensi moral spiritual.

Dlabit adalah sifat terpercaya, hafal di luar kepala, mengetahui arti hadits,dan   mampu untuk menceritakan setiap saat sesuai dengan redaksi saat ia menerima hadits. Dlabit sendiri dibagi menjadi tiga tingkatan:

Tingkat pertama ( al-darojah al-ulya) yang ada pada ‘adil dan dlobid

Tingkat kedua (al-darojah al-wustho) tingkatan yang ada di bawahnya

Tingkat ketiga (al-darojah al-dunya)  bawah tingkat kedua.

c)      Hadits yang diriwayatkan bukan termasuk kategori hadits yang syadz

d)      Hadits yang diriwayatkan harus terbebas dari illat (cacat) yang dapat menyebabkan kualitas hadits menjadi turun. .

Hadits shohih terbagi menjadi dua;

a)      Shohih lidzatihi adalah sebuah hadits ayng mancakup semua syarat hadits shohih dan tingkatan rowi berada pada tingkatan pertama. Contoh;

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

Sehingga apabila sebuah hadits telah ditelaah dan telah memenuhi syarat di atas, akan tetapi tingkatan perowi hadits berada pada tingkatan kedua maka hadits tersebut dinamakan hadits Hasan

b) Shohih lighoirihi

Hadits ini dinamakan lighoirihi karena keshohihan hadits disebabkan oleh sesuatu yang lain. Dalam artian hadits yang tidak sampai pada pemenuhan syarat-syarat yang paling tinggi. Yakni dlobid seorang rowi tidak pada tingkatan pertama. Hadits jenis ini merupakan hadits hasan yang mempunyai beberapa penguat. Artinya kekurangan yang dimiliki oleh hadits ini dapat ditutupi dengan adanya bantuan hadits, dengan teks yang sama, yang diriwayatkan melalui jalur lain. Contoh hadits dari Muhammad bin Amr dari Abi Salamah dari Abi Hurairoh bahwa Nabi bersabda

لو لا أن أشق علي أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة

Letak hadits ini masuk pada kategori lighorihi. Menurut Ibnu Sholah memberi alasan  karena pada Muhammad bin Amr bin al-Qomah  termasuk orang yang lemah dalam hafalan,.kekuatan, ingatan dan juga kecerdasanya, Akan tetapi hadits ini dikuatkan dengan jalur lain, yaitu oleh al A’raj bin Humuz dan sa’id al Maqbari maka bias dikategorikan shohih lighirihi.

Cara mengukur keshohihan hadits..

Untuk mengetahui suatu hadits itu apakah shahih atau tidak, kita bisa melihat dari beberapa syarat yang telah tercantum dalam sub yang menerangkan hadits shahih. Apabila dalam syarat-syarat yang ada pada hadits shahih tidak terpenuhi, maka secara otomatis tingkat hadits itu akan turun dengan sendirinya. Semisal kita meneliti sebuah hadits, kemudian kita temukan salah satu dari perawi hadits tersebut dalam kualitas intelektualnya tidak sempurna. Dalam artian tingkat dlabidnya berada pada tingkat kedua (lihat tingkatan dlabid pada bab hadits shahih), maka dengan sendirinya hadits itu masuk dalam kategori hadits shahih lighoirihi. Dan apabila ada sebuah hadits yang setelah kita teliti kita tidak menemukan satu kelemahanpun dan tingkatan para perawi hadits juga menempati posisi yang pertama , maka hadits itu dikatakan sebagai hadits shahih lidatihi.

Untuk hadits shahih lighoirihi kita bisa merujuk pada ketentuan-ketentuan yang termuat dalam pengertian dan kriteria-kriteria hadits hasan lidatihi. Apabila hadits itu terdapat beberapa jalur maka hadist itu akan naik derajatnya menjadi hadits shahih lighoirihi. Dengan kata lain kita dapat menyimpulkan apabila ada hadits hasan akan tetapi hadits itu diriwayatkan oleh beberapa rawi dan melalui beberapa jalur, maka dapat kita katakana hadits tersebut adalah hadits shahih lighoirihi.

Adapun derajat hadist hasan sama dengan hadist shahih dalam segi kehujjahannya, sekalipun dari sisi kekuatannya berada di bawah hadist shahih. Oleh karena itu mayoritas Fuqaha, Muhaditsin dan Ushuliyyin (ahli Ushul) berpendapat bahwa hadist hasan tetap dijadikan sebagai hujjah dan boleh mengamalkannya.

Pendapat berbeda datang dari kelompok ulama Al-Mutasyaddidun (garis keras) yang menyatakan bahwa hadist hasan tidak ada, serta tidak dapat dijadikan hujjah. Sementara ulama Al-Mutasahilun (moderat) seperti al-Hakim, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah dll justru mancantumkannya ke dalam jenis hadist yang bisa  dijadikan sebagai hujjah walupun tingkatannya dibawah hadits sahih[4].

Sedangkan untuk hadits dhaif Ulama juga berbeda pendapat, yaitu[5] :

  • Mutlak tidak bisa diamalkan baik yang terkait dengan hukum maupun Fadhail al A’mal, menurut Abu Hatim, Bukhori Muslim, dan Abu Bakr ibn al ‘Arabi.
  • Mutlak bisa di amalkan asalkan di tahrij oleh Abu dawud dan Ahmad ibn Hanbal.
  • Bisa diamalkan ketika terkait dengan Fadhailul a’mal, nasihat dan sebagainya.  Selain hukum.inipun harus dengan catatan apabila tidak sangat dha’if dan harus bersamaan dengan riwayat pendukung[6].

Peran At-Tabi’ dalam analisis kualitas Sanad

Sebelum kita mengetahui lebih jauh peran mutabi’ terhadap kualitas sebuah hadits. Sebaiknya kita terlebuh dahulu mengetahui apakah pengertian at tabi’. Mutabi’ merupakan isim fa’il taba’a yang berarti mengikuti. Sedangkan pengertian terminologinya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang berkapasitas sebagai al- mukhorij al- hadits. Di mana hadits itu sesuai dengan hadits yang yang diriwayatkan oleh perawinya. Sedangkan al-mukhorij itu meriwayatkan dari guru perawi pertama atau dari guru gurunya perawi[7]. Pengertian lain mutabi’ adalah hadits yang rowinya itu ada kesesuaian dengan rowi lain yang berkapasitas sebagi mukharriij al hadits. Di mana rawi kedua meriwayatkan dari guru rawi pertama atau dari guru gurunya rawi pertama. Kesesuaian tadi bisa dalam ma’na, redaksi ataupun keduanya[8].

Posisi mutabi’ sangat berpengaruh terhadap kualitas sebuah hadits. Karena ketika ada sebuah hadits yang kurang dari segi sanad, sehingga tidak bisa dapat  dikategorikan sebagai hadits shohih maupun hadits hasan, maka ketika ditemukan hadits yang sama dari jalur lain, posisi hadits yang pertama bisa kuat dan naik menjadi hadits shohih lighoirihi atau hasan lighoirihi.. Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Syafii dari Malik dari Abdullah bin Umar dari Ibn Umar dari Nabi

ألشهر تسع وعثرون فلا تصوم حتى  تروا ألهلال ولاتفطروا حتى تروه فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين يوما

Hadits ini dinilai ghorib karena diduga hanya diriwayatkan oleh Syafii dari Malik. Akan tetapi ditemukan hadits lain yang sama dan diriwayatkan dari Abdullah bin Maslamah al-Qo’nabi dengan jalur sanad yang sama.


[1] Tsiqah adalah seseorang yang  mempunyai sifat ‘adil dan dlobid artinya tidak diragukan kualitas moral maupun intelektualnya.

[2] al-Qosimi, Qawaid al Tahdits…,hlm, 79, Umar Hasim, Qowaid al-Ushul.. , hlm, 39. Ujjaj al-Khotib Ushul al-hadits.., hlm, 305.

[3] Dr. Ahmad Umar Hasyim, Qawaid Ushul al-hadits, (tt: Dar al-Fikri, t.th), hlm 39.

[4]Umar Hasyim, Qowaid al-Ushul.. hlm. 77

[5] Ujjaj al-Khotib Ushul al-hadits.., hlm, 351

[6] al Mun’im as Salim, Taisir al ‘Ulum.., hlm 36-37

[7] Dr. Subhi Sholih, Membahas ilmu-ilmu hadist, terj, 1997, Jakarta: Pustaka Firdaus, hlm, 241

[8] Umar Hasyim,  Qowaid al-Ushul…., hlm,  168


Pengertian, Pembagian, dan Contoh Hadits Dhoif

Menurut al-Nawawi dan juga mayoritas ulama ahli hadits, hadits dloif adalah hadits yang tidak memenuhi syarat shohih dan hasan[1]. Hadits dloif dapat diklasifikasikan menjadi dua;

a) Dhaif disebabkan tidak memenuhi syarat itishol al sanad.

Dhaif jenis ini di bagi lagi menjadi :

1) Hadits Muallaq

Yaitu  hadits yang pada sanadnya telah dibuang satu atau lebih rawi baik secara berurutan maupun tidak.[2] Contoh adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori

قال مالك عن الزهرى عن أبى سلمة عن أبى هريرة عن النبى “لا تفا ضلوا بين الأنبيأ

Dikatakan Muallaq karena Imam bukhori langsung menyebut Imam Malik padahal ia dengan Imam Malik tidak pernah bertemu. Contoh lain adalah,

قال ألبخارى قالت العائشة كان النبى يذكر الله على كل أحواله

Disini Bukhari tidak menyebutkan rawi sebelum Aisyah

2) Hadits Mursal

Yaitu  hadits yang sanadnya dari tabi’in meloncat langsung kepada Nabi. Menurut Imam Malik dan Abu Hanifah hadits ini boleh dijadikan hujjah. Contoh hadits ini adalah:

قال مالك عن جعفر بن محمد عن أبيه أن رسول الله قضى باليمن والشاهد

Disini Muhammad bin Ali Zainul Abidin tidak menyebutkan sahabat yang menjadi perantara antara nabi dan bapaknya.

3) Hadits Munqothi’

Yaitu hadits yang salah satu rawinya atau lebih dihilangkan atau tidak jelas, bukan pada pada sahabat tapi bisa di tengah atau di akhir.

Contoh hadits ini adalah;

ما رواه عبد الرزاق عن الثورى عن أبى إسحاق عن زيد بن يثيع عن حذيفه مرفوعا إن وليتموها أبا بكر فقوى أمين

Riwayat yang sebenarnya adalah Abd Rozak meriwayatkan hadits dari Nukman bin Abi Saybah al-Jundi bukan dari Syauri. Sedangkan Syauri tidak meriwayatkan hadits dari Abi Ishak, akan tetapi ia meriwayatkan hadits dari Zaid. Dari riwayat yang sesungguhnya kita dapat mengetahui bahwa hadits di atas adalah termasuk hadits yang munqotiq.

4) Hadits Mu’adlol

Yaitu hadits yang hilang dua rawinya atau lebih secara berurutan ditengah sanadnya. Contoh :

يقال للرجل يوم القيامة عملت كذا وكذا؟ فيقول لا فيحتم على فيه

Hadits ini berasal dari al-Sakbi dari Anas dari Nabi, di sini Akmas tidak menyebutkan Anas dan Nabi.

5) Hadits Mudallas

Yaitu hadits yang diriwayatkan dengan menghilangkan rawi diatasnya. Tadlis sendiri dibagi menjadi beberapa macam;[3]

  1. Tadlis Isnad, adalah hadist yang disampaikan oleh seorang perawi dari orang yang semasa dengannya dan ia betemu sendiri dengan orang itu namun ia tidak mendengar hadist tersebut langsung darinya.[4]. Apabila perawi memberikan penjelasan bahwa ia mendengar langsung hadist tersebut padahal kenyataannya tidak, maka tidak tidak termasuk mudallas melainkan suatu kebohongan/ kefasikan. Contoh hadist mudallas sanad adalah :
  2. Tadlis qath’i : Apabila perawi menggugurkan beberapa perawi di atasnya dengan meringkas menggunakan nama gurunya atau misalnya perawi mengatakan “ telah berkata kepadaku”, kemudian diam beberapa saat dan melanjutkan “al-Amasi . . .” umpamanya. Hal seperti itu mengesankan seolah-olah ia mendengar dari al-Amasi secara langsung padahal sebenarnya tidak. Hadist seperti itu disebut juga dengan tadlis Hadf (dibuang) atau tadlis sukut (diam dengan tujuan untuk memotong)[5].
  3. Tadlis ‘Athof (merangkai dengan kata sambung semisal “Dan”). Yaitu bila perawi menjelaskan bahwa ia memperoleh hadist dari gurunya dan menyambungnya dengan guru lain padahal ia tidak mendengar hadist tersebut dari guru kedua yang disebutnya.
  4. Tadlis Taswiyah : apabila perawi menggugurkan perawi di atasnya yang bukan gurunya karena dianggap lemah sehingga hadist tersebut hanya diriwayatkan oleh orang-orang yang terpercaya saja, agar dapat diterima sebagai hadist shahih. Tadlis taswiyah merupakan jenis tadlis yang palin buruk karena mengandung penipuan yang keterlaluan.
  5. Tadlis Syuyukh: Yaitu tadlis yang memberikan sifat kepada perawi dengan sifat-sifat yang lebih dari kenyataan, atau memberinya nama dengan kunyah (julukan) yang berbeda dengan yang telah masyhur dengan maksud menyamarkan masalahnya. Contoh: Seseorang mengatakan: “Orang yang sangat alim dan teguh pendirian bercerita kepadaku, atau penghafal yang sangat kuat hafaleannya brkata kepadaku”.
  6. Termasuk dalam golongan tadlis suyukh adalah tadlis bilad (penyamaran nama tampat). Contoh: Haddatsana fulan fi andalus (padahal yang dimaksud adalah suatu tempat di pekuburan). Ada beberapa hal yang mendasari seorang perawi melakukan tadlis suyukh,  adakalanya dikarenakan gurunya lemah hingga perlu diberikan sifat yang belum dikenal, karena perawi ingin menunjukkan bahwa ia mempunyai banyak guru atau karena gurunya lebih muda usianya hingga ia merasa malu meriwayatkan hadist darinya dan lain sebagainya.

b) Dhaif  karena hal lain diluar ittisal al sanad.

Hadits dhaif yang disebabkan faktor ini dibagi menjadi[6] :

1) Hadits Maudhu’

Adalah hadits kontroversial yang di buat seseorang dengan tidak mempunyai dasar sama sekali.[7] Sedangkan menurut Subhi Sholih adalah khabar yang di buat oleh pembohong kemudian dinisbatkan kepada Nabi.karena disebabkan oleh faktor kepentingan.

Tanda-tanda sebuah hadits itu dapat dikatakan maudu’ dapat dilihat sanadnya yaitu:

  • Rawi hadits terkenal sebagi pembohong.
  • Perawi merupakan perawi tunggal.
  • Perawi mengaku sendiri bahwa hadits itu adalah hadits maudu’.
  • Mengetahui sikap dan perilaku perawi.

Sedangkan tanda-tanda dari aspek matan antara lain:

  • Arti hadits itu kontra dengan hadits yang lain yang lebih tinggi.
  • Bertentangn dengan al-Quran, sunnah mutawatir atau ijmak.
  • Tidak sesuai dengan fakta sejarah.

Contohnya adalah hadits tentang keutamaan bulan rajab yang diriwayatkan Ziyad ibn Maimun dari shabat Anas r.a

قيل يارسول الله لم سمي رجب قال لأنه يترجب فيه خير كثبر لشعبنا ورمضنا.

Menurut Abu Dawud dan Yazid ibn Burhan, Ziyad ibn Maimun adalah seorang pembohong dan pembuat hadiits palsu.

2) Hadits Matruk

Adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang disangka suka berdusta. Contoh hadits ini adalah hadits tentang qadha’ al hajat yang diriwayatkan oleh Ibn Abi Dunya dari Juwaibir ibn Sa’id al Asdi dari dhohak dari Ibn ‘Abbas.

قال النبي عليكم باصطناع المعروف فانه يمنع مصارع السوء … الخ

Menurut an Nasa’i dan Daruqutni, Juwaibir adalah orang yang tidak dianggap haditsnya.

3) Hadits Munkar

Adalah hadits yang tidak diketahui matannya selain dari rawi itu dan perawi itu tidak memenuhi syarat bias dikatakan seorang dlobid. Atau dengan pengetian hadits yang rawinya lemah dan bertentangan dengan riwayat rawi tsiqoh. Munkar sendiri tidak hany sebatas pad sanad namun juga bis aterdapat pada matan[8].

4) Hadits Majhul

  1. a. Majhul ‘aini : hanya diketahui seorang saja tanpa tahu jarh dan ta’dilnya.

Contohnya hadits yang diriwayatkan oleh Qutaibah ibn Sa’ad dari Ibn Luhai’ah dari Hafs ibn Hasyim ibn ‘utbah ibn Abi Waqas dari Saib ibn Yazid dari ayahnya Yazid ibn Sa’id al Kindi

ان النبي كان اذا دعا فرفع يديه مسح وجهه بيده. اخرجه ابي داود

Hanyalah Ibn Luhai’ah yang meriwayatkan hadits dari Hafs ibn Hasyim ibn ‘utbah ibn Abi Waqas tanpa diketahui jarh dan ta’dilnya.

  1. b. Majhul hali : diketahui lebih adari sati orang namun tidak diketahui jarh dan ta’dilnya.contoh hadits ini adalah haditsnya Qasim ibn Walid dari Yazid ibn Madkur.

ان عليا رضي الله عنه رجم لوطيا. اخرجه البيهقى

Yazid ibn Madkur dianggap majhul hali.

5) Hadits Mubham

Yaitu hadits yang tidak menyebutkan nama dalam rangkaian sanadnya. Contohnya adalah hadits Hujaj ibn Furadhah dari seseorang (rajul), dari Abi Salamah dari Abi Hurairah.

قال رسو ل الله المؤمن غر كريم والفاجر خب لئيمز اخرجه ابو داود

6) Hadits Syadz

Yaitu hadits yang beretentangan dengan hadits lain yang riwayatnya lebih kuat[9].

Selain hadits diatas masih terdapat beberapa hadits lagi yang termasuk dha’if antara lain Hadits maqlub, matruh, mudhtharab, mudha’af , mudarraj, mu’allal, musalsal, mukhtalith untuk lebih jelasnya lihat  ‘Abdur Rahman al Mun’im as Salim, Taisir al ‘Ulum al Hadits dan juga Ujjaj al-Khotib Ushul al-hadits


[1] lihat syarah Shahih Muslim juz 1 hal 19, lihat juga Ujjaj al-Khotib Ushul al-hadits..337 dan qowaid al-hadits hal 86).

[2] Umar Hasyim, Qowaid al-Ushul.. hlm, 97

[3] al Mun’im as Salim, Taisir al ‘Ulum.., hlm, 50-54

[4] Umar Hasyim, , Qowaid al-Ushul.. hlm. 108. Definisi tentang tadlis isnad sebenarnya sangat beragam, seperti Ali Rowad dalam bukunya Ulum al-Quran Wa al-Hadist menambahkan dengan kata-kata “ atau dari orang yang semasa dengan perawi dan ia tidak pernah bertemu dengannya namun memberi gambaran seolah-olah ia mendengar langsung darinya.

Sedangkan Ibnu Sholah dan an-Nawawi menamakan tadlis sanad dengan mursal khofi lihat Alwi al-Maliki, al-Munhil Fi…., hlm, 108).

Dalam masalah ini penulis cenderung lebih sepakat pada pendapat Umar-yang juga didukung oleh Ibnu Hajar- yang memisahkan antara kedua definisi tersebut, yaitu bila hadist diriwayatkan dari orang yang semasa dan perawi pernah bertemu namun tidak mendengar hadist tersebut secara langsung maka disebut mudallas. Sedangkan apabila hadist diriwayatkan dari orang yang semasa namun perawi tidak pernah bertemu dan ia menggambarkan seolah-olah pernah bertemu dan mendengar hadist langsung hadist tersebut maka dinamakan dengan mursal khofi. Dengan demikian ada garis perbedaan diantara keduanya, yaitu pada permasalahan apakah perawi yang meriwayatkan dari orang yang semasa pernah bertemu atau tidak.

[5] Ahmad Muhammad Ali Rowad, Ulum al-Quran Wa Al-Hadist, Amman:Dar al-Basyir 1983 hlm, 205

[6] al Mun’im as Salim, Taisir al ‘Ulum.., hlm, 61-94

[7] Umar Hasyim hlm, Qowaid al-Ushul.. hlm, 112

[8] Untuk lebih jelas pembagian serta contohnya lihat al Mun’im as Salim, Taisir al ‘Ulum.., hlm,73-79

[9] Ibid, hlm 80-83


TAKHRIJ HADITS

A. Pendahuluan
Dalam struktur hirarki sumber hukum Islam, hadits (sunnah) bagi ummat Islam menempati urutan kedua sesudah al-Qur’an karena, disamping sebagai ajaran Islam yang secara langsung terkait dengan keharusan menaati Rasulullah Saw, juga karena fungsinya sebagai penjelas (bayan) bagi ungkapan-ungkapan al-Qur’an yang mujmal, muthlaq, ‘amm dan sebagainya. (Abbas, 2004: 1).
Hadits Nabi meskipun dalam hirarki sumber pokok ajaran Islam menempati urutan kedua, namun dalam praktek pelaksanaan ajaran Islam sangat urgen, bahkan tidak jarang dianggap sejajar, hadits bukan hanya berfungsi sebagai penguat dan penjelas tetapi suatu ketika ia secara independen dapat menjadi pijakan dalam menentukan suatu ketetapan hukum terhadap sesuatu kasus yang tidak disebut dalam al-Qur’an.
Keberadaan hadits sebagai sumber hukum Islam sangat unik dan urgen tidak seperti al-Qur’an yang qath’i, Hadits dengan berbagai dimensinya selalu menjadi fokus kajian yang problematik dan menarik baik bagi pendukung maupun penentangnya (Mustaqim, 2002: 55-56).
Maka tidak mengherankan jika eksistensinya sering menjadi sasaran kritik dari orang-orang yang anti terhadap Islam, dikalangan umat Islam sendiri muncul kelompok yang disebut inkar al-sunnah, yang tidak menjadikan hadits sebagai sumber ajaran Islam dan hanya mencukupkan diri dengan petunjuk al-Qur’an. Di era kontemporer muncul pelbagai pemikiran baik yang dilakukan oleh pemikir muslim maupun kaum orientalis, mereka tidak pernah berhenti dan selalu mengalami perkembangan yang cukup pesat, hal ini terlihat dari banyaknya kelompok yang mengkritisi pemikiran seputar hadits seperti Mustafa al-Azami dari India, Fazlurrahman dari Indo-Pakistan, Muhammad Syahrur dari Syiria, Muhammad al Gazali dan Yusuf Qardawi dari Mesir, sedangkan dari kelompok orientalis terdapat nama-nama seperti Josepht Schacht. Montgomery Watt, Ignaz Goldzihe, dan sebagainya.
Al Qur’an dan Hadits mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari hari bagi umat Islam. Walaupun terdapat perbedaan dari segi penafsiran dan aplikasi, namun setidaknya ulama sepakat bahwa keduanya dijadikan sebagai rujukan Islam dalam mengambil dan menjadikan pedoman utamanya dari keduanya (Hasbullah, 1964: 11-14) Oleh karena itu kajian terhadap keduanya tak akan pernah keruh bahkan terus berjalan dan berkembang seiring dengan kebutuhan umat Islam, melalui terobosan terobosan baru, kajian ini akan terus mewarnai khazanah perkembangan studi keislaman dalam pentas sejarah umat Islam.
Sebagai insan akademika Institut Agama Islam, kajian terhadap sumber hukum Islam ini mempunyai arti yang sangat penting, untuk mengembangkan kajian sumber ajaran Islam secara mendalam dan ilmiah. Harapan ini tentu dalam taraf kewajaran, karena kegiatan ilmiah dapat tumbuh dengan baik dan subur dibandingkan dengan lingkungan pendidikan lainnya.
Secara umum epistemologis keilmuan sumber ajaran Islam dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yakni al- Qur’an dan hadits., dari masing-masing sumber dapat diurai dalam tiga bentuk, seperti dalam kajian al- Qur’an, ‘Ulumul al- Qur’an, tafsir dan metodologi penelitian tafsir, demikian juga dalam kajian hadits terdapat ‘Ulumul al- Hadits, Syarh al- Hadits dan metodologi penelitian hadits ( tahqiq al-hadits ) yang didalamnya terdapat tahrij al-hadits. Ketiganya mempunyai hubungan yang erat satu sama lain dan integral dalam mendalami sumber ajaran Islam. Pemahaman dalam hal tersebut akan menjadi kajian tentang kajian studi takhrij sebagaimana pada penulisan makalah ini.
Adapun yang menjadi kajian dalam penulisan makalah ini sebagai berikut, yaitu meliputi pengertian tahrij al- Hadits, latarbelakang takhrij, penting dan manfaatnya takhrij, metode dan prosesnya takhrij, dan beberapa contoh dalam mentahrij sebuah hadits. Demikian gambaran makalah ini, semoga bermanfaat bagi peningkatan pembelajaran studi hadits baik melalui metode media konvensional maupun dengan media elektronik lainnya.

B. Pengertian Takhrij al- Hadits
a. Secara Etimologi
Kata takhrij berasal dari kata kharaja, yang berarti al-zuhur (tampak) dan al-buruz (jelas) (Munawir, 1984: 356). Takhrij juga bisa berarti al-istimbat (mengeluarkan), al-tadrib (meneliti) dan al- taujih (menerangkan) (Abadi, 1313 H: 192) Takhrij juga bisa berarti Ijtima’ al-amra’aini al-muttadla diin fi syai’in wahid (berkumpulnya dua persoalan yang bertentangan dalam suatu hal), al-istimbath (mengeluarkan dari sumbernya), at-tadrib (latihan), al-taujih (menjelaskan duduk persoalan, pengarahan) (Ali, 2008: 2). Sedang menurut Syeh Manna’ Al- Qaththan, takhrij berasal dari kata kharaja yang artinya nampak dari tempatnya, atau keadaan, terpisah dan kelihatan. Al-kharaja artinya menampakan dan memperlihatkannya, dan al-makhraja artinya tempat keluar, dan akhraja al-khadits wa kharajahu artinya menampakkan dan memperlihatkan hadits kepada orang dengan menjelaskan tempat keluarnya.(Al- Qaththan, 2006: 189).
b. Secara terminologi
Adapun secara terminologi, takhrij adalah menunjukkan tempat hadits pada sumber-sumber aslinya, dimana hadits tersebut telah diriwayatkan lengkap dengan sanadnya, kemudian menjelaskan derajatnya jika diperlukan (Al- Tahhan, 1978: 9).
Takhrij menurut Nizar Ali, mempunyai pengertian:
1. Mengungkapkan atau mengeluarkan hadits kepada orang lain dengan menyebutkan para perowi yang berada dalam rangkaian sanadnya sebagai yang mengeluarkan hadits.
2. Mengeluarkan sejumlah hadits dari kandungan kitabnya dan meriwayatkan kembali.
3. Petunjuk yang menjelaskan kepada sumber asal hadits.
4. Petunjuk tentang tempat atau letak hadits pada sumber aslinya yang diriwayatkan dengan menyebutkan sanadnya, kemudian dijelaskan martabat/kedudukannya manakala diperlukan ( Ali, 2008: 3).
Sedangkan takhrij menurut istilah ahali hadits, mempunyai pengertian:
1. Menunjukan asal usul hadits dan mengemukakan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadits yang disusun Mukhorrijnya langsung, kegiatan takhrij seperti ini sebagaimana yang dilakukan oleh para penghimpun hadits dari kitab-kitab hadits, misalnya Ibnu Hajar al-‘Asqalani yang menyusun kitab Bulug al-Maram.(Ali, 2008: 43)
2. Mengemukakan berbagai hadits yang telah dikemukakan oleh para guru hadits atau berbagai kitab yang susunannya dikemukakan berdasarkan riwayat sendiri atau para gurunya atau temannya atau orang lain dengan menerangkan siapa periwayatannya dari para penyusun kitab ataupun karya yang dijadikan sumber acuan, kegiatan ini, seperti yang dilakukan oleh Imam Bukhori yang banyak mengambil hadits dari kitab al-Sunan karya Abu al-Hasan al-Basri al-Safar, lalu al-Baihaqi mengemukakan sanadnya sendiri. (Ali, 2008: 43)
3. Mengemukakan hadits kepada orang banyak dengan menyebutkan peristiwanya dengan sanad lengkap serta dengan menyebutkan metode yang mereka tempuh, inilah yang dilakukan para penghimpun dan penyusun kitab hadits, seperti al-Bukhari yang menghimpun kitab hadits Sakhih al-Bukhari (Ismail, 1992:42).
4. Mengemukakan hadits berdasarkan kitab tertentu dengan disertakan metode periwayatannya dan sanadnya serta penjelasan keadaan para periwayatnya serta kualitas haditsnya, pengertian al-takhrij seperti ini dilakukan oleh Zain al-Din ‘Abd al-Rahman ibn al-Husai al-‘Iraqi yang melakukan takhrij terhadap hadits-hadits yang dimuat dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin karya al-Gazali dengan judul bukunya Ikhbar al-Ihya’ bi Akhbar al-Ikhya’.(Ismail, 1992: 43).
5. Menunjukkan tempat hadits pada sumber-sumber aslinya, didalamnya dikemukakkan hadits itu secara lengkap dengan sanadnya masing-masing, kemudian menjelaskan derajatnya jika diperlukan (Ismail, 2005:71).
Dengan demikian pengertian takhrij dalam makalah ini adalah penelusuran atau pencarian hadits dari berbagai sumbernya yang asli dengan mengemukakan matan serta sanadnya secara lengkap untuk kemudian diteliti kualitas haditsnya.

C. Latar Belakang Takhrij al-Hadits.
Sesuai dengan sejarah perjalanan hadits, ternyata tidak semua yang disebut hadists itu, benar-benar berasal dari Nabi, apalagi kita mengetahui hadits palsu itu berkeliaran dipermukaan bumi ini, baik yang dibuat secara sengaja oleh umat Islam sendiri, karena alasan politik, perbedaan mazhab dan cinta kebaikan serta bodoh agama, atau dibuat oleh kelompok yang tidak menyukai kehadiran Islam. Kenyataan seperti ini, bertolak belakang dari pemikiran semula yang mengira bahwa semua hadits itu segala sesuatu yang di nisbahkan kepada Nabi yang fungsinya sebagai rujukan dalam memahami dan melaksanakan ajaran Islam, begitu juga apa yang dinisbahkan kepada sahabatpun disebut hadits, bahkan yang disandarkan kepada tabi’in, maka persoalannya mana hadits yang bisa diterima sebagai dalil agama karena diduga keras berasal dari Nabi, dan mana yang tidak bisa sebagai hujjah karena hadits itu palsu, persoalan-persolan seperti itu selalu membias dan menghantui pemikiran kaum muslimin, maka mulai ada titik terang, ketika ahli hadits bangkit dengan memunculkan apa yang dinamakan dengan kutub at-takhrij.
Ilmu at-takhrij pada awal perkembangan sumber hukum Islam tidaklah begitu urgen karena penguasaan para ulama terhadap sumber-sumber as-Sunnah begitu luas, sehingga mereka tidak terlalu sulit jika disebutkan suatu hadits untuk mengetahuinya dalam kitab kitab as-Sunnah, maka tidak mengherankan, jika ilmu tahrij al-hadits tidak dikenal dan tidak untuk dipelajari, bahkan belum dibutuhkan karena, mereka mempunyai pengetahuan syari’at yang luas dan ingatan yang kuat terhadap sumber hukum yang langsung datang dari Rasulullah Muhammad saw .
Sebagaimana diungkapkan oleh. Muh. Zuhri 2003: 149) bahwa: Para ulama terdahulu tidak membutuhkan metode takhrij al-Hadits, karena pengetahuan mereka terhadap sumber-sumber syari’at sangat luas dan ingatan mereka sangat kuat, ketika membutuhkan sebuah hadits sebagai dalil, dalam sekejap mereka dapat menemukannya, di kitab mana hadits itu berada. Kemudian kalau ada hadits yang belum dibukukan ,mereka mudah menemukan, diriwayatkan oleh siapa hadits yang dimaksud dan melalui jalur mana saja, karenanya ada beberapa penulis ilmu tertentu memasukan hadits didalamnya melelalui jalur yang di ketahuinya tanpa merujuk kitab tertentu. Misalnya al-Thabari dalam kitab tarihnya, Imam Syafi’i dalam menulis kitab ar-Risalah atau al-Umm dan Ibn Katsir dalam menulis tafsirnya memasukan hadits dengan jalurnya sendiri.
Ketika semangat belajar generasi berikutnya semakin lemah, mereka kesulitan untuk mengetahu tempat –tempat hadits yang dijadikan rujukan ilmu-ilmu syar’i, bahkan yang lebih fatal mereka seringkali mengambil hadits atau dalil dengan cara merujuk kitab-kitab sembarangan, disisi lain, tidak semua hadits yang dimuat dalam buku rujukan berkualitas layak. Maka untuk menjawab berbagai permasalahan sebagaian dari ulama bangkit dan memperlihatkan hadits hadits yang ada pada sebagaian kitab dan menjelaskan sumbernya dari kitab-kitab as-sunnah yang asli, menjelaskan metodenya, dan menerangkan hukumnya dari yang shaheh atas yang dhaif, untuk menelusuri hadits atau dalil dan mengkanter hal tersebut diperlukan ilmu yang disebut tahrij al-hadits.

D. Tujuan dan Manfaatnya Takhrij al-Hadits.
Adapun tujuan utama dilakukan tahrij al-hadits diantaranya adalah:
a. Mengetahui sumber asli asal hadits yang di takhrij.
b. Mengetahui keadaan/kualitas hadits yang berkaitan dengan maqbul/diterima maupun mardudnya/ditolaknya.(Ali, 2008: 2).
Sumber-sumber Hadits yang asli dimaksud adalah kitab-kitab Hadits , dimana para penyusunnya menghimpun Hadits-hadits itu melalui penerimaan dari guru-gurunya dengan rangkaian sanad yang sampai kepada Nabi Muhammad SAW, seperti kitab al-Sittah (sahih al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Turmudzi, al-Nasa’I dan Ibnu Majah).
Adapun penjelasan terhadap nilai-nilai Hadits, diterima atau tidaknya sebuah hadits atau sahih, hasan atau daifnya dan lain-lain, dilakukan bila perlu saja dan tidak merupakan yang esensial dalam tahrij.
Takhrij al-Hadits sangat berguna untuk memperluas pengetahuan seseorang tentang seluk beluk kitab-kitab Hadits dalam berbagai bentuk dan system penyusunannya, mempermudah seseorang dalam mengembalikan sesuatu Hadits yang ditemukannya kedalam sumber-sumber aslinya, sehingga dengan demikian akan mudah pula untuk mengetahui derajat keshahihan tidaknya Hadits tersebut, Selain itu, dengan takhrij al-Hadits secara tidak langsung seseorang akan mengetahui hadits-hadits lain yang sebenarnya tidak dicari dan sempat membacanya dalam kitab-kitab itu.
Ismail (2005: 71).mengemukakan:

sedikitnya ada tiga hal yang menyebabkan pentingnya kegiatan takhrij al-hadits dalam melaksanakan penelitian hadits, yaitu
1. Untuk mengetahui asal usul riwayat hadits yang akan diteliti;
2. Untuk mengetahui seluruh riwayat bagi hadits yang akan diteliti;
3. Untuk mengetahui ada tidaknya syahid dan mutabi’ pada sanad yang akan diteliti.
Sedangkan manfaat dari kegiatan takhrij al-hadits diantaranya adalah:
a. Memperkenalkan sumber-sumber hadits, kitab-kitab asal di mana suatu hadits berada, beserta ulama yang meriwayatkannya.
b. Dapat menambah perbendaharaan sanad hadits melalui kitab-kitab yang dirujuknya, semakin banyak kitab asal yang memuat suatu hadits, semakin banyak pula perbendaharaan sanad yang kita miliki.
c. Dapat memperjelas keadaan sanad, dengan membandingkan riwayat hadits yang banyak itu, maka dapat diketahui apakah riwayat tersebut munqati’, mu’dal dan lain-lain, demikian juga dapat diketahui, apakah status riwayat tersebut sahih, hasan atau daif.
d. Dapat memperjelas kualitas suatu hadits dengan banyaknya riwayat, suatu hadits daif kadang diperoleh melalui satu riwayat, namun takhrij memungkinkan akan menemukan riyawat lain yang sahih, hadits yang sahih itu mengangkat kualitas hadits yang daif tersebut kederajat yang lebih tinggi.
e. Dapat memperjelas periwayat hadits yang samar, dengan adanya takhrij kemungkinan dapat diketahui nama periwayat yang sebenarnya secara lengkap.

f. Dapat memperjelas periwayat hadits yang tidak diketahui namanya, yaitu melalui perbandingan diantara sanad yang ada.

g. Dapat menafikkan pemakaian lambang periwayatan ‘an dalam periwayatan hadits oleh seorang mudallis.
h. Dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya riwayat dan memperjelas nama periwayat yang sebenarnya.
i. Dapat memperkenalkan periwayatan yang tidak terdapat dalam satu sanad.
j. Dapat menghilangkan unsur syaz dan membedakan hadits yang mudraj.
k. Dapat menghilangkan keragu-raguan dan kekeliruan yang dilakukan oleh periwayat.
l. Dapat membedakan antara periwayatan secara lafal dengan periwayatan secara makna.
m. Dapat menjelaskan waktu dan tempat turunnya hadits dan lain-lain. (Al-Hadi, tt: 11-14).
Dengan demikian melalui kegiatan takhrij al-hadits peneliti dapat mengumpulkan berbagai sanad dari sebuah hadits, dan juga dapat mengumpulkan berbagai redaksi dari sebuah matan hadits.

E. Metode Dan Proses Takhrij al- Hadits.
Metode Takhrij al-Hadits
Dalam kegiatan penelusuran sebuah Hadits tidaklah semudah yang kita bayangkan, karena membutuhkan seperangkat kemampuan yang komprehensip terhadap sebuah hadits , sebagaimana yang diungkapkan oleh Suhudi, bahwa kegiatan penelusuran hadits ( takhrij al-hadits ) kepada sumber aslinya, tidaklah semudah, penelusuran ayat al-Qur’an. Penelusuran terhadap ayat al-Qur’an cukup dipergunakan sebuah kitab kamus al-Qur’an, misalnya al-Mu’jam Mufahras Li alfazh al-Qur’an al-Karim, sedangkan penelusuran terhadap hadits Nabi terhimpun dalam banyak kitab dengan metode penyusunan yang beragam.(Ismail, 1992: 45).
Dengan dimuatnya hadits Nabi dalam berbagai kitab hadits, maka sampai saat ini, belum ada sebuah kamus yang mampu memberi petunjuk untuk mencari ha dits yang dimuat oleh seluruh kitab hadits yang ada, tetapi terbatas pada sejumlah hadits saja, namun tidaklah berarti hadits nabi yang termuat dalam berbagai kitab tidak dapat ditelusuri, untuk keperluan itu, lebih lanjut Ismail 1992: 45) mengatakan para ulama hadits telah menyusun kitab-kitab kamus dengan metode yang beragam.
Muhaimin 2005: 157) dalam bukunya Kawasan dan Wawasan Studi Islam membagi beberapa hal yang diperlukan dalam melakukan takhrij yaitu:
1. Memerhatikan sahabat yang meriwayatkannya jika disebutkan.
2. Memerhatikan lafal pertama dari matan Hadits
3. Memerhatikan salah satu lafal Hadits
4. Memerhatikan tema Hadits, atau.
5. Memerhatikan tentang sifat khusus sanad atau matan Hadits itu.

Sedang Ismail 1992: 45). membagi metode takhrij antara lain:
1.Metode pertama, dengan cara mengetahui perawi hadits dari sahabat,
2.Metode kedua, takhrij dengan cara mengetahui permulaaan lafazn dari hadits,
3.Metode ketiga, takhrij dengan cara mengetahui kata yang jarang penggunaannya oleh orang dari bagaian mana saja   dari matan hadits,
4.Metode keempat, takhrij dengan cara mengetahui topik pembahasan hadits.
Dengan demikian dalam takhrij terdapat beberapa macam metode yang diringkas dengan mengambil pokok-pokoknya sebagai berikut:
1.Metode pertama, Takhrij dengan cara mengetahui perowi Hadits dari sahabat, metode ini dikhususkan jika kita mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan Hadits, lalu kita mencari bantuan dari tiga macam karya hadits.yaitu:
Kitab al- Masaanid (musnad-musnad), dalam kitab ini disebutkan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh setiap sahabat secara tersendiri, selama kita telah mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan hadits, maka kita mencari hadits tersebut dalam kitab al-Masaanid, hingga mendapatkan petunjuk dalam satu musnad dalam kumpulan musnad tersebut.
Kitab al- Ma’aajim (mu’jam-mu’jam), susunan hadits didalamnya berdasarkan urutan musnad para sahabat atau syuyukh (guru-guru) atau bangsa (tempat asal) sesuai huruf kamus (hijaiyyah), dengan mengetahui nama sahabat dapat memudahkan untuk merujuk haditsnya.
Kitab al- Athraf, kebanyakan kitab-kitab al- Athraf disusun berdasarkan musnad-musnad para sahabat dengan urutan nama mereka sesuai huruf kamus, jika seorang peneliti mengetahui bagian dari hadits itu, maka dapat merujuk pada sumber-sumber yang ditunjukkan oleh kitab-kitab al- Athraf tadi untuk kemudian mengambil hadits secara lengkap.

2.Metode kedua, Takhrij dengan mengetahui permulaan lafadh dari hadits, cara ini dapat dibantu dengan kitab-kitab yang berisi tentang hadits yang dikenal orang banyak, misalnya Ad-Durarul-Muntasirah Fil-Ahaaditsil Musytaharah, karya As-Suyuthi. Al – Laali Al- Mantsuurah fil Ahadits Masyhurah, karya Ibnu Hajar. Al- Maqashidul Hasanah fii Bayaani Katsirin minal- Ahaaditsil Musytahirah ‘alal- Alsinah, karya As- Sakhawi.
3.Metode ketiga, Takhrij dengan cara mengetahui kata yang jarang penggunaannya oleh orang dari bagian mana saja dari matan hadits, metode ini dapat dibantu dengan kitab Al-Mu’jam Al-Mufahras li Al-Faadzil Hadits An-Nabawi, berisi sembilan kitab yang paling terkenal diantara kitab-kitab hadits yaitu Kutubus-Sittah,. Muwaththa’ karya Imam Malik, Musnad Ahmad, dan Musnad ad-Darimi.
4.Metode keempat, Takhrij dengan cara mengetahui tema pembahasan hadits, jika telah diketahui tema dan obyek pembahasan hadits, maka bisa dibantu dalam takhrijnya dengan karya-karya hadits yang disusun berdasarkan bab-bab dan judul-judul, cara ini banyak dibantu dengan kitab Miftah Kunuz As-Sunah, yang berisi daftar isi hadits yang disusun berdasarkan judul-judul pembahasan. Kitab ini disusun oleh seorang orientalis berkebangsaan Belanda yang bernama Arinjan Vensink, kitab ini mencakup daftar isi untuk 14 kitab hadits yang terkenal yaitu: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Jami’ At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’I,Sunan Ibnu Majah, Muwaththa’ Malik, Musnad Ahmad, Musnad Abu Dawud Ath-Thayalisi, Sunan Ad-Darimi, Musnad Zaid bin ‘Ali, Sirah Ibnu Hisyam, Maghazi Al-Waqidi dan Thabaqat Ibnu Sa’ad.
Disamping metode takhrij al-hadits diatas, Danarto (2008: 2) dalam bukunya Takhrij al- Hadits menambahkan, untuk mempercepat proses penelusuran dan pencarian hadits tersebut, ia dapat menggunakan jasa komputer dengan program Mausu’ah al-Hadits al-Syarif yang bisa mengakses 9 (sembilan) kitab sumber primer hadits, ada 8 (delapan) cara yang bisa digunakan untuk menelusuri hadits-hadits yang terdapat dalam Shahih al- Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan al- Nasa’I, Sunan al- Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan al- Darimi dan Musnad Ahmad ibn Hambal, kedelapan cara penelusuran hadits tersebut adalah:
1. Dengan memilih lafal yang terdapat dalam daftar lafal yang sesuai dengan hadits yang dicari.
2. Dengan mengetik salah satu lafal dalam matan hadits.
3. Berdasarkan tema kandungan hadits.
4. Berdasarkan kitab dan bab sesuai yang ada dalam kitab aslinya.
5. Berdasarkan nomor urut hadits.
6. Berdasarkan pada periwayatannya.
7. Berdasarkan aspek tertentu dalam hadits.
8. Berdasarkan takhrij hadits.

Proses Takhrij al-Hadits.
Dalam kegiatan sehari-hari kita sering menemukan masalah, kemudian masalah itu kita rujukan dengan sumber hukum Islam, ketika dirujukan ternyata dalil itu mutawatir, itu akan terasa melegakan pikiran, tetapi seringkali kita ingat sebuah hadits, kita ragu, hadits itu sahih atau tidak, kemudian untuk meyakinkan kita lacak hadits itu, dimuat di kitab mana, sebagaimana kita tidak tahu, riwatnya mutawatir atau tidak, sederet pertanyaan itulah yang sering muncul dalam kenyataan,. Zuhri 2003: 150) mengemukakan ada dua cara yang dapat dipakai untuk melacak hadits seperti itu.
1. kita dapat melacaknya melalui tema/maudhu’ yang diperkirakan bahwa hadits dimaksud berada dalam maudhu’ ini, salah satu buku ensiklopedi kitab hadis terbaik yang disusun berdasarkan tema/maudhu’ adalah Miftah Kunuz al-Sunnah, karya A.J.Wensick dan kawan-kawan, informasi tentang hadits yang kita cari secara lengkap dapat ditemukan dikitab ini, karena didalamnya memuat informasi secara lengkap, data kitab sumber pengambilannya, bab apa, juz berapa atau hadits nomor berapa.

2. Kita berangkat dari kosa kata, bila berangkat dari kosa kata maka, langkah yang kita ambil adalah:
a. Menelusuri, di buku mana hadits yang diteliti berada
Di atas, pemakalah telah membahas bahwa tujuan utama dari takhrij al-Hadits adalah mengetahui dimana hadits itu dimuat, maka hadits yang dimaksud kita lihat didalam kitab kamus atau ensiklolpedi, misalnya dikitab Jami’ al-Shaghir karya Imam al-Suyuthi, atau didalam kitab Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits, walaupun kitab ini ditulis oleh seorang orientalis, tetapi sangat diminati oleh para pengkaji hadits, dan para ahli hadits mengatakan, kitab ini sangat membantu dalam penelitian hadits, tentu tidak sembarang orang mampu melaksanakannya, karena, menelusuri hadits dikitab al-Mu’jam ini memerlukan ketrampilan, Zuhri 2003: 151 dalam bukunya Haditst Nabi, Telah Historis Dan

Metodologis mengatakan; Kitab Mu’jam digunakan apabila kita hanya dapat mengingat potongan hadits, seperti penggunaan Mu’jam ayat al-Qur’an, penggunaan Mu’jam hadits untuk mencari hadits berdasarkan kata tertentu dari potongan hadits yang kita hafal, dari sana kita memperoleh informasi, hadits yang kita cari diriwayatkan oleh siapa dan dalam bab apa, pekerjaan seperti ini termasuk dalam ranah takhrij al-hadits.
b. Membuat Bagan Sanad Periwayat Hadits.
Informasi yang kita peroleh dari kitab al-Mu’jam, kita tindaklanjuti dengan menelusuri hadits sesuai petunjuknya, kalau kitab mu’jam itu menunjuk dua kitab, kita mencarinya di dua kitab itu, selanjutnya kita menyusun bagan sanad hadits, sejak dari perowi terakhir sampai dengan Nabi, sesuai dengan klsifikasi hadits, banyak atau sedikitnya jalur hadits akan mengantarkan kita untuk berkata apakah sebuah hadits itu mashur, ‘aziz atau ahad, bila hadits itu ahad, dan setelah isinya dikonfirmasikan dengan riwayat lain ternyata ada kelainan, maka dapat kita katakan hadits itu gharib atau bahkan syadz dan seterusnya. Untuk memberi penilaian sebuah hadits kita kembali kesebuah rujukan teori yang terdapat dalam Ulumul Hadits.
c. Memeriksa Persambungan sanad dan Reputasi para Periwayat.
Setelah bagan periwayatan dibuat secara lengkap, selanjutnya kita mengambil Kitab Rijal al-Hadits untuk memeriksa satu demi satu periwayat yang terdapat dalam bagan tersebut, karena bayak nama orang, yang mirip antara satu orang dengan yang lainnya, maka kecermatan seorang peneliti al-Hadits sangat diperlukan, dari riwayat hidup yang diinformasikan oleh kitab Rijal, kita dapat melihat, apakah sanadnya dari hadits yang kita maksudkan itu bersambung atau tidak, bila sanadnya terputus maka kita dapat menetapkan predikat hadits sesuai dengan jumlah keterputusan sanad, dari sini muncul kategori hadits mursal, munqathi’, mu’dhal dan sebagainya dan sebaliknya bila sanadnya bersambung, maka untuk menentukan predikat hadits yang ditakhrij, kita perlu merujuk kemodel al-Bukhari atau Muslim.
Dari penelusuran terhadap kitab Rijal al-Hadis kita akan memperoleh keterangan dari peneliaian para ahli hadits atas seorang tokoh sanad yang sedang menjadi fokus kajian, ada beberapa kemungkinan antara lain:
– Periwayat yang menjadi perhatian kita itu tercela (majruh), dari sini kita bisa menentukan tingkat kadar kedha’ifan sebuah hadits.
– Periwayat dimaksud terpuji, maka pujian tersebut kita lihat, berada pada peringkat apa, pujian ini akan membawa kepada kesimpulan bahwa sebuah hadits itu shahih sanadnya atau hadits itu hasan nilainya.
– Periwayat yang dimaksud ternyata kontroversi, artinya disatu sisi ada ahli hadits yang memuji dan disisi lain ada yang mencela, menghadapi hal yang seperti ini kita akan menggunakan teori mana yang dipakai untuk penyelesaiannya, mendahulukan al-Jarh atas ta’dil atau mendahulukan suara terbanyak. Untuk menjawab hal tersebut tentu kita kembali kepada teori Ulumul Hadits .
Sebagamana yang telah dibahas dimuka, bahwa untuk mengetahui apakah sebuah hadits itu shahih atau tidak maka hadits harus terhindar dari predikat saydz dan mu’allal, untuk mengetahui syadz tidaknya, kita perlu mengadakan konfirmasi, ia diriwayatkan melalui jalur lain atau tidak, apakah hadits yang kita teliti bertentangan dengan syari’at Islam atau tidak, relativitas itu muncul apabila tolak ukur terhadap isi al-hadits didasarkan pada akal atau hawa nafsu semata.

F. Contoh Penerapan Metode Takhrij Al-Hadits
Dalam hal ini akan dikemukakan salah satu contoh penerapan metode takhrij al-hadits, dengan menggunakan metode penelusuran keberadaan hadits, membuat bagan sanad hadits dan memeriksa persambungan sanad dan reputasi para periwayat. Untuk mengenal lebih jauh tentang penerapan metode takhrij, kita ambil contoh sebuah hadits tentang Talqin al- Maut, dimasyarakat muslim ditemukan salah satu upacara keagamaan, talqin al-maut, mengajarkan la ilaha illallah kepada orang mati, pelaksanaannya ada yang mengajarkan ketika mayat sudah dikubur, ada pula yang mengajarkannya untuk calon mayat, persoalannya bagaimana bunyi hadits itu secara lengkap, hadits itu diriwayatkan oleh siapa, didalam kitab apa, dan hadits itu mutawatir apa tidak?
Kita memulai membuka kitab Mu’jam al-Mufahras li alfaadzh al-Hadits, dengan membawa kosa kata atau redaksi kata talqin, hadits tersebut diriwayatkan oleh imam al-Turmudzi dan imam Abu Daud, hadits riwatyat al-Turmudzi berbunyi;

حد ثنا ابو سلمة يحيي بن خلف حد ثنا بشر بن المفضل عن عمرة بن غزية عن يحيى
بن عمرة عن ابى سعيد الخد رى عن النبى صلى الله قال : لقنوا موتكم لا اله الا الله

Artinya: Telah bercerita kepada saya, Abu Salamah Yahya ibn Khalaf, katanya telah bercerita kepada saya, Bisyr al-Mufaddhal dari ‘Ummarah ibn Ghaziyyah dari Yahya ibn ‘Ummarah dari Abu Sa’id al-Khudri dari Nabi saw, katanya,”Talqinlah maitmu dengan la ilaha illallah”.

Adapun hadits riwayat Abu Daud berbunyi;
حد ثنا مسد د ثنا بشرى ثنا عمارة بن غزية ثنا يحيى بن عمارة قال: سمعت ابا سعيد
الخدرى يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لقنوا موتكم لا اله الا الله
Artinya:Telah bercerita kepada kami, Mussadad, katanya, bercerita kepada kami Bisyr katanya, telah bercerita kepada kami ‘Ummarah ibn Ghaziyyah, katanya, telah bercerita kepada kami Yahya ibn ‘Ummarah katanya, saya mendengar Abu Sa’id al-Khudri berkata : Rasulullah saw pernah bersabda, “Talqinlah maitmu dengan la ilahaillallah”.

Langkah berikutnya membuat bagan hadits, sesuai dengan hadits yang telah dicontohkan diatas, maka kita membuat dua bagan. Karena pada dua jalur sanad itu ada periwayat yang sama, maka dapat dibuat satu bagan saja, sebagai berikut:

NABI MUHAMMAD SAW

f. Abu Sa’id al-Khudri (w.75)

e.Yahya ibn ‘Umarah ( ? )

d.‘Umarah ibn Ghaziyyah (w.140)

c.Bisyr ibn al-Mufadhal (w.187)

b. Abu Salamah Yahya ibn Khalaf b. Musaddad
(w.242) (w.228)

a. Al- Turmudzi (209-279) a. Abu Daud (202-272)

Langkah berikutnya menelusuri persambungan sanad dan reputasi masing–masing periwayat.

a. Jalur Al- Turmudzi
1. Nama al- Turmudzi sudah sangat terkenal, beliau adalah seorang periwayat hadits yang dhabit dan tsiqah, maka penelusuran terhadapnya tidak diperlukan, hanya perlu dicantumkan, beliau hidup antara tahun 209-279 H.
2. Abu Salamah, Yahya ibn Khalaf
Ibn Hajar al-Asqalani di dalam kitab Tahdzib al-Tahdzib mengungkapkan bahwa nama lengkap tokoh ini adalah Yahya ibn Khalaf al-Bahili Abu Salamah al-Bishri terkenal dengan al-Jubari.27. Kode yang dicantumkan di sebelah nama untuk Yahya ini
adalah mim dal ta kof, dengan huruf ta dan dal berarti ia termasuk rijal Turmudzi dan Abu Daud, dan karena secara kebetulan tidak ada orang lain yang memiliki nama ini, maka dapat dipastikan dialah orang yang dimaksud dalam sanad hadits ini, tidak disebutkan kapan ia lahir, tetapi yang disebutkan ia wafat pada tahun 242 H, melihat tahun wafatnya ini, al-Turmudzi bertemu dengan tokoh ini (Yahya ibn Khalaf).
Ibn Hajar mengatakan bahwa banyak ulama yang ditimba ilmu haditsnya oleh Yahya ibn Khalaf, banyak juga yang meriwayatkan hadits darinya termasuk Bisyr ibn al-Mufaddhal, dan al-Turmudzi disebut sebagai seorang penerima hadits darinya.28. Ibnu Hibban memasukan Yahya ini kedalam kelompok orang tsiqah, komentar lain tidak ada, dan al-jarh yang ditunjukkan kepadanya juga tidak ada, karena tidak ada al-jarh terhadapnya, justru ada penilaian tsiqah, maka ia digolongkan orang yang ‘adil dan dhabit, haditsnya shahih.(Zuhri, 2003: 157)

3. Bisyr ibn al-Mufaddhal.
Di dalam kitab Tahdzib ibn Hajar menyebutkan, ada 38 orang bernama Bisyr, hanya satu yang ibn al-Mufaddhal, ia diberi kode ‘ain, artinya ia seorang rijal kutubus sittah, ini berarti ia rijal al-Turmudzi dan Abu Daud, nama lengkap tokoh ini adalah Bisyr ibn al-Mufaddhal ibn Labiq al-Raqasyi, ia menerima hadits dari banyak ulama, dan meriwayatkan banyak hadits, tidak ada informasi kapan ia lahir, tetapi diinformasikan ia wafat tahun 187. Kalau sanad hadits ini menghendaki, Bisyr menerima hadits dari ‘Ummarah ibn Ghaziyyah, dan menyampaikan hadits kepada Musaddad ( b. jalur Abu Daud ) dan Yahya ibn Khalaf ( b. jalur al-Turmudzi), maka kitab Tahdzib telah menyebut hubungan itu, artinya sanad Bisyr dengan Yahya ibn Khalaf dan Musaddad bersambung. Kemudian dari segi ‘adalah (keadilan), tokoh ini tidak perlu diragukan, karena banyak tokoh hadits yang memujinya, menurut Ali ibn al-Madinni, Bisyr shalat 400 rakaat dalam sehari, dan sehari berpuasa sehari tidak. Ibn Ma’in dan Ahnamad ibn Hambali, mengomentarinya sebagai syuyukh al-Basyiriyyin, Ibn Hibban dan al-Bazar menilainya tsiqah, kemudian al-‘Ajlinya menilainya tsiqah, faqih, tsabat fi al-hadits
Shahihu sunnah dan hasamul hadits, tidak ada seorang ulamapun menilainya majruh. dengan demikian ia adalah ‘adil dhabitz, hadistnya shahih.

4. ‘Ummarah ibn Ghaziyyah
Didalam kitab Tahdzib, ada 26 orang bernama ‘Ummarah, yang menguntungkan bagi takhrij hadits, mereka yang ibn Ghaziyyah hanya satu orang, dengan kode mim, ta’dan kho, nama aslinya ‘Ummarah ibn Ghaziyyah ibn al-Harits ibn amr ibn Ghaziyyah ibn amr ibn Tsa’labah ibn Khansa ibn Mabzul ibn Ghanam ibn Mazin ibn al-Najjari al-Anshari., Banyak ulama yang ditimba ilmu haditsnya dan Bisyr ibn Mufaddhal (c) disebut oleh ibn Hajar sebagai pemberi hadits kepada tokoh ini, dan penerima hadits darinya, jadi baik dari kode maupun pertalian sanad, tidak diragukan bahwa beliaulah yang dimaksud dalam sanad hadits tersebut diatas.
Penilaian tehadap tokoh ini bervariatif, Ibn Hibban dan al-‘Ajli menilainya tsiqah, Ta’dil ringan dikemukakan oleh beberapa orang, Abu Hatim menilai ‘Ummarah “ma fi haditsihi ba’as”, komentar An-Nasa’i terhadap tokoh ini, “Laisa bihi ba’as”, sedang Muhammad ibn Sa’ad sungguhpun menilainya tsiqah, tetapi ia menambahi kata-kata, katsirul hadits, Yahya Muhaimin hanya memberi nilai shahih, sebaliknya Ibn Hazm menilai’’Ummarah dha’if, Abdul Haq berkata “Orang mutaakhir menilai dha’if kepadanya.
Dari komentator para Ulama terhadap ’Ummarah, kita melihat ada ta’arudh antara al- jarh dengan al- ta’dil, bila kita cermati, sebenarnya ta’dil yang disampaikan para ulama pada tingkat yang rendah sebagai bentuk tolenransi, tidak ada pujian yang berupa ta’kit artinya periwayat ini tidak istimewa, sedangkan disisi lain ada yang menilai lemah, walau tidak berat seperti tuduhan pendusta , disini al-Jarh tidak disebut rinciannya, mengapa dikatakan dha’if. Melihat berbagai komentator tadi, kita dapat mengatakan bahwa hadits tersebut bukan shahih dan bukan dha’if tetapi hasan.
5. Yahya Ibn ‘Ummarah
Di dalam kitab Tahdzib, nama Yahya banyak ditemukan, tetapi hanya dua orang yang mempunyai nama bin “Ummarah , yaitu Yahya ibn ‘Ummarah dan Yahya Ummarah ibn ‘Ibat. Yahya Ibn ‘Ummarah Ibn ‘Ibat, disebutkan oleh al-Asqalani bahwa ia hanya meriwayatkan hadits kepada A’masy, dan menerima hadits dari Ibnu ‘Abas, itu hanya tentang kisah wafatnya Ali Ibnu Abi Thalib.31 Agaknya bukan ini orang yang dimaksud dalam sanad, yang tepat adalah Yahya Ibn ‘Ummarah Ibn Abi Hasan al-Anshari. Tidak ada informasi dari al- Asqalani kapan ia lahir dan kapan pula ia wafat, beberapa sahabat disebut al-Asqalni sebagai penyalur hadits kepadanya termasuk Abu Sa’id al- Khudri, ‘Ummarah ibn Ghaziyyah juga disebut sebagai salah seorang penerima hadits dari Yahya dengan demikian persambungan sanad keatas dan kebawah telah terjadi, tidak banyak komentar ulama terhadap tokoh ini, Ibn Ishaq al- Nasa’i dan Ibn Kharrasy memujinya, meski tidak luar biasa dengan nilai tsiqah, begitu juga Ibn Hibban, komentar lain tidak ada, dengan demikian tidak ada pertentangan antara penilaian ‘adil dan cacatnya, sehingga haditsnya tergolong shahih.
6. Abu Sa’id al- Khudri
Ia seorang shahabat Nabi, wafat tahun 75 H. Al-Asqalani memberi informasi bahwa Abu Sa’id meriwayatkan hadis kepada Yahya ibn ’Ummarah. Bila kita menggunakan teori bahwa semua shahabat itu adil, maka Abu Sa’id tidak perlu diperiksa, langsung dikatakan bahwa hadisnya shahih.
Jalur Abu Daud.
Abu Daud menerima hadis dari Musaddad (b). Di dalam Tahdzib, hanya seorang yang punya nama ini, Ia Musaddad ibn Musarhad ibn Musarbal al-Bashri al –Asadi Abu al-Hasan al- Hafidz. Entah kapan dia lahir, tetapi tahun wafatnya disebut 228 H . Dapat dipastikan, ini orang yang dimaksud dalam sanad, Apalagi, di sana ada kode sin, ta’ dzal khah, Dengan kode dal dan ta’ maka ia termasuk rijal al- Turmudzi dan Abu Daud.
Oleh Ibn Hajar al- Asqalani , Bisyr ibn al- Mufaddhal (c) disebut sebagai salah sorang yang menyampaikan hadis kepada Musaddad. Abu Daud disebut sebagai penerima hadits dari tokoh ini, Persambungan sanad ke atas maupun ke bawah sudah jelas.
Jawaban atas pertanyaan tentang Musaddad, menurut Abu Abdillah,”benar , ia Syeikh, semoga Allah mengampuninya”, Imam Ahmad menilainya Shaiduq ( dikenal kejujurannya ). Ibn Ma’in menilai Musaddad tsiqah-shaduq. Tidak ada yang menyacat (Zuhri, 2003: 157).
Berbagai pujian yang telah dilontarkan oleh para ulama, tergambar bahwa Musaddad tidaklah terlalu hebat. Istilah yang digunakan didalam ta’dil adalah syeikh, shaduq, malah disertai permohonan ampun, itu artinya , ia ditolerir sebagai penyalur hadits, untungnya ia tidak dicacat orang , dan hanya dinilai tsiqah shaduq , seperti Ibn Ma’in. Maka, kalau dikatakan , hadisnya shahih, agaknya shahih pas-pasan . Tetapi istilah itu tidak ada di dalam Ilmu hadits . Setelah kita menghadapi kasus semacam ini, maka kita percaya bahwa keshahihan hadits itu berlapis-lapis. Karenanya, benar kalau di dalam Ilmu Hadis ada konsep ashahhul asanid ( sanad primadona) .
Adapun tokoh lain dari jalur Abu Daud adalah Bisyr dan seterusnya ke atas sampai dengan Nabi , sudah diuraikan di jalur al- Turmudzi.

Dari hasil tayangan sanad kedua jalur itu dapat dikatakan, bahwa sanadnya bersambung. Dari segi kualitas rijal semua periwayat jalur al-Turmudzi berpredikat dhabit dan tsiqah kecuali ‘Ummarah ibn Ghaziyyah (d), dinilai kurang tsiqah. Karena itu hadis jalur al- Turmudzi nilainya hasan. Demikian juga jalur Abu Daud. Karen hadis ini melalui ‘Ummarah ibn Ghaziyyah, yang sekaligus rijal al-Turmudzi, maka nilai haditsnya juga hasan. Bahkan pada jalur Abu Daud terdapat periwayat yang tingkat keadilannya begitu rendah, sampai ada yang menilai seraya memintakan ampun. Itulah dia Musaddad

(b pada jalur Abu daud).
Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa dalam proses takhrij terhadap hadits tentang talqin mait, baik jalur al-Turmudzi maupun jalur abu Daud tidak dapat saling membantu mengangkat nilai hadits tersebut, karena “titik lemahnya” terdapat pada tokoh yang sama, yaitu ‘Ummarah ibn Ghaziyyah. Sehingga hadits yang berkaitan dengan talqin mait berkedudukan sebagai hadits hasan.
Kemudian contoh berikutnya penerapan metode takhrij hadits dengan menggunakan jasa komputer dengan program Mausu’al al- Hadits al-Syarif dengan mengambil satu contoh dari delapan cara penelusuran hadits. Yaitu Penelusuran hadits dengan memilih lafal.(Danarto, 2008: 2-4).
Untuk mencari hadits dengan metode ini, maka harus mengetahui sebagaian lafal dari matan hadits yang akan dicari, tanpa mengetahui sebagaian lafalnya, maka cara ini tidak bisa digunakan.

Kesimpulan
Dari uraian makalah yang penulis sajikan tentang Takhrij Al- Hadits, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Hadits Nabi dalam hirarki sumber pokok ajaran Islam menempati urutan kedua sesudah al-Qur’an, namun dalam prakteknya sering bahkan dianggap sejajar dengan al-Qur’an.
2. Takhrij al-Hadits merupakan suatu kegiatan penelusuran atau pencarian hadits dari berbagai sumbernya yang asli dengan mengemukakan matan serta sanadnya secara lengkap untuk kemudian diteliti kualitas haditsnya.
3. Kegunaan Takhrij al-Hadits untuk mengetahui asal-usul riwayat hadits, seluruh riwayat hadits dan ada tidaknya syahid dan mutabi’ pada sanad hadits yang diteliti.
4. Latar belakang Takhrij al-Hadits pada awalnya tidaklah begitu urgen karena penguasaan para ulama terhadap sumber as-sunnah begitu luas. Namun dirasa semakin urgen/penting ketika semangat belajar generasi berikutnya semakin lemah, untuk mengetahui hadits yang dijadikan rujukan ilmu syar’i.
5. Penerapan metode Takhrij al-Hadits secara garis besar dapat dibagi menjadi dua yaitu: Penerapan media konvensional dan media elektronika atau komputer.
6. Penerapan metode Takhrij al-Hadits memerlukan keseriusan agar memperoleh hasil yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Demikian makalah yang dapat kami sajikan semoga bermanfa’at, saran dan kritik konstruktif sangat kami harapkan sebagai penyempurna makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Abadi, Al-Fairuz, 1313 H, al-Qamus al-Muhit, Kairo al-Maimuniyyah.
Abas Hasjim, 2004, Kritik Matan Hadits, Versi Muhadisin dan Fuqoha, Yogjakarta: Teras.
Al-Hadi, Abu Muhammad Abd al-Mahdi Ibn al-Qodir Ibn ‘Abd, t.th, Turuq Tahkhrij, Hadits Rasulullah saw, Kairo, Dar al-Ihtisan, t.th, dinukil oleh Pokja Akademik, Metodologi Penelitian, 2006, Yogjakarta, Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga.
Ali, Nizar, 2008, Makalah Studi al-Hadits Program Magister, Yogjakarta.
Al-Qaththan, Syaikh Manna’, 2004, Mabahis fi ‘Ulum al-Hadits, t.tp, Maktabah Wahbah, diterjemahkan Mifdhol Abdurrahman, 2006, Pengantar Studi Ilmu Hadits, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cet.II.
Al-Tahhan, Mahmud, 1978, Usul al-Takhrij Wa Dirasat al-Isanid, Beirut, Dar al-Qur’an al-Karim.
Danarto, Agung, 2008, Panduan Pemrograman Maushu’ah Asysyarif, Yogjakarta, Universitas Ahmad Dahlan.
Hasbullah, Ali, 1964, Usul al-Tasyiri al-Islami, Mesir, Darul Ma’arif.
Ismail, Muhammad Syuhudi, 1992, Metode Penelitian Hadits Nabi, Jakarta, Bulan Bintang.
———————, 2005, Paradigma Baru Memahami Hadits Nabi, Jakarta. Renaisan.
Mustaqim, Abdul, 2002, Teori Sistem Isnad dan Otensitas Hadits, Menurut Perspektif Muhammad Mustafa Azami dalam Fazhurrahman., Yogjakarta, Tiara Wacana, cet. 1.
Muhaimin, 2005, Kawasan dan Wawasan Studi Islam, Jakarta: Fajar Inter Pratama Offset.
Zuhri, Muhammad, 2003, Hadits Nabi, Telaah Historis dan Metodologis, Yogjakarta: Tiara Wacana, cet. II.

TAKHRIJ AL- HADITS

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.