Skip navigation


TAKHRIJ HADITS

A. Pendahuluan
Dalam struktur hirarki sumber hukum Islam, hadits (sunnah) bagi ummat Islam menempati urutan kedua sesudah al-Qur’an karena, disamping sebagai ajaran Islam yang secara langsung terkait dengan keharusan menaati Rasulullah Saw, juga karena fungsinya sebagai penjelas (bayan) bagi ungkapan-ungkapan al-Qur’an yang mujmal, muthlaq, ‘amm dan sebagainya. (Abbas, 2004: 1).
Hadits Nabi meskipun dalam hirarki sumber pokok ajaran Islam menempati urutan kedua, namun dalam praktek pelaksanaan ajaran Islam sangat urgen, bahkan tidak jarang dianggap sejajar, hadits bukan hanya berfungsi sebagai penguat dan penjelas tetapi suatu ketika ia secara independen dapat menjadi pijakan dalam menentukan suatu ketetapan hukum terhadap sesuatu kasus yang tidak disebut dalam al-Qur’an.
Keberadaan hadits sebagai sumber hukum Islam sangat unik dan urgen tidak seperti al-Qur’an yang qath’i, Hadits dengan berbagai dimensinya selalu menjadi fokus kajian yang problematik dan menarik baik bagi pendukung maupun penentangnya (Mustaqim, 2002: 55-56).
Maka tidak mengherankan jika eksistensinya sering menjadi sasaran kritik dari orang-orang yang anti terhadap Islam, dikalangan umat Islam sendiri muncul kelompok yang disebut inkar al-sunnah, yang tidak menjadikan hadits sebagai sumber ajaran Islam dan hanya mencukupkan diri dengan petunjuk al-Qur’an. Di era kontemporer muncul pelbagai pemikiran baik yang dilakukan oleh pemikir muslim maupun kaum orientalis, mereka tidak pernah berhenti dan selalu mengalami perkembangan yang cukup pesat, hal ini terlihat dari banyaknya kelompok yang mengkritisi pemikiran seputar hadits seperti Mustafa al-Azami dari India, Fazlurrahman dari Indo-Pakistan, Muhammad Syahrur dari Syiria, Muhammad al Gazali dan Yusuf Qardawi dari Mesir, sedangkan dari kelompok orientalis terdapat nama-nama seperti Josepht Schacht. Montgomery Watt, Ignaz Goldzihe, dan sebagainya.
Al Qur’an dan Hadits mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari hari bagi umat Islam. Walaupun terdapat perbedaan dari segi penafsiran dan aplikasi, namun setidaknya ulama sepakat bahwa keduanya dijadikan sebagai rujukan Islam dalam mengambil dan menjadikan pedoman utamanya dari keduanya (Hasbullah, 1964: 11-14) Oleh karena itu kajian terhadap keduanya tak akan pernah keruh bahkan terus berjalan dan berkembang seiring dengan kebutuhan umat Islam, melalui terobosan terobosan baru, kajian ini akan terus mewarnai khazanah perkembangan studi keislaman dalam pentas sejarah umat Islam.
Sebagai insan akademika Institut Agama Islam, kajian terhadap sumber hukum Islam ini mempunyai arti yang sangat penting, untuk mengembangkan kajian sumber ajaran Islam secara mendalam dan ilmiah. Harapan ini tentu dalam taraf kewajaran, karena kegiatan ilmiah dapat tumbuh dengan baik dan subur dibandingkan dengan lingkungan pendidikan lainnya.
Secara umum epistemologis keilmuan sumber ajaran Islam dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yakni al- Qur’an dan hadits., dari masing-masing sumber dapat diurai dalam tiga bentuk, seperti dalam kajian al- Qur’an, ‘Ulumul al- Qur’an, tafsir dan metodologi penelitian tafsir, demikian juga dalam kajian hadits terdapat ‘Ulumul al- Hadits, Syarh al- Hadits dan metodologi penelitian hadits ( tahqiq al-hadits ) yang didalamnya terdapat tahrij al-hadits. Ketiganya mempunyai hubungan yang erat satu sama lain dan integral dalam mendalami sumber ajaran Islam. Pemahaman dalam hal tersebut akan menjadi kajian tentang kajian studi takhrij sebagaimana pada penulisan makalah ini.
Adapun yang menjadi kajian dalam penulisan makalah ini sebagai berikut, yaitu meliputi pengertian tahrij al- Hadits, latarbelakang takhrij, penting dan manfaatnya takhrij, metode dan prosesnya takhrij, dan beberapa contoh dalam mentahrij sebuah hadits. Demikian gambaran makalah ini, semoga bermanfaat bagi peningkatan pembelajaran studi hadits baik melalui metode media konvensional maupun dengan media elektronik lainnya.

B. Pengertian Takhrij al- Hadits
a. Secara Etimologi
Kata takhrij berasal dari kata kharaja, yang berarti al-zuhur (tampak) dan al-buruz (jelas) (Munawir, 1984: 356). Takhrij juga bisa berarti al-istimbat (mengeluarkan), al-tadrib (meneliti) dan al- taujih (menerangkan) (Abadi, 1313 H: 192) Takhrij juga bisa berarti Ijtima’ al-amra’aini al-muttadla diin fi syai’in wahid (berkumpulnya dua persoalan yang bertentangan dalam suatu hal), al-istimbath (mengeluarkan dari sumbernya), at-tadrib (latihan), al-taujih (menjelaskan duduk persoalan, pengarahan) (Ali, 2008: 2). Sedang menurut Syeh Manna’ Al- Qaththan, takhrij berasal dari kata kharaja yang artinya nampak dari tempatnya, atau keadaan, terpisah dan kelihatan. Al-kharaja artinya menampakan dan memperlihatkannya, dan al-makhraja artinya tempat keluar, dan akhraja al-khadits wa kharajahu artinya menampakkan dan memperlihatkan hadits kepada orang dengan menjelaskan tempat keluarnya.(Al- Qaththan, 2006: 189).
b. Secara terminologi
Adapun secara terminologi, takhrij adalah menunjukkan tempat hadits pada sumber-sumber aslinya, dimana hadits tersebut telah diriwayatkan lengkap dengan sanadnya, kemudian menjelaskan derajatnya jika diperlukan (Al- Tahhan, 1978: 9).
Takhrij menurut Nizar Ali, mempunyai pengertian:
1. Mengungkapkan atau mengeluarkan hadits kepada orang lain dengan menyebutkan para perowi yang berada dalam rangkaian sanadnya sebagai yang mengeluarkan hadits.
2. Mengeluarkan sejumlah hadits dari kandungan kitabnya dan meriwayatkan kembali.
3. Petunjuk yang menjelaskan kepada sumber asal hadits.
4. Petunjuk tentang tempat atau letak hadits pada sumber aslinya yang diriwayatkan dengan menyebutkan sanadnya, kemudian dijelaskan martabat/kedudukannya manakala diperlukan ( Ali, 2008: 3).
Sedangkan takhrij menurut istilah ahali hadits, mempunyai pengertian:
1. Menunjukan asal usul hadits dan mengemukakan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadits yang disusun Mukhorrijnya langsung, kegiatan takhrij seperti ini sebagaimana yang dilakukan oleh para penghimpun hadits dari kitab-kitab hadits, misalnya Ibnu Hajar al-‘Asqalani yang menyusun kitab Bulug al-Maram.(Ali, 2008: 43)
2. Mengemukakan berbagai hadits yang telah dikemukakan oleh para guru hadits atau berbagai kitab yang susunannya dikemukakan berdasarkan riwayat sendiri atau para gurunya atau temannya atau orang lain dengan menerangkan siapa periwayatannya dari para penyusun kitab ataupun karya yang dijadikan sumber acuan, kegiatan ini, seperti yang dilakukan oleh Imam Bukhori yang banyak mengambil hadits dari kitab al-Sunan karya Abu al-Hasan al-Basri al-Safar, lalu al-Baihaqi mengemukakan sanadnya sendiri. (Ali, 2008: 43)
3. Mengemukakan hadits kepada orang banyak dengan menyebutkan peristiwanya dengan sanad lengkap serta dengan menyebutkan metode yang mereka tempuh, inilah yang dilakukan para penghimpun dan penyusun kitab hadits, seperti al-Bukhari yang menghimpun kitab hadits Sakhih al-Bukhari (Ismail, 1992:42).
4. Mengemukakan hadits berdasarkan kitab tertentu dengan disertakan metode periwayatannya dan sanadnya serta penjelasan keadaan para periwayatnya serta kualitas haditsnya, pengertian al-takhrij seperti ini dilakukan oleh Zain al-Din ‘Abd al-Rahman ibn al-Husai al-‘Iraqi yang melakukan takhrij terhadap hadits-hadits yang dimuat dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin karya al-Gazali dengan judul bukunya Ikhbar al-Ihya’ bi Akhbar al-Ikhya’.(Ismail, 1992: 43).
5. Menunjukkan tempat hadits pada sumber-sumber aslinya, didalamnya dikemukakkan hadits itu secara lengkap dengan sanadnya masing-masing, kemudian menjelaskan derajatnya jika diperlukan (Ismail, 2005:71).
Dengan demikian pengertian takhrij dalam makalah ini adalah penelusuran atau pencarian hadits dari berbagai sumbernya yang asli dengan mengemukakan matan serta sanadnya secara lengkap untuk kemudian diteliti kualitas haditsnya.

C. Latar Belakang Takhrij al-Hadits.
Sesuai dengan sejarah perjalanan hadits, ternyata tidak semua yang disebut hadists itu, benar-benar berasal dari Nabi, apalagi kita mengetahui hadits palsu itu berkeliaran dipermukaan bumi ini, baik yang dibuat secara sengaja oleh umat Islam sendiri, karena alasan politik, perbedaan mazhab dan cinta kebaikan serta bodoh agama, atau dibuat oleh kelompok yang tidak menyukai kehadiran Islam. Kenyataan seperti ini, bertolak belakang dari pemikiran semula yang mengira bahwa semua hadits itu segala sesuatu yang di nisbahkan kepada Nabi yang fungsinya sebagai rujukan dalam memahami dan melaksanakan ajaran Islam, begitu juga apa yang dinisbahkan kepada sahabatpun disebut hadits, bahkan yang disandarkan kepada tabi’in, maka persoalannya mana hadits yang bisa diterima sebagai dalil agama karena diduga keras berasal dari Nabi, dan mana yang tidak bisa sebagai hujjah karena hadits itu palsu, persoalan-persolan seperti itu selalu membias dan menghantui pemikiran kaum muslimin, maka mulai ada titik terang, ketika ahli hadits bangkit dengan memunculkan apa yang dinamakan dengan kutub at-takhrij.
Ilmu at-takhrij pada awal perkembangan sumber hukum Islam tidaklah begitu urgen karena penguasaan para ulama terhadap sumber-sumber as-Sunnah begitu luas, sehingga mereka tidak terlalu sulit jika disebutkan suatu hadits untuk mengetahuinya dalam kitab kitab as-Sunnah, maka tidak mengherankan, jika ilmu tahrij al-hadits tidak dikenal dan tidak untuk dipelajari, bahkan belum dibutuhkan karena, mereka mempunyai pengetahuan syari’at yang luas dan ingatan yang kuat terhadap sumber hukum yang langsung datang dari Rasulullah Muhammad saw .
Sebagaimana diungkapkan oleh. Muh. Zuhri 2003: 149) bahwa: Para ulama terdahulu tidak membutuhkan metode takhrij al-Hadits, karena pengetahuan mereka terhadap sumber-sumber syari’at sangat luas dan ingatan mereka sangat kuat, ketika membutuhkan sebuah hadits sebagai dalil, dalam sekejap mereka dapat menemukannya, di kitab mana hadits itu berada. Kemudian kalau ada hadits yang belum dibukukan ,mereka mudah menemukan, diriwayatkan oleh siapa hadits yang dimaksud dan melalui jalur mana saja, karenanya ada beberapa penulis ilmu tertentu memasukan hadits didalamnya melelalui jalur yang di ketahuinya tanpa merujuk kitab tertentu. Misalnya al-Thabari dalam kitab tarihnya, Imam Syafi’i dalam menulis kitab ar-Risalah atau al-Umm dan Ibn Katsir dalam menulis tafsirnya memasukan hadits dengan jalurnya sendiri.
Ketika semangat belajar generasi berikutnya semakin lemah, mereka kesulitan untuk mengetahu tempat –tempat hadits yang dijadikan rujukan ilmu-ilmu syar’i, bahkan yang lebih fatal mereka seringkali mengambil hadits atau dalil dengan cara merujuk kitab-kitab sembarangan, disisi lain, tidak semua hadits yang dimuat dalam buku rujukan berkualitas layak. Maka untuk menjawab berbagai permasalahan sebagaian dari ulama bangkit dan memperlihatkan hadits hadits yang ada pada sebagaian kitab dan menjelaskan sumbernya dari kitab-kitab as-sunnah yang asli, menjelaskan metodenya, dan menerangkan hukumnya dari yang shaheh atas yang dhaif, untuk menelusuri hadits atau dalil dan mengkanter hal tersebut diperlukan ilmu yang disebut tahrij al-hadits.

D. Tujuan dan Manfaatnya Takhrij al-Hadits.
Adapun tujuan utama dilakukan tahrij al-hadits diantaranya adalah:
a. Mengetahui sumber asli asal hadits yang di takhrij.
b. Mengetahui keadaan/kualitas hadits yang berkaitan dengan maqbul/diterima maupun mardudnya/ditolaknya.(Ali, 2008: 2).
Sumber-sumber Hadits yang asli dimaksud adalah kitab-kitab Hadits , dimana para penyusunnya menghimpun Hadits-hadits itu melalui penerimaan dari guru-gurunya dengan rangkaian sanad yang sampai kepada Nabi Muhammad SAW, seperti kitab al-Sittah (sahih al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Turmudzi, al-Nasa’I dan Ibnu Majah).
Adapun penjelasan terhadap nilai-nilai Hadits, diterima atau tidaknya sebuah hadits atau sahih, hasan atau daifnya dan lain-lain, dilakukan bila perlu saja dan tidak merupakan yang esensial dalam tahrij.
Takhrij al-Hadits sangat berguna untuk memperluas pengetahuan seseorang tentang seluk beluk kitab-kitab Hadits dalam berbagai bentuk dan system penyusunannya, mempermudah seseorang dalam mengembalikan sesuatu Hadits yang ditemukannya kedalam sumber-sumber aslinya, sehingga dengan demikian akan mudah pula untuk mengetahui derajat keshahihan tidaknya Hadits tersebut, Selain itu, dengan takhrij al-Hadits secara tidak langsung seseorang akan mengetahui hadits-hadits lain yang sebenarnya tidak dicari dan sempat membacanya dalam kitab-kitab itu.
Ismail (2005: 71).mengemukakan:

sedikitnya ada tiga hal yang menyebabkan pentingnya kegiatan takhrij al-hadits dalam melaksanakan penelitian hadits, yaitu
1. Untuk mengetahui asal usul riwayat hadits yang akan diteliti;
2. Untuk mengetahui seluruh riwayat bagi hadits yang akan diteliti;
3. Untuk mengetahui ada tidaknya syahid dan mutabi’ pada sanad yang akan diteliti.
Sedangkan manfaat dari kegiatan takhrij al-hadits diantaranya adalah:
a. Memperkenalkan sumber-sumber hadits, kitab-kitab asal di mana suatu hadits berada, beserta ulama yang meriwayatkannya.
b. Dapat menambah perbendaharaan sanad hadits melalui kitab-kitab yang dirujuknya, semakin banyak kitab asal yang memuat suatu hadits, semakin banyak pula perbendaharaan sanad yang kita miliki.
c. Dapat memperjelas keadaan sanad, dengan membandingkan riwayat hadits yang banyak itu, maka dapat diketahui apakah riwayat tersebut munqati’, mu’dal dan lain-lain, demikian juga dapat diketahui, apakah status riwayat tersebut sahih, hasan atau daif.
d. Dapat memperjelas kualitas suatu hadits dengan banyaknya riwayat, suatu hadits daif kadang diperoleh melalui satu riwayat, namun takhrij memungkinkan akan menemukan riyawat lain yang sahih, hadits yang sahih itu mengangkat kualitas hadits yang daif tersebut kederajat yang lebih tinggi.
e. Dapat memperjelas periwayat hadits yang samar, dengan adanya takhrij kemungkinan dapat diketahui nama periwayat yang sebenarnya secara lengkap.

f. Dapat memperjelas periwayat hadits yang tidak diketahui namanya, yaitu melalui perbandingan diantara sanad yang ada.

g. Dapat menafikkan pemakaian lambang periwayatan ‘an dalam periwayatan hadits oleh seorang mudallis.
h. Dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya riwayat dan memperjelas nama periwayat yang sebenarnya.
i. Dapat memperkenalkan periwayatan yang tidak terdapat dalam satu sanad.
j. Dapat menghilangkan unsur syaz dan membedakan hadits yang mudraj.
k. Dapat menghilangkan keragu-raguan dan kekeliruan yang dilakukan oleh periwayat.
l. Dapat membedakan antara periwayatan secara lafal dengan periwayatan secara makna.
m. Dapat menjelaskan waktu dan tempat turunnya hadits dan lain-lain. (Al-Hadi, tt: 11-14).
Dengan demikian melalui kegiatan takhrij al-hadits peneliti dapat mengumpulkan berbagai sanad dari sebuah hadits, dan juga dapat mengumpulkan berbagai redaksi dari sebuah matan hadits.

E. Metode Dan Proses Takhrij al- Hadits.
Metode Takhrij al-Hadits
Dalam kegiatan penelusuran sebuah Hadits tidaklah semudah yang kita bayangkan, karena membutuhkan seperangkat kemampuan yang komprehensip terhadap sebuah hadits , sebagaimana yang diungkapkan oleh Suhudi, bahwa kegiatan penelusuran hadits ( takhrij al-hadits ) kepada sumber aslinya, tidaklah semudah, penelusuran ayat al-Qur’an. Penelusuran terhadap ayat al-Qur’an cukup dipergunakan sebuah kitab kamus al-Qur’an, misalnya al-Mu’jam Mufahras Li alfazh al-Qur’an al-Karim, sedangkan penelusuran terhadap hadits Nabi terhimpun dalam banyak kitab dengan metode penyusunan yang beragam.(Ismail, 1992: 45).
Dengan dimuatnya hadits Nabi dalam berbagai kitab hadits, maka sampai saat ini, belum ada sebuah kamus yang mampu memberi petunjuk untuk mencari ha dits yang dimuat oleh seluruh kitab hadits yang ada, tetapi terbatas pada sejumlah hadits saja, namun tidaklah berarti hadits nabi yang termuat dalam berbagai kitab tidak dapat ditelusuri, untuk keperluan itu, lebih lanjut Ismail 1992: 45) mengatakan para ulama hadits telah menyusun kitab-kitab kamus dengan metode yang beragam.
Muhaimin 2005: 157) dalam bukunya Kawasan dan Wawasan Studi Islam membagi beberapa hal yang diperlukan dalam melakukan takhrij yaitu:
1. Memerhatikan sahabat yang meriwayatkannya jika disebutkan.
2. Memerhatikan lafal pertama dari matan Hadits
3. Memerhatikan salah satu lafal Hadits
4. Memerhatikan tema Hadits, atau.
5. Memerhatikan tentang sifat khusus sanad atau matan Hadits itu.

Sedang Ismail 1992: 45). membagi metode takhrij antara lain:
1.Metode pertama, dengan cara mengetahui perawi hadits dari sahabat,
2.Metode kedua, takhrij dengan cara mengetahui permulaaan lafazn dari hadits,
3.Metode ketiga, takhrij dengan cara mengetahui kata yang jarang penggunaannya oleh orang dari bagaian mana saja   dari matan hadits,
4.Metode keempat, takhrij dengan cara mengetahui topik pembahasan hadits.
Dengan demikian dalam takhrij terdapat beberapa macam metode yang diringkas dengan mengambil pokok-pokoknya sebagai berikut:
1.Metode pertama, Takhrij dengan cara mengetahui perowi Hadits dari sahabat, metode ini dikhususkan jika kita mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan Hadits, lalu kita mencari bantuan dari tiga macam karya hadits.yaitu:
Kitab al- Masaanid (musnad-musnad), dalam kitab ini disebutkan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh setiap sahabat secara tersendiri, selama kita telah mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan hadits, maka kita mencari hadits tersebut dalam kitab al-Masaanid, hingga mendapatkan petunjuk dalam satu musnad dalam kumpulan musnad tersebut.
Kitab al- Ma’aajim (mu’jam-mu’jam), susunan hadits didalamnya berdasarkan urutan musnad para sahabat atau syuyukh (guru-guru) atau bangsa (tempat asal) sesuai huruf kamus (hijaiyyah), dengan mengetahui nama sahabat dapat memudahkan untuk merujuk haditsnya.
Kitab al- Athraf, kebanyakan kitab-kitab al- Athraf disusun berdasarkan musnad-musnad para sahabat dengan urutan nama mereka sesuai huruf kamus, jika seorang peneliti mengetahui bagian dari hadits itu, maka dapat merujuk pada sumber-sumber yang ditunjukkan oleh kitab-kitab al- Athraf tadi untuk kemudian mengambil hadits secara lengkap.

2.Metode kedua, Takhrij dengan mengetahui permulaan lafadh dari hadits, cara ini dapat dibantu dengan kitab-kitab yang berisi tentang hadits yang dikenal orang banyak, misalnya Ad-Durarul-Muntasirah Fil-Ahaaditsil Musytaharah, karya As-Suyuthi. Al – Laali Al- Mantsuurah fil Ahadits Masyhurah, karya Ibnu Hajar. Al- Maqashidul Hasanah fii Bayaani Katsirin minal- Ahaaditsil Musytahirah ‘alal- Alsinah, karya As- Sakhawi.
3.Metode ketiga, Takhrij dengan cara mengetahui kata yang jarang penggunaannya oleh orang dari bagian mana saja dari matan hadits, metode ini dapat dibantu dengan kitab Al-Mu’jam Al-Mufahras li Al-Faadzil Hadits An-Nabawi, berisi sembilan kitab yang paling terkenal diantara kitab-kitab hadits yaitu Kutubus-Sittah,. Muwaththa’ karya Imam Malik, Musnad Ahmad, dan Musnad ad-Darimi.
4.Metode keempat, Takhrij dengan cara mengetahui tema pembahasan hadits, jika telah diketahui tema dan obyek pembahasan hadits, maka bisa dibantu dalam takhrijnya dengan karya-karya hadits yang disusun berdasarkan bab-bab dan judul-judul, cara ini banyak dibantu dengan kitab Miftah Kunuz As-Sunah, yang berisi daftar isi hadits yang disusun berdasarkan judul-judul pembahasan. Kitab ini disusun oleh seorang orientalis berkebangsaan Belanda yang bernama Arinjan Vensink, kitab ini mencakup daftar isi untuk 14 kitab hadits yang terkenal yaitu: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Jami’ At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’I,Sunan Ibnu Majah, Muwaththa’ Malik, Musnad Ahmad, Musnad Abu Dawud Ath-Thayalisi, Sunan Ad-Darimi, Musnad Zaid bin ‘Ali, Sirah Ibnu Hisyam, Maghazi Al-Waqidi dan Thabaqat Ibnu Sa’ad.
Disamping metode takhrij al-hadits diatas, Danarto (2008: 2) dalam bukunya Takhrij al- Hadits menambahkan, untuk mempercepat proses penelusuran dan pencarian hadits tersebut, ia dapat menggunakan jasa komputer dengan program Mausu’ah al-Hadits al-Syarif yang bisa mengakses 9 (sembilan) kitab sumber primer hadits, ada 8 (delapan) cara yang bisa digunakan untuk menelusuri hadits-hadits yang terdapat dalam Shahih al- Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan al- Nasa’I, Sunan al- Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan al- Darimi dan Musnad Ahmad ibn Hambal, kedelapan cara penelusuran hadits tersebut adalah:
1. Dengan memilih lafal yang terdapat dalam daftar lafal yang sesuai dengan hadits yang dicari.
2. Dengan mengetik salah satu lafal dalam matan hadits.
3. Berdasarkan tema kandungan hadits.
4. Berdasarkan kitab dan bab sesuai yang ada dalam kitab aslinya.
5. Berdasarkan nomor urut hadits.
6. Berdasarkan pada periwayatannya.
7. Berdasarkan aspek tertentu dalam hadits.
8. Berdasarkan takhrij hadits.

Proses Takhrij al-Hadits.
Dalam kegiatan sehari-hari kita sering menemukan masalah, kemudian masalah itu kita rujukan dengan sumber hukum Islam, ketika dirujukan ternyata dalil itu mutawatir, itu akan terasa melegakan pikiran, tetapi seringkali kita ingat sebuah hadits, kita ragu, hadits itu sahih atau tidak, kemudian untuk meyakinkan kita lacak hadits itu, dimuat di kitab mana, sebagaimana kita tidak tahu, riwatnya mutawatir atau tidak, sederet pertanyaan itulah yang sering muncul dalam kenyataan,. Zuhri 2003: 150) mengemukakan ada dua cara yang dapat dipakai untuk melacak hadits seperti itu.
1. kita dapat melacaknya melalui tema/maudhu’ yang diperkirakan bahwa hadits dimaksud berada dalam maudhu’ ini, salah satu buku ensiklopedi kitab hadis terbaik yang disusun berdasarkan tema/maudhu’ adalah Miftah Kunuz al-Sunnah, karya A.J.Wensick dan kawan-kawan, informasi tentang hadits yang kita cari secara lengkap dapat ditemukan dikitab ini, karena didalamnya memuat informasi secara lengkap, data kitab sumber pengambilannya, bab apa, juz berapa atau hadits nomor berapa.

2. Kita berangkat dari kosa kata, bila berangkat dari kosa kata maka, langkah yang kita ambil adalah:
a. Menelusuri, di buku mana hadits yang diteliti berada
Di atas, pemakalah telah membahas bahwa tujuan utama dari takhrij al-Hadits adalah mengetahui dimana hadits itu dimuat, maka hadits yang dimaksud kita lihat didalam kitab kamus atau ensiklolpedi, misalnya dikitab Jami’ al-Shaghir karya Imam al-Suyuthi, atau didalam kitab Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits, walaupun kitab ini ditulis oleh seorang orientalis, tetapi sangat diminati oleh para pengkaji hadits, dan para ahli hadits mengatakan, kitab ini sangat membantu dalam penelitian hadits, tentu tidak sembarang orang mampu melaksanakannya, karena, menelusuri hadits dikitab al-Mu’jam ini memerlukan ketrampilan, Zuhri 2003: 151 dalam bukunya Haditst Nabi, Telah Historis Dan

Metodologis mengatakan; Kitab Mu’jam digunakan apabila kita hanya dapat mengingat potongan hadits, seperti penggunaan Mu’jam ayat al-Qur’an, penggunaan Mu’jam hadits untuk mencari hadits berdasarkan kata tertentu dari potongan hadits yang kita hafal, dari sana kita memperoleh informasi, hadits yang kita cari diriwayatkan oleh siapa dan dalam bab apa, pekerjaan seperti ini termasuk dalam ranah takhrij al-hadits.
b. Membuat Bagan Sanad Periwayat Hadits.
Informasi yang kita peroleh dari kitab al-Mu’jam, kita tindaklanjuti dengan menelusuri hadits sesuai petunjuknya, kalau kitab mu’jam itu menunjuk dua kitab, kita mencarinya di dua kitab itu, selanjutnya kita menyusun bagan sanad hadits, sejak dari perowi terakhir sampai dengan Nabi, sesuai dengan klsifikasi hadits, banyak atau sedikitnya jalur hadits akan mengantarkan kita untuk berkata apakah sebuah hadits itu mashur, ‘aziz atau ahad, bila hadits itu ahad, dan setelah isinya dikonfirmasikan dengan riwayat lain ternyata ada kelainan, maka dapat kita katakan hadits itu gharib atau bahkan syadz dan seterusnya. Untuk memberi penilaian sebuah hadits kita kembali kesebuah rujukan teori yang terdapat dalam Ulumul Hadits.
c. Memeriksa Persambungan sanad dan Reputasi para Periwayat.
Setelah bagan periwayatan dibuat secara lengkap, selanjutnya kita mengambil Kitab Rijal al-Hadits untuk memeriksa satu demi satu periwayat yang terdapat dalam bagan tersebut, karena bayak nama orang, yang mirip antara satu orang dengan yang lainnya, maka kecermatan seorang peneliti al-Hadits sangat diperlukan, dari riwayat hidup yang diinformasikan oleh kitab Rijal, kita dapat melihat, apakah sanadnya dari hadits yang kita maksudkan itu bersambung atau tidak, bila sanadnya terputus maka kita dapat menetapkan predikat hadits sesuai dengan jumlah keterputusan sanad, dari sini muncul kategori hadits mursal, munqathi’, mu’dhal dan sebagainya dan sebaliknya bila sanadnya bersambung, maka untuk menentukan predikat hadits yang ditakhrij, kita perlu merujuk kemodel al-Bukhari atau Muslim.
Dari penelusuran terhadap kitab Rijal al-Hadis kita akan memperoleh keterangan dari peneliaian para ahli hadits atas seorang tokoh sanad yang sedang menjadi fokus kajian, ada beberapa kemungkinan antara lain:
- Periwayat yang menjadi perhatian kita itu tercela (majruh), dari sini kita bisa menentukan tingkat kadar kedha’ifan sebuah hadits.
- Periwayat dimaksud terpuji, maka pujian tersebut kita lihat, berada pada peringkat apa, pujian ini akan membawa kepada kesimpulan bahwa sebuah hadits itu shahih sanadnya atau hadits itu hasan nilainya.
- Periwayat yang dimaksud ternyata kontroversi, artinya disatu sisi ada ahli hadits yang memuji dan disisi lain ada yang mencela, menghadapi hal yang seperti ini kita akan menggunakan teori mana yang dipakai untuk penyelesaiannya, mendahulukan al-Jarh atas ta’dil atau mendahulukan suara terbanyak. Untuk menjawab hal tersebut tentu kita kembali kepada teori Ulumul Hadits .
Sebagamana yang telah dibahas dimuka, bahwa untuk mengetahui apakah sebuah hadits itu shahih atau tidak maka hadits harus terhindar dari predikat saydz dan mu’allal, untuk mengetahui syadz tidaknya, kita perlu mengadakan konfirmasi, ia diriwayatkan melalui jalur lain atau tidak, apakah hadits yang kita teliti bertentangan dengan syari’at Islam atau tidak, relativitas itu muncul apabila tolak ukur terhadap isi al-hadits didasarkan pada akal atau hawa nafsu semata.

F. Contoh Penerapan Metode Takhrij Al-Hadits
Dalam hal ini akan dikemukakan salah satu contoh penerapan metode takhrij al-hadits, dengan menggunakan metode penelusuran keberadaan hadits, membuat bagan sanad hadits dan memeriksa persambungan sanad dan reputasi para periwayat. Untuk mengenal lebih jauh tentang penerapan metode takhrij, kita ambil contoh sebuah hadits tentang Talqin al- Maut, dimasyarakat muslim ditemukan salah satu upacara keagamaan, talqin al-maut, mengajarkan la ilaha illallah kepada orang mati, pelaksanaannya ada yang mengajarkan ketika mayat sudah dikubur, ada pula yang mengajarkannya untuk calon mayat, persoalannya bagaimana bunyi hadits itu secara lengkap, hadits itu diriwayatkan oleh siapa, didalam kitab apa, dan hadits itu mutawatir apa tidak?
Kita memulai membuka kitab Mu’jam al-Mufahras li alfaadzh al-Hadits, dengan membawa kosa kata atau redaksi kata talqin, hadits tersebut diriwayatkan oleh imam al-Turmudzi dan imam Abu Daud, hadits riwatyat al-Turmudzi berbunyi;

حد ثنا ابو سلمة يحيي بن خلف حد ثنا بشر بن المفضل عن عمرة بن غزية عن يحيى
بن عمرة عن ابى سعيد الخد رى عن النبى صلى الله قال : لقنوا موتكم لا اله الا الله

Artinya: Telah bercerita kepada saya, Abu Salamah Yahya ibn Khalaf, katanya telah bercerita kepada saya, Bisyr al-Mufaddhal dari ‘Ummarah ibn Ghaziyyah dari Yahya ibn ‘Ummarah dari Abu Sa’id al-Khudri dari Nabi saw, katanya,”Talqinlah maitmu dengan la ilaha illallah”.

Adapun hadits riwayat Abu Daud berbunyi;
حد ثنا مسد د ثنا بشرى ثنا عمارة بن غزية ثنا يحيى بن عمارة قال: سمعت ابا سعيد
الخدرى يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لقنوا موتكم لا اله الا الله
Artinya:Telah bercerita kepada kami, Mussadad, katanya, bercerita kepada kami Bisyr katanya, telah bercerita kepada kami ‘Ummarah ibn Ghaziyyah, katanya, telah bercerita kepada kami Yahya ibn ‘Ummarah katanya, saya mendengar Abu Sa’id al-Khudri berkata : Rasulullah saw pernah bersabda, “Talqinlah maitmu dengan la ilahaillallah”.

Langkah berikutnya membuat bagan hadits, sesuai dengan hadits yang telah dicontohkan diatas, maka kita membuat dua bagan. Karena pada dua jalur sanad itu ada periwayat yang sama, maka dapat dibuat satu bagan saja, sebagai berikut:

NABI MUHAMMAD SAW

f. Abu Sa’id al-Khudri (w.75)

e.Yahya ibn ‘Umarah ( ? )

d.‘Umarah ibn Ghaziyyah (w.140)

c.Bisyr ibn al-Mufadhal (w.187)

b. Abu Salamah Yahya ibn Khalaf b. Musaddad
(w.242) (w.228)

a. Al- Turmudzi (209-279) a. Abu Daud (202-272)

Langkah berikutnya menelusuri persambungan sanad dan reputasi masing–masing periwayat.

a. Jalur Al- Turmudzi
1. Nama al- Turmudzi sudah sangat terkenal, beliau adalah seorang periwayat hadits yang dhabit dan tsiqah, maka penelusuran terhadapnya tidak diperlukan, hanya perlu dicantumkan, beliau hidup antara tahun 209-279 H.
2. Abu Salamah, Yahya ibn Khalaf
Ibn Hajar al-Asqalani di dalam kitab Tahdzib al-Tahdzib mengungkapkan bahwa nama lengkap tokoh ini adalah Yahya ibn Khalaf al-Bahili Abu Salamah al-Bishri terkenal dengan al-Jubari.27. Kode yang dicantumkan di sebelah nama untuk Yahya ini
adalah mim dal ta kof, dengan huruf ta dan dal berarti ia termasuk rijal Turmudzi dan Abu Daud, dan karena secara kebetulan tidak ada orang lain yang memiliki nama ini, maka dapat dipastikan dialah orang yang dimaksud dalam sanad hadits ini, tidak disebutkan kapan ia lahir, tetapi yang disebutkan ia wafat pada tahun 242 H, melihat tahun wafatnya ini, al-Turmudzi bertemu dengan tokoh ini (Yahya ibn Khalaf).
Ibn Hajar mengatakan bahwa banyak ulama yang ditimba ilmu haditsnya oleh Yahya ibn Khalaf, banyak juga yang meriwayatkan hadits darinya termasuk Bisyr ibn al-Mufaddhal, dan al-Turmudzi disebut sebagai seorang penerima hadits darinya.28. Ibnu Hibban memasukan Yahya ini kedalam kelompok orang tsiqah, komentar lain tidak ada, dan al-jarh yang ditunjukkan kepadanya juga tidak ada, karena tidak ada al-jarh terhadapnya, justru ada penilaian tsiqah, maka ia digolongkan orang yang ‘adil dan dhabit, haditsnya shahih.(Zuhri, 2003: 157)

3. Bisyr ibn al-Mufaddhal.
Di dalam kitab Tahdzib ibn Hajar menyebutkan, ada 38 orang bernama Bisyr, hanya satu yang ibn al-Mufaddhal, ia diberi kode ‘ain, artinya ia seorang rijal kutubus sittah, ini berarti ia rijal al-Turmudzi dan Abu Daud, nama lengkap tokoh ini adalah Bisyr ibn al-Mufaddhal ibn Labiq al-Raqasyi, ia menerima hadits dari banyak ulama, dan meriwayatkan banyak hadits, tidak ada informasi kapan ia lahir, tetapi diinformasikan ia wafat tahun 187. Kalau sanad hadits ini menghendaki, Bisyr menerima hadits dari ‘Ummarah ibn Ghaziyyah, dan menyampaikan hadits kepada Musaddad ( b. jalur Abu Daud ) dan Yahya ibn Khalaf ( b. jalur al-Turmudzi), maka kitab Tahdzib telah menyebut hubungan itu, artinya sanad Bisyr dengan Yahya ibn Khalaf dan Musaddad bersambung. Kemudian dari segi ‘adalah (keadilan), tokoh ini tidak perlu diragukan, karena banyak tokoh hadits yang memujinya, menurut Ali ibn al-Madinni, Bisyr shalat 400 rakaat dalam sehari, dan sehari berpuasa sehari tidak. Ibn Ma’in dan Ahnamad ibn Hambali, mengomentarinya sebagai syuyukh al-Basyiriyyin, Ibn Hibban dan al-Bazar menilainya tsiqah, kemudian al-‘Ajlinya menilainya tsiqah, faqih, tsabat fi al-hadits
Shahihu sunnah dan hasamul hadits, tidak ada seorang ulamapun menilainya majruh. dengan demikian ia adalah ‘adil dhabitz, hadistnya shahih.

4. ‘Ummarah ibn Ghaziyyah
Didalam kitab Tahdzib, ada 26 orang bernama ‘Ummarah, yang menguntungkan bagi takhrij hadits, mereka yang ibn Ghaziyyah hanya satu orang, dengan kode mim, ta’dan kho, nama aslinya ‘Ummarah ibn Ghaziyyah ibn al-Harits ibn amr ibn Ghaziyyah ibn amr ibn Tsa’labah ibn Khansa ibn Mabzul ibn Ghanam ibn Mazin ibn al-Najjari al-Anshari., Banyak ulama yang ditimba ilmu haditsnya dan Bisyr ibn Mufaddhal (c) disebut oleh ibn Hajar sebagai pemberi hadits kepada tokoh ini, dan penerima hadits darinya, jadi baik dari kode maupun pertalian sanad, tidak diragukan bahwa beliaulah yang dimaksud dalam sanad hadits tersebut diatas.
Penilaian tehadap tokoh ini bervariatif, Ibn Hibban dan al-‘Ajli menilainya tsiqah, Ta’dil ringan dikemukakan oleh beberapa orang, Abu Hatim menilai ‘Ummarah “ma fi haditsihi ba’as”, komentar An-Nasa’i terhadap tokoh ini, “Laisa bihi ba’as”, sedang Muhammad ibn Sa’ad sungguhpun menilainya tsiqah, tetapi ia menambahi kata-kata, katsirul hadits, Yahya Muhaimin hanya memberi nilai shahih, sebaliknya Ibn Hazm menilai’’Ummarah dha’if, Abdul Haq berkata “Orang mutaakhir menilai dha’if kepadanya.
Dari komentator para Ulama terhadap ’Ummarah, kita melihat ada ta’arudh antara al- jarh dengan al- ta’dil, bila kita cermati, sebenarnya ta’dil yang disampaikan para ulama pada tingkat yang rendah sebagai bentuk tolenransi, tidak ada pujian yang berupa ta’kit artinya periwayat ini tidak istimewa, sedangkan disisi lain ada yang menilai lemah, walau tidak berat seperti tuduhan pendusta , disini al-Jarh tidak disebut rinciannya, mengapa dikatakan dha’if. Melihat berbagai komentator tadi, kita dapat mengatakan bahwa hadits tersebut bukan shahih dan bukan dha’if tetapi hasan.
5. Yahya Ibn ‘Ummarah
Di dalam kitab Tahdzib, nama Yahya banyak ditemukan, tetapi hanya dua orang yang mempunyai nama bin “Ummarah , yaitu Yahya ibn ‘Ummarah dan Yahya Ummarah ibn ‘Ibat. Yahya Ibn ‘Ummarah Ibn ‘Ibat, disebutkan oleh al-Asqalani bahwa ia hanya meriwayatkan hadits kepada A’masy, dan menerima hadits dari Ibnu ‘Abas, itu hanya tentang kisah wafatnya Ali Ibnu Abi Thalib.31 Agaknya bukan ini orang yang dimaksud dalam sanad, yang tepat adalah Yahya Ibn ‘Ummarah Ibn Abi Hasan al-Anshari. Tidak ada informasi dari al- Asqalani kapan ia lahir dan kapan pula ia wafat, beberapa sahabat disebut al-Asqalni sebagai penyalur hadits kepadanya termasuk Abu Sa’id al- Khudri, ‘Ummarah ibn Ghaziyyah juga disebut sebagai salah seorang penerima hadits dari Yahya dengan demikian persambungan sanad keatas dan kebawah telah terjadi, tidak banyak komentar ulama terhadap tokoh ini, Ibn Ishaq al- Nasa’i dan Ibn Kharrasy memujinya, meski tidak luar biasa dengan nilai tsiqah, begitu juga Ibn Hibban, komentar lain tidak ada, dengan demikian tidak ada pertentangan antara penilaian ‘adil dan cacatnya, sehingga haditsnya tergolong shahih.
6. Abu Sa’id al- Khudri
Ia seorang shahabat Nabi, wafat tahun 75 H. Al-Asqalani memberi informasi bahwa Abu Sa’id meriwayatkan hadis kepada Yahya ibn ’Ummarah. Bila kita menggunakan teori bahwa semua shahabat itu adil, maka Abu Sa’id tidak perlu diperiksa, langsung dikatakan bahwa hadisnya shahih.
Jalur Abu Daud.
Abu Daud menerima hadis dari Musaddad (b). Di dalam Tahdzib, hanya seorang yang punya nama ini, Ia Musaddad ibn Musarhad ibn Musarbal al-Bashri al –Asadi Abu al-Hasan al- Hafidz. Entah kapan dia lahir, tetapi tahun wafatnya disebut 228 H . Dapat dipastikan, ini orang yang dimaksud dalam sanad, Apalagi, di sana ada kode sin, ta’ dzal khah, Dengan kode dal dan ta’ maka ia termasuk rijal al- Turmudzi dan Abu Daud.
Oleh Ibn Hajar al- Asqalani , Bisyr ibn al- Mufaddhal (c) disebut sebagai salah sorang yang menyampaikan hadis kepada Musaddad. Abu Daud disebut sebagai penerima hadits dari tokoh ini, Persambungan sanad ke atas maupun ke bawah sudah jelas.
Jawaban atas pertanyaan tentang Musaddad, menurut Abu Abdillah,”benar , ia Syeikh, semoga Allah mengampuninya”, Imam Ahmad menilainya Shaiduq ( dikenal kejujurannya ). Ibn Ma’in menilai Musaddad tsiqah-shaduq. Tidak ada yang menyacat (Zuhri, 2003: 157).
Berbagai pujian yang telah dilontarkan oleh para ulama, tergambar bahwa Musaddad tidaklah terlalu hebat. Istilah yang digunakan didalam ta’dil adalah syeikh, shaduq, malah disertai permohonan ampun, itu artinya , ia ditolerir sebagai penyalur hadits, untungnya ia tidak dicacat orang , dan hanya dinilai tsiqah shaduq , seperti Ibn Ma’in. Maka, kalau dikatakan , hadisnya shahih, agaknya shahih pas-pasan . Tetapi istilah itu tidak ada di dalam Ilmu hadits . Setelah kita menghadapi kasus semacam ini, maka kita percaya bahwa keshahihan hadits itu berlapis-lapis. Karenanya, benar kalau di dalam Ilmu Hadis ada konsep ashahhul asanid ( sanad primadona) .
Adapun tokoh lain dari jalur Abu Daud adalah Bisyr dan seterusnya ke atas sampai dengan Nabi , sudah diuraikan di jalur al- Turmudzi.

Dari hasil tayangan sanad kedua jalur itu dapat dikatakan, bahwa sanadnya bersambung. Dari segi kualitas rijal semua periwayat jalur al-Turmudzi berpredikat dhabit dan tsiqah kecuali ‘Ummarah ibn Ghaziyyah (d), dinilai kurang tsiqah. Karena itu hadis jalur al- Turmudzi nilainya hasan. Demikian juga jalur Abu Daud. Karen hadis ini melalui ‘Ummarah ibn Ghaziyyah, yang sekaligus rijal al-Turmudzi, maka nilai haditsnya juga hasan. Bahkan pada jalur Abu Daud terdapat periwayat yang tingkat keadilannya begitu rendah, sampai ada yang menilai seraya memintakan ampun. Itulah dia Musaddad

(b pada jalur Abu daud).
Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa dalam proses takhrij terhadap hadits tentang talqin mait, baik jalur al-Turmudzi maupun jalur abu Daud tidak dapat saling membantu mengangkat nilai hadits tersebut, karena “titik lemahnya” terdapat pada tokoh yang sama, yaitu ‘Ummarah ibn Ghaziyyah. Sehingga hadits yang berkaitan dengan talqin mait berkedudukan sebagai hadits hasan.
Kemudian contoh berikutnya penerapan metode takhrij hadits dengan menggunakan jasa komputer dengan program Mausu’al al- Hadits al-Syarif dengan mengambil satu contoh dari delapan cara penelusuran hadits. Yaitu Penelusuran hadits dengan memilih lafal.(Danarto, 2008: 2-4).
Untuk mencari hadits dengan metode ini, maka harus mengetahui sebagaian lafal dari matan hadits yang akan dicari, tanpa mengetahui sebagaian lafalnya, maka cara ini tidak bisa digunakan.

Kesimpulan
Dari uraian makalah yang penulis sajikan tentang Takhrij Al- Hadits, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Hadits Nabi dalam hirarki sumber pokok ajaran Islam menempati urutan kedua sesudah al-Qur’an, namun dalam prakteknya sering bahkan dianggap sejajar dengan al-Qur’an.
2. Takhrij al-Hadits merupakan suatu kegiatan penelusuran atau pencarian hadits dari berbagai sumbernya yang asli dengan mengemukakan matan serta sanadnya secara lengkap untuk kemudian diteliti kualitas haditsnya.
3. Kegunaan Takhrij al-Hadits untuk mengetahui asal-usul riwayat hadits, seluruh riwayat hadits dan ada tidaknya syahid dan mutabi’ pada sanad hadits yang diteliti.
4. Latar belakang Takhrij al-Hadits pada awalnya tidaklah begitu urgen karena penguasaan para ulama terhadap sumber as-sunnah begitu luas. Namun dirasa semakin urgen/penting ketika semangat belajar generasi berikutnya semakin lemah, untuk mengetahui hadits yang dijadikan rujukan ilmu syar’i.
5. Penerapan metode Takhrij al-Hadits secara garis besar dapat dibagi menjadi dua yaitu: Penerapan media konvensional dan media elektronika atau komputer.
6. Penerapan metode Takhrij al-Hadits memerlukan keseriusan agar memperoleh hasil yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Demikian makalah yang dapat kami sajikan semoga bermanfa’at, saran dan kritik konstruktif sangat kami harapkan sebagai penyempurna makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Abadi, Al-Fairuz, 1313 H, al-Qamus al-Muhit, Kairo al-Maimuniyyah.
Abas Hasjim, 2004, Kritik Matan Hadits, Versi Muhadisin dan Fuqoha, Yogjakarta: Teras.
Al-Hadi, Abu Muhammad Abd al-Mahdi Ibn al-Qodir Ibn ‘Abd, t.th, Turuq Tahkhrij, Hadits Rasulullah saw, Kairo, Dar al-Ihtisan, t.th, dinukil oleh Pokja Akademik, Metodologi Penelitian, 2006, Yogjakarta, Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga.
Ali, Nizar, 2008, Makalah Studi al-Hadits Program Magister, Yogjakarta.
Al-Qaththan, Syaikh Manna’, 2004, Mabahis fi ‘Ulum al-Hadits, t.tp, Maktabah Wahbah, diterjemahkan Mifdhol Abdurrahman, 2006, Pengantar Studi Ilmu Hadits, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, Cet.II.
Al-Tahhan, Mahmud, 1978, Usul al-Takhrij Wa Dirasat al-Isanid, Beirut, Dar al-Qur’an al-Karim.
Danarto, Agung, 2008, Panduan Pemrograman Maushu’ah Asysyarif, Yogjakarta, Universitas Ahmad Dahlan.
Hasbullah, Ali, 1964, Usul al-Tasyiri al-Islami, Mesir, Darul Ma’arif.
Ismail, Muhammad Syuhudi, 1992, Metode Penelitian Hadits Nabi, Jakarta, Bulan Bintang.
———————, 2005, Paradigma Baru Memahami Hadits Nabi, Jakarta. Renaisan.
Mustaqim, Abdul, 2002, Teori Sistem Isnad dan Otensitas Hadits, Menurut Perspektif Muhammad Mustafa Azami dalam Fazhurrahman., Yogjakarta, Tiara Wacana, cet. 1.
Muhaimin, 2005, Kawasan dan Wawasan Studi Islam, Jakarta: Fajar Inter Pratama Offset.
Zuhri, Muhammad, 2003, Hadits Nabi, Telaah Historis dan Metodologis, Yogjakarta: Tiara Wacana, cet. II.

TAKHRIJ AL- HADITS

One Comment

  1. Terima kasih banyak. Saya sangat suka ulumul hadits. Jazakumullah khoiron katsiro.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: