Skip navigation


IJTIHAD – Beberapa Pengertian Dasar

Oleh KH. Ibrahim Hosen

1. IJTIHAD

PENGERTIAN IJTIHAD

Menurut bahasa, ijtihad berarti “pengerahan segala kemampuan

untuk  mengerjakan  sesuatu yang sulit.” Atas dasar ini maka

tidak  tepat  apabila  kata  “ijtihad”  dipergunakan   untuk

melakukan sesuatu yang mudah/ringan.

Pengertian  ijtihad  menurut  bahasa  ini  ada  relevansinya

dengan pengertian  ijtihad  menurut  istilah,  dimana  untuk

melakukannya  diperlukan beberapa persyaratan yang karenanya

tidak mungkin pekerjaan itu  (ijtihad)  dilakukan  sembarang

orang.

Dan  di sisi lain ada pengertian ijthad yang telah digunakan

para sahabat Nabi. Mereka memberikan batasan  bahwa  ijtihad

adalah  “penelitian  dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu

yang terdekat pada Kitab-u ‘l-Lah  dan  Sunnah  Rasul,  baik

yang  terdekat itu diperoleh dari nash -yang terkenal dengan

qiyas (ma’qul nash), atau yang terdekat itu  diperoleh  dari

maksud  dan  tujuan umum dari hikmah syari’ah- yang terkenal

dengan “mashlahat.”

Dalam kaitan pengertan  ijtihad  menurut  istilah,  ada  dua

kelompok  ahli  ushul  flqh (ushuliyyin) -kelompok mayoritas

dan kelompok minoritas- yang mengemukakan rumusan  definisi.

Dalam  tulisan ini hanya akan diungkapkan pengertian ijtihad

menurut rumusan ushuliyyin dari kelompok mayoritas.

Menurut   mereka,   ijtihad   adalah   pengerahan    segenap

kesanggupan  dari  seorang  ahli  fxqih  atau mujtahid untuk

memperoleh pengertian tingkat dhann terhadap  sesuatu  hukum

syara’ (hukum Islam).

Dari  definisi  tersebut  dapat  ditarik beberapa kesimpulan

sebagai berikut:

1. Pelaku utihad adalah seorang ahli fiqih/hukum Islam

(faqih), bukan yang lain.

2. Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar’i,

yaitu hukum Islam yang berhubungan dengan tingkah laku dan

perbuatan orang-orang dewasa, bukan hukum i’tiqadi atau

hukum khuluqi,

3. Status hukum syar’i yang dihasilkan oleh ijtihad adalah

dhanni.

Jadi apabila kita konsisten dengan definisi  ijtihad  diatas

maka  dapat kita tegaskan bahwa ijtihad sepanjang pengertian

istilah hanyalah monopoli dunia hukum.  Dalam  hubungan  ini

komentator    Jam’u   ‘l-Jawami’   (Jalaluddin   al-Mahally)

menegaskan, “yang dimaksud ijtihad adalah  bila  dimutlakkan

maka  ijtihad  itu  bidang  hukum  fiqih/hukum furu’. (Jam’u

‘l-Jawami’, Juz II, hal. 379).

Atas dasar itu ada kekeliruan pendapat sementara pihak  yang

mengatakan  bahwa  ijtihad  juga  berlaku  di bidang aqidah.

Pendapat yang nyeleneh atau syadz ini dipelopori  al-Jahidh,

salah seorang tokoh mu’tazilah. Dia mengatakan bahwa ijtihad

juga berlaku di  bidang  aqidah.  Pendapat  ini  bukan  saja

menunjukkan   inkonsistensi  terhadap  suatu  disiplin  ilmu

(ushul  fiqh),  tetapi   juga   akan   membawa   konsekuensi

pembenaran  terhadap  aqidah non Islam yang dlalal. Lantaran

itulah Jumhur ‘ulama’ telah bersepakat bahwa  ijtihad  hanya

berlaku    di    bidang    hukum    (hukum   Islam)   dengan

ketentuan-ketentuan tertentu.

MEDAN IJTIHAD

Di atas telah ditegaskan  bahwa  ijtihad  hanya  berlaku  di

bidang  hukum. Lalu, hukum Islam yang mana saja yang mungkin

untuk di-ijtihad-i? Adakah hal itu berlaku  di  dunia  hukum

(hukum Islam) secara mutlak?

Ulama  telah  bersepakat  bahwa  ijtihad  dibenarkan,  serta

perbedaan yang terjadi sebagai akibat ijtihad ditolerir, dan

akan  membawa  rahmat  manakala  ijtihad dilakukan oleh yang

memenuhi persyaratan  dan  dilakukan  di  medannya  (majalul

ijtihad). Lapangan atau medan dimana ijtihad dapat memainkan

peranannya adalah:

1. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum ditegaskan oleh

nash al-Qur’an atau Sunnah secara jelas.

2. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum diijma’i oleh

ulama atau aimamatu ‘l-mujtahidin.

3. Nash-nash Dhanny dan dalil-dalil hukum yang

diperselisihkan.

4. Hukum Islam yang ma’qulu ‘l-ma’na/ta’aqquly (kausalitas

hukumnya/’illat-nya dapat diketahui mujtahid).

Jadi, kalau kita akan melakukan reaktualisasi  hukum  Islam,

disinilah   seharusnya  kita  melakukan  terobosan-terobosan

baru. Apabila ini yang kita lakukan dan  kita  memang  telah

memenuhi persyaratannya maka pantaslah kita dianggap sebagai

mujtahid di abad modern ini yang akan didukung semua pihak.

Sebaliknya  ulama  telah  bersepakat  bahwa  ijtihad   tidak

berlaku atau tidak dibenarkan pada:

1. Hukum Islam yang telah ditegaskan nash al-Qur’an atau

Sunnah yang statusnya qath’iy (ahkamun manshushah), yang

dalam istilah ushul fiqih dikenal dengan syari’ah atau

“ma’ulima min al-din bi al-dlarurah.”

Atas dasar itu maka muncullah ketentuan, “Tidak berlaku

ijtihad pada masalah-masalah hukum yang ditentukan

berdasarkan nash yang status dalalah-nya qath’i dan tegas.”

Bila kita telaah, kaidah itulah yang menghambat aspirasi

sementara kalangan yang hendak merombak hukum-hukum Islam

qath’i seperti hukum kewarisan al-Qur’an.

2. Hukum Islam yang telah diijma’i ulama.

3. Hukum Islam yang bersifat ta’abbudy/ghairu ma’quli

‘lma’na (yang kausalitas hukumnya/’illat-nya tidak dapat

dicerna dan diketahui mujtahid).

Disamping ijtihad tidak berlaku atau tidak mungkin dilakukan

pada ketiga macam hukum Islam di atas, demikian juga ijtihad

akan gugur  dengan  sendirinya  apabila  hasil  ijtihad  itu

berlawanan  dengan  nash.  Hal  ini  sejalan  dengan kaidah,

“Tidak ada ijtihad dalam melawan nash.”

PERBEDAAN YANG DITOLERIR

Ijtihad dilegalisasi bahkan sangat  dianjurkan  oleh  Islam.

Banyak  ayat  al-Qur’an  dan  Hadits  Nabi  yang menyinggung

masalah ini. Islam bukan  saja  memberi  legalitas  ijtihad,

akan   tetapi  juga  mentolerir  adanya  perbedaan  pendapat

sebagai hasil ijtihad. Hal ini antara  lain  diketahui  dari

Hadits Nabi yang artinya,

“Apabila  seorang  hakim  akan  memutuskan  perkara, lalu ia

melakukan  ijtihad,  kemudian  ijtihadnya  benar,  maka   ia

memperoleh   dua   pahala   (pahala   ijtihad   dan   pahala

kebenarannya). Jika hakim akan memutuskan  perkara,  dan  ia

berijtihad,   kemudian   hasil  ijtihadnya  salah,  maka  ia

mendapat satu pahala (pahala ijtihadnya).” (Riwayat  Bukhari

Muslim).

Hadits  di  atas  bukan saja memberi legalitas ijtihad, akan

tetapi juga menunjukkan kepada kita bahwa  adanya  perbedaan

pendapat   sebagai  hasil  ijtihad  ditolerir.  Prinsip  ini

dipegang teguh oleh para imam mujtahid;  sehingga  muncullah

ucapan  mereka  yang  sangat  populer, “Pendapat kami benar,

tetapi mengandung kemungkinan  salah;  dan  pendapat  selain

kami salah, tetapi mengandung kemungkinan benar.”

Hal  ini  sejalan dengan status fiqih sebagai produk ijtihad

yang  statusnya  dhanny,  yang  artinya  kebenarannya  tidak

bersifat  absolut,  ia  benar  tetapi mengandung kemungkinan

salah, ia salah tetapi mengandung kemungkinan  benar.  Hanya

saja,    menurut    mujtahid,   porsi   kebenarannya   lebih

dominan/rajih. Perbedaan pendapat dalam hukum Islam  sebagai

hasil  ijtihad  inilah  yang  ditegaskan  Nabi  akan membawa

rahmat  (kelapangan   bagi   umat)   sebagaimana   diketahui

ditegaskan  dalam  sebuah  hadits,  “Perbedaan  pendapat  di

kalangan   ulama   akan   membawa   rahmat.”   (Abu   Nashar

Al-Muqaddasi).

Yang  dimaksud  dengan  perbedaan  di  sini adalah perbedaan

pendapat dalam hukum Islam  ijtihady,  yakni  fiqih.  Inilah

yang  ingin  saya  tegaskan  dalam  kesempatan ini mengingat

adanya sementara pihak yang menggunakan hadits marfu’  untuk

membenarkan  adanya perbedaan pendapat di bidang aqidah yang

akan bermuara pada paham  “pluralisme  agama”  -semua  agama

sama  atau  benar. Ini jelas tidak dapat dibenarkan. Apabila

benar bahwa semua agama itu sama tentu tidak  ada  kewajiban

berda’wah,  amar  ma’ruf  nahi munkar, jihad dan sebagainya.

Demikian juga al-Qur’an tidak perlu diturunkan.

IJTIHAD TIDAK DAPAT DIGUGURKAN DENGAN IJTIHAD

Di atas telah disinggung bahwa hukum  yang  dihasilkan  oleh

ijtihad  statusnya  dhanny. Oleh sebab itu maka ijtihad yang

satu tidak dapat  membatalkan  ijtihad  yang  lain,  sejalan

dengan  kaidah,  “Ijtihad  yang  satu tidak dapat digugurkan

oleh ijtihad yang lain.”

Betapapun lemahnya suatu  ijtihad,  ia  tetap  eksis,  tidak

dapat  begitu  saja  dilenyapkan  oleh  ijtihad  yang  lain,

betapapun kuat dalilnya. Apabila hal ini dapat kita  pegangi

secara  konsisten  maka jiwa tasammuh dalam menanggapi aneka

ragam pendapat di  bidang  fiqih  sebagai  akibat  perbedaan

dalam berijtihad akan tetap dapat ditumbuhkan; sehingga kita

akan sanggup menjadikan perbedaan pendapat tersebut  sebagai

rahmat yang memporak-porandakan persatuan umat Islam.

Prinsip  tasammuh sebagai manifestasi dari status fiqih yang

bersifat dhanny  tersebut  dipegang  teguh  oleh  para  Imam

Mujtahid;  sehingga  muncullah  ucapan  mereka  yang  sangat

populer, “Pendapat kami benar, tapi  mengandung  kemungkinan

salah;  dan  pendapat  selain  kami salah, tetapi mengandung

kemungkinan benar.”

SYARAT-SYARAT IJTIHAD.

Seseorang yang ingin mendudukkan  dirinya  sebagai  mujtahid

harus   memenuhi  beberapa  persyaratan.  Di  antara  sekian

persyaratan itu yang terpenting ialah:

1. Memiliki ilmu pengetahuan yang luas tentang ayat-ayat

al-Qur’an yang berhubungan dengan masalah hukum, dengan

pengertian ia mampu membahas ayat-ayat tersebut untuk

menggali hukum.

2. Berilmu pengetahuan yang luas tentang hadits-hadits

Rasul yang berhubungan dengan masalah hukum, dengan arti ia

sanggup untuk membahas hadits-hadits tersebut untuk menggali

hukum.

3. Menguasai seluruh masalah yang hukumnya telah

ditunjukkan oleh ijma’ agar ia tidak berijtihad yang

hasilnya bertentangan dengan ijma’.

4. Mengetahui secara mendalam tentang masalah qiyas dan

dapat mempergunakannya untuk menggali hukum.

5. Menguasai bahasa Arab secara mendalam. Sebab al-Qur’an

dan Sunnah sebagai sumber asasi hukum Islam tersusun dalam

bahasa Arab yang sangat tinggi gaya bahasanya dan cukup unik

dan ini merupakan kemu’jizatan al-Qur’an.

6. Mengetahui secara mendalam tentang nasikh-mansukh dalam

al-Qur’an dan Hadits. Hal itu agar ia tidak mempergunakan

ayat al-Qur’an atau Hadits Nabi yang telah dinasakh

(mansukh) untuk menggali hukum.

7. Mengetahui latar belakang turunnya ayat (asbab-u

‘l-nuzul) dan latar belakang suatu Hadits (asbab-u

‘l-wurud), agar ia mampu melakukan istinbath hukum secara

tepat.

8. Mengetahui sejarah para periwayat hadits, supaya ia

dapat menilai sesuatu Hadist, apakah Hadits itu dapat

diterima ataukah tidak. Sebab untuk menentukan derajad/nilai

suatu Hadits sangat tergantung dengan ihwal perawi yang

lazim disebut dengan istilah sanad Hadits. Tanpa mengetahui

sejarah perawi Hadits, tidak mungkin kita akan melakukan

ta’dil tajrih (screening).

9. Mengetahui ilmu logika/mantiq agar ia dapat menghasilkan

deduksi yang benar dalam menyatakan suatu pertimbangan hukum

dan sanggup mempertahankannya.

10. Menguasai kaidah-kaidah istinbath hukum/ushul fiqh, agar

dengan kaidah-kaidah ini ia mampu mengolah dan menganalisa

dalil-dalil hukum untuk menghasilkan hukum suatu

permasalahan yang akan diketahuinya.

MACAM-MACAM TINGKATAN IJTIHAD.

Ijtihad terdiri dari bermacam-macam tingkatan, yaitu:

1. Ijtihad Muthlaq/Mustaqil, yaitu ijtihad yang dilakukan

dengan cara menciptakan sendiri norma-norma dan kaidah

istinbath yang dipergunakan sebagai sistem/metode bagi

seorang mujtahid dalam menggali hukum. Norma-norma dan

kaidah itu dapat diubahnya sendiri manakala dipandang perlu.

Mujtahid dari tingkatan ini contohnya seperti Imam Hanafi,

Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad yang terkenal dengan

sebutan Mazhab Empat.

2. Ijtihad Muntasib, yaitu ijtihad yang dilakukan seorang

mujtahid dengan mempergunakan norma-norma dan kaidah-kaidah

istinbath imamnya (mujtahid muthlaq/Mustaqil). Jadi untuk

menggali hukum dari sumbernya, mereka memakai sistem atau

metode yang telah dirumuskan imamnya, tidak menciptakan

sendiri. Mereka hanya berhak menafsirkan apa yang dimaksud

dari norma-norma dan kaidah-kaidah tersebut. Contohnya, dari

mazhab Syafi’i seperti Muzany dan Buwaithy. Dari madzhab

Hanafi seperti Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf. Sebagian

ulama menilai bahwa Abu Yusuf termasuk kelompok

pertama/mujtahid muthalaq/mustaqil.

3. Ijtihad mazhab atau fatwa yang pelakunya disebut mujtahid

mazhab/fatwa, yaitu ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid

dalam lingkungan madzhab tertentu. Pada prinsipnya mereka

mengikuti norma-norma/kaidah-kaidah istinbath imamnya,

demikian juga mengenai hukum furu’/fiqih yang telah

dihasilkan imamnya. Ijtihad mereka hanya berkisar pada

masalah-masalah yang memang belum diijtihadi imamnya,

men-takhrij-kan pendapat imamnya dan menyeleksi beberapa

pendapat yang dinukil dari imamnya, mana yang shahih dan

mana yang lemah. Contohnya seperti Imam Ghazali dan Juwaini

dari madzhab Syafi’i.

4. Ijtihad di bidang tarjih, yaitu ijtihad yang dilakukan

dengan cara mentarjih dari beberapa pendapat yang ada baik

dalam satu lingkungan madzhab tertentu maupun dari berbagai

mazhab yang ada dengan memilih mana diantara pendapat itu

yang paling kuat dalilnya atau mana yang paling sesuai

dengan kemaslahatan sesuai dengan tuntunan zaman. Dalam

mazhab Syafi’i, hal itu bisa kita lihat pada Imam Nawawi dan

Imam Rafi’i. Sebagian ulama mengatakan bahwa antara kelompok

ketiga dan keempat ini sedikit sekali perbedaannya; sehingga

sangat sulit untuk dibedakan. Oleh karena itu mereka

menjadikannya satu tingkatan.

BENARKAH PINTU IJTIHAD SUDAH DIKUNCI?

Para  ahli  fiqih  telah  sepakat   bahwa   ijtihad   dengan

pengertian  penyesuaian  suatu  perkara dengan sesuatu hukum

yang sudah ada tetap terbuka.  Ijtihad  kategori  ini  tidak

termasuk ketentuan ijtihad menurut ketentuan ushul fiqih.

Perbedaan  pendapat  terjadi  pada  ijtihad menurut definisi

ushul fiqih. Sebagian ulama berpendapat bahwa pintu  ijtihad

telah   tertutup.  Gema  ini  digelorakan  oleh  ulama-ulama

mutakhirin pada awal abad ke-IV Hijriah setelah dunia  Islam

diliputi  kabut  ta’ashub  madzhab serta banyaknya man laisa

lahu ahlu ‘l-Ijtihad (mujtahid karbitan) yang tampil mengaku

sebagai mujtahid.

Sebagian  ulama  yang  lain  berpendapat bahwa pintu ijtihad

tetap terbuka  dan  dapat  dimasuki  oleh  siapa  saja  yang

memiliki   kuncinya  (memenuhi  persyaratan).  Pendapat  ini

antara lain diproklamirkan Imam al-Syaukani pada pertengahan

abad ke-XIII Hijriah, yang kemudian di Mesir digalakkan oleh

Syekh Al-Maraghy, Rektor  Universitas  Al-Azhar  pada  waktu

itu.

Golongan  yang  memandang bahwa ijtihad adalah sumber hukum,

mereka  berpendapat  bahwa  pintu  ijtihad  tetap   terbuka.

Sedangkan  golongan  yang  memandang  bahwa  ijtihad  adalah

kegiatan/pekerjaan mujtahid, mereka berpendapat bahwa  pintu

ijtihad  telah  tertutup,  yaitu  sejak  wafatnya  imam-imam

mujtahid kenamaan.

Kini, kita perlu mengetahui argumentasi dari  golongan  yang

berpendapat bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka, yaitu:

1. Menutup pintu ijtihad berarti menjadikan hukum Islam yang

semestinya lincah dan dinamis menjadi kaku dan beku;

sehingga Islam akan ketinggalan zaman. Sebab, akan banyak

kasus baru yang hukumnya belum dijelaskan oleh al-Qur’an dan

Sunnah serta belum dibahas oleh ulama-ulama terdahulu, tidak

dapat diketahui bagaimana status hukumnya.

2. Menutup pintu ijtihad berarti menutup kesempatan ulama

Islam untuk menciptakan pemikiran-pemikiran yang baik dalam

memanfaatkan dan menggali sumber atau dalil hukum Islam

3. Dengan membuka pintu ijtihad maka setiap permasalahan

baru yang dihadapi umat, akan dapat diketahui hukumnya.

Dengan demikian maka hukum Islam akan selalu berkembang dan

tumbuh subur serta sanggup menjawab tantangan zaman.

Golongan yang berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup

antara lain beralasan:

1. Hukum Islam baik dalam bidang ‘ibadah, mu’amalah,

munakahah, jinayah dan lain sebagainya seluruhnya sudah

lengkap dan dibukukan secara terperinci dan rapi. Karena itu

kita tidak perlu melakukan ijtihad lagi.

2. Mayoritas Ahl al-Sunnah hanya mengakui Madzhab Empat.

Oleh karena itu tiap-tiap yang menganut madzhab Ahl

al-Sunnah harus memilih salah-satu dari Madzhab Empat. Ia

harus terikat tidak boleh pindah madzhab.

3. Membuka pintu ijtihad selain hal itu percuma dan

membuang-buang waktu, juga hasilnya akan berkisar:

a. Mungkin berupa hukum yang terdiri dari koleksi pendapat

antara dua madzhab atau lebih, yang biasa kita kenal dengan

istilah talfiq, yang kebolehannya masih diperselisihkan kaum

ushuliyyin.

b. Mungkin berupa hukum yang telah dikeluarkan oleh salah

satu Madzhab Empat, yang berarti ijtihad yang dilakukan itu

hanyalah tahsil al-hasil

c. Mungkin berupa hukum yang sesuai dengan salah satu mazhab

di luar Mazhab Empat. Padahal, menurut mayoritas ulama Ahl

al-Sunnah, selain Mazhab Empat tidaklah dianggap.

d. Mungkin berupa hukum yang tidak seorangpun ulama Islam

membenarkannya. Hal semacam ini pada hakikatnya menentang

ijma’.

4. Realitas sejarah menunjukkan bahwa sejak awal abad ke-IV

Hijriah sampai detik ini tak seorangpun ulama berani

menonjolkan diri atau ditonjolkan oleh pengikut-pengikutnya

sebagai seorang mujtahid muthlaq/mustaqil. Hal ini

menunjukkan bahwa untuk memenuhi syarat-syarat ijtihad yang

telah ditentukan itu memang sangat sulit kalau tidak

dikatakan tidak mungkin lagi untuk saat seperti sekarang

ini.

Sebelum saya mengambil kesimpulan dengan mempertemukan kedua

pendapat  yang  saling  berbeda itu marilah kita ikuti hasil

keputusan  Lembaga  Penelitian  Islam  al-Azhar  Cairo  yang

bersidang pada bulan Maret 1964 M, sebagai berikut:

“Mu’tamar  mengambil  keputusan  bahwa  al-Qur’an dan Sunnah

Rasul  merupakan  sumber  pokok  hukum  Islam;   dan   bahwa

berijtihad  untuk  mengambil hukum dari al-Qur’an dan Sunnah

dibenarkan manakala ijtihad itu  dilakukan  pada  tempatnya;

dan  bahwa  jalan  untuk  memelihara  kemaslahatan dan untuk

menghadapi peristiwa-peristiwa yang selalu timbul, hendaklah

dipilih  di  antara  hukum-hukum fiqih pada tiap-tiap mazhab

suatu hukum yang memuaskan. Jika tidak terdapat suatu  hukum

yang   memuaskan  dengan  jalan  tersebut,  maka  berlakulah

ijtihad bersama (kolektif)  berdasarkan  madzhab,  dan  jika

tidak  memuaskan  maka  berlakulah  ijtihad  bersama  secara

mutlaq. Lembaga penelitian akan mengatur  usaha-usaha  untuk

mencapai  ijtihad  bersama  baik secara mazhab maupun secara

mutlaq untuk dapat dipergunakan dimana perlu.”

Dari Keputusan Lembaga Penelitian  Islam  al-Azhar  tersebut

dapat diambil kesimpulan bahwa:

1. Pintu ijtihad masih tetap terbuka bagi yang memenuhi

persyaratan.

2. Ijtihad dibenarkan apabila dilakukan di tempat-tempat

dimana ijtihad boleh dilakukan.

3. Butir pertama hanya berlaku untuk:

a. Ijtihad di bidang tarjih baik secara perorangan (ijtihad

fardy) maupun secara kolektif (ijtihad Jama’iy).

b. Ijtihad di bidang madzhab apabila dilakukan secara

kolektif (ijtihad madzhab jama’iy).

c. Ijtihad muthlaq apabila dilakukan secara kolektif

(ijtihad muthlaq jama’iy).

4. Poin kedua tidak berlaku untuk:

a. Ijtihad madzhab secara perorangan (ijtihad madzhab

fardy).

c. Ijtihad muthlaq secara perorangan (ijtihad muthlaq

fardy).

Keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar tersebut  sangat

bijaksana,  karena  keputusan itu telah mempertemukan antara

dua pendapat yang saling berbeda. Dengan demikian,  pendapat

yang  mengatakan  bahwa  pintu  ijtihad  masih tetap terbuka

haruslah diartikan untuk:

1. Ijtihad di bidang tarjih baik bagi perorangan maupun

kelompok secara kolektif,

2. Ijtihad madzhab secara kolektif

3. Ijtihad muthlaq secara kolektif,

Demikian juga pendapat yang mengatakan bahwa  pintu  ijtihad

telah tertutup haruslah kita artikan untuk:

1. Ijtihad mutlaq secara perorangan,

2. Ijtihad madzhab secara perorangan.

Jadi tidak tepat, kalau  secara  mutlaq/tanpa  batasan  kita

mengatakan   bahwa   pintu   ijtihad   telah  tertutup.  Dan

Sebaliknya, tidak tepat kalau kita   mengatakan   secara

mutlaq/tanpa   batasan   bahwa  pintu  ijtihad  masih  tetap

terbuka. Dan harus kita sadari  bahwa  pintu  ijtihad  masih

tetap  terbuka  dalam bidang-bidang tertentu tersebut adalah

bagi  yang  memenuhi  syarat.  Bagi  yang  tidak,   tentunya

tertutup  kemungkinan  untuk  membuka  pintu  ijtihad dengan

segala macam bentuknya.

Menurut saya, mengingat sangat jarangnya faqih/ulama ahli

Hukum seperti saat sekarang ini, maka yang masih benar-benar

dapat dilakukan adalah:

1. Ijtihad di bidang tarjih baik secara perorangan maupun

secara kolektif.

2. Ijtihad untuk kasus-kasus tertentu yang memang belum

pernah dibahas oleh aimmat al-mujtahidin terdahulu. Hal ini

dapat dilakukan secara perorangan maupun secara kolektif.

Kelompok pertama sudah banyak  dilakukan  oleh  Muhammadiyah

dengan  Majelis  Tarjihnya,  NU  dengan Syuriyah dan Bahstul

Matsailnya, MUI  dengan  Komisi  Fatwanya.  Kelompok  kedua,

alhamdulillah, sudah banyak dilakukan oleh Komisi Fatwa MUI;

sayangnya belum  banyak  dipublikasikan.  Pesan  saya  dalam

menutup uraian tentang ijtihad ini, kalau memang bukan faqih

yang  menguasai  kaidah-kaidah  istinbath,   janganlah   sok

berijtihad,    sebab   bisa   berakibat   fatal.   Milikilah

persyaratan  dan   berijtihadlah   di   tempat-tempat   yang

dibenarkan  untuk  melakukan ijtihad sesuai dengan ketentuan

yang berlaku.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

1. Al-Syafi’i, al-Risalah

2. Muhammad bin ‘Ali al-Bashri, al-Mu’tamad

3. Al-Juwaini, al-Burhan

4. Al-Ghazali, al-Musthafa

5. Fakhruddin al-Razi, al-Mahshul

6. Al-Amidi, Inkamu ‘l-Ihkam

7. Al-Baidlawi, Minhaju ‘l-Ushul

8. Al-Asnawi, Nihayatu ‘l-Sul

9. Al-Subki, Jam’ul Jawami’

10. Ushulus-Sarkhasi

11. Ushulul-Bazdawi

12. Al-Nasafi, al-Manar

13. Al-Baghdadi, Badi’un-Nidham

14. Shadrus-Syari’ah Al-Bukhari, Ranqikhu ‘l-Ushul

15. Al-Kamal Ibnul-Hammam, al-Tahrõr

16. Muhammad bin Amir al-Halabi, Taisirut-Tahrir

17. Al-Syaukani, Irsyadu ‘l-Fukhul

18. Muhibbu ‘l-Lah “Abdus-Syakur,” Musallamu ‘l-Tsubur

19. al-Syathibi, al-Muwafaqat

20. Ibnul Qayyim, A’lamu ‘l-Muwaqq’in

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: