Skip navigation


Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf??
Kemampuan Nabi Muhammad dalam hal baca tulis sampai saat ini memang tetap menjadi sebuah polemik di dunia Islam. Sebagian besar umat Islam berpendapat bahwa nabi memang buta huruf, sedangkan yang lain mencoba membantah ini. Masing-masing memiliki alasan yang menurut mereka lebih kuat dibanding yang lain.
Baik kelompok yang menolak maupun yang menerima ke-ummi-an nabi sebagai sebuah kebutahurufan sama-sama berangkat dengan menggunakan ayat yang sama dalam perdebatan mereka. Yaitu: “orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka…..”

Berkenaan dengan hal ini Prof. Dr. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah-nya menyatakan bahwa; “Kata ummi terambil dari kata umm/ ibu dalam arti seseorang yang tidak pandai membaca dan menulis. Seakan-akan keadaanya dari segi pengetahuan atau pengetahuan membaca dan pengetahuan menulis sama seperti keadaan ibunya yang tidak pandai baca-tulis.” Selain itu, masih menurut beberapa mufasirin kata ummi ini berasal dari kata ummah yang menunjukkan bahwa masyarakat pada masa sebelum al-Qur’an turun memang dalam kondisi buta huruf. Namun Prof. Dr. Quraish Shihab menegaskan bahwa memang Rasulullah memang benar-benar ummi dalam artian buta huruf. Hal ini dikarenakan untuk menjaga otentitas al-Qur’an itu sendiri. Ini dipertegas al-Qur’an sendiri. “Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).”
Kalau dilihat melalui sejarah bangsa Arab, memang pada dasarnya, di lingkungan Hijaz, orang-orang yang pandai memang sangat sedikit sehingga mereka dengan mudah dapat dikenal. Termasuk di Makkah, ibu kota Hijaz. Tentu saja di lingkungan seperti ini, sekiranya Nabi pernah belajar membaca dan menulis pada seorang guru, tentu beliau akan terkenal saat itu. Seandainya kita tidak menerima kenabiannya, bagaimana mungkin beliau dalam kitabnya menjelaskan keummian dirinya dengan tegas? Apakah masyarakat tidak akan protes kepadanya seraya barkata, “Kamu kan pernah belajar”? Hal ini merupakan indikasi yang jelas akan keummiannya.
Pendapat di atas tentu juga menui kritik. Salah satunya dari Syeikh al-Maqdisi, penulis buku Nabi Muhammad, Buta Huruf atau Genius?. Ia mengatakan bahwa para ulama telah melakukan kekeliruan dalam menafsirkan kata ummi dalam al-Qur’an. Al-Maqdisi tidak bisa menerima jika Nabi adalah seorang yang buta huruf dan aksara. “Bagaimana mungkin seorang yang ummi dapat memimpin dan mengajarkan ajaran Tuhan dengan baik jika ia tidak berpengetahuan dan berilmu.” Katanya.
Untuk memperkuat argumennya al-Maqdisi menggunakan hadis yang diriwayatkan Zaid bin Tsabit bahwa Nabi pernah bersabda: “Jika kalian menulis kalimat Bismillahirrahmanir rahim, maka perjelaslah huruf sin di situ.” Hadis ini menunjukkan bahwa nabi pandai membaca dan menulis. Jadi lagi-lagi tidak mungkin orang yang tidak dapat baca dan tulis dapat mengajar umatnya.
Menurut al-Maqdisi kesalahan yang dibuat oleh para ulama pada dasarnya terajadi karena kesalahan pemaknaan pada kata ummi itu sendiri. Kata ummi terlalu diartikan secara letterlock oleh para ulama sehingga apa yang dihasilkannyapun juga literar seperti apa adanya. Kata ummi akan lebih tepat jika diartikan sebagai orang-orang di Arab selain Yahudi dan Nasrani. Karena kedua golongan ini menyebut orang-orang di luar diri mereka sebagai ummi. Jadi seperti itulah pemaknaan yang sesuai mengenai kata ummi ini. Dengan menafsirkan kata ummi ini dengan golongan non-Yahudi dan non-Nasrani, maka kepribadian Nabi sebagai uswatun hassanah tidak akan terkoyak.
Namun, dari kritik inipun saya melihat bahwa al-Maqdisi dalam bukunya itu terlalu berspekulasi dengan tidak melihat kondisi yang ada pada saat itu secara detail. Meskipun pendapatnya juga tidak begitu salah dalam artian pernyataan bahwa ummi itu adalah orang-orang selain Yahudi dan Nasrani, namun, itu belum cukup membuktikan Nabi dapat membaca dan menulis atau tidak. Apalagi jika kita melihat tulisan Martin Lings dalam Muhammad yang menggambarkan kondisi sewaktu Nabi Muhammad masih kecil paska kematiannya kakeknya, beliau harus bekerja untuk mendapatkan nafkahnya sendiri dengan menggembalakan kambing. Ini dikarenakan baik kondisi ekonominya sendiri maupun pamannya, abu Thalib, dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Jadi praktis kehidupan Muhammad hanya berkutat pada pegunungan dan lereng-lereng padang rumput di Hijaz. Dan kemungkinan untuk belajar pada seorang yang pandai di Hijaz pada waktu itupun begitu kecil. Meskipun pernah diriwayatkan ia pernah belajar pada seorang Nasrani yang bekerja sebagai pandai besi, namun riwayat inipun masih diragukan.
Namun ada satu pendapat lagi yang menurut saya menarik. Pendapat ini muncul di kalangan orang-orang Syiah yang meski tetap berpendapat bahwa Nabi memang tidak bisa membaca dan menulis namun mereka mengatakan bahwa Nabi memiliki kemampuan khusus dalam memperoleh kebenaran. Kemampuan itu mereka sebut sebagai intuisi, yaitu kemampuan untuk memahami sesuatu tanpa memerlukan pengenalan langsung pada apa yang dikenalnya itu. Jadi ketika nabi mengajar dan memberi pelajaran pada para sahabat Nabi tidak perlu bisa membaca dan menulis terlebih dahulu untuk melakukan itu, karena Nabi sendiri adalah ibarat tulisan dan sumber pengetahuan itu sendiri.
Selain itu sebuah riwayat dari Imam Bukhari yang menyebutkan bahwa, “Rasulullah bersabda: Malaikat itu mendekapku sampai aku sulit bernafas. Kemudian ia melepaskanku dan berkata, ‘Bacalah!’Kujawab, Aku tidak dapat membaca. Ia mendekapku lagi hingga akupun merasa tersesak. Ia melepaskanku dan berkata, ‘Bacalah!’ Dan kembali kujawab, aku tidak dapat membaca! Lalu, ketiga kalinya ia mendekapku dan seperti sebelumnya, kemudian melepaskanku dan berkata………………” Ini menunjukkan bahwa nabi memang seorang yang ummi dalam artian tidak bisa membaca dan menulis. Namun tidak menutup kemungkinan lainnya untuk terjadi, karena sejarah bisa saja diutak-atik. Maka dari itu sejarah selalu membutuhkan sikap kritis kita dalam mempelajarinya.

Dari Konteks keumian nabi ini saya melihat bahwa nabi mengalami beberapa fase dalam kehidupan beliau. fase pertama, saat masih kecil dan usia remaja, hingga masa-masa umur dua puluhan. Fase ini, sosok nabi adalah seorang yang memang benar dikatakan buta huruf.
Setelah fase inilah kemudian spekulasi dapat dimunculkan. masa perkenalannya dengan Khadijah, dijadikan manager khalifah dagang wanita kaya ini. Cukup sulit dikatakan bahwa nabi buta huruf pada sosok nabi sebagai ahli dagang. meski kemudian dapat dimunculkan pula bahwa bisa saja seseorang menjadi pedagang tanpa harus bisa membaca dan menulis. namun sebagai orang kepercayaan khadijah saya pikir Nabi tidak lagi buta huruf, paling tidak beliau telah bisa membaca
sumber :
http://poetraboemi.wordpress.com/2008/02/09/benarkah-nabi-muhammad-buta-huruf/


Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf??

Runtuhnya Mitos Kebutahurufan Nabi Muhammad
Ajaran bahwa Rasulullah tidak mampu baca-tulis adalah sebuah kekeliruan tafsir sejarah yang konyol. Inilah buku kontroversial yang mematahkan mitos kebutahurufan Nabi Muhammad.

Kalau ada umat yang begitu bangga menerima kenyataan bahwa pemimpin atau nabi-nya sebagai sosok yang buta huruf, itulah umat Islam. Tak ada lain. Sejak kecil, ketika seorang anak muslim mulai mengenal baca-tulis, ajaran bahwa Nabi adalah sosok yang buta huruf selalu ditekankan.

Kebutahurufannya seakan menjadi kenyataan yang patut dibanggakan dan bisa membangun kepercayaan diri umat Islam! Pertanyaannya, benarkah ajaran itu? Atas dasar apa Nabi dianggap sebagai sosok yang buta huruf? Apakah ia pernah menyatakan dirinya betul-betul tidak mampu membaca dan menulis sejak kecil hingga akhir hayatnya? Lalu, jika ada anggapan ia mampu membaca dan menulis, apakah itu akan mengurangi keabsahannya sebagai utusan Allah?

Bagi Syekh Al-Maqdisi, jawabannya cukup jelas: Ada tafsir sejarah yang keliru terhadap kapasitas Rasulullah, khususnya dalam soal baca-tulis. Dan semua itu, bersumber dari kekeliruan kita dalam menerejamahkan kata “ummi” dalam Alquran maupun Hadis, yang oleh sebagian besar umat Islam diartikan “buta huruf”.

Menurut Al-Maqdisi, “ummi” memang bisa berarti “buta huruf”, tapi ketika menyangkut Nabi Muhammad, “ummi” di situ lebih berarti orang yang bukan dari golongan Yahudi dan Nasrani. Pada masa itu, kaum Yahudi dan Nasrani sering kali menyebut umat di luar dirinya sebagai orang-orang “ummi” atau “non-Yahudi dan non-Nasrani”. Termasuk Rasulullah dan orang Arab lainnya.

Selain itu, kata “ummi” di situ juga bisa merujuk pada kata “umm” atau ibu kandung. Jadi, maknanya adalah “orang-orang yang seperti masih dikandung oleh rahim ibunya, sehingga belum tahu apa-apa”.

Dalam buku ini, Syekh Al-Maqdisi menunjukkan bukti-bukti otentik (hadis) yang menunjukkan fakta sebaliknya bahwa Rasulullah adalah sosok yang justru pintar membaca dan menulis. Antara lain, sebuah hadis yang diungkapkan Zaid bin Tsabit bahwa Nabi pernah bersabda: ”Jika kalian menulis kalimat Bismillahirrahmanirrahim, maka perjelaslah huruf sin di situ.”

Pikirkan, kalau untuk soal huruf saja ia memperhatikan, ibarat seorang editor naskah, mungkinkah Nabi seorang yang buta huruf? Buku Maqdisi ini, sekali lagi, mematahkan semua kekeliruan sejarah ini.

sumber :
http://www.kaylapustaka.com/content/view/1/1/
Segala yg benar datangnya dari Allah yg salah dari saya sendiri…


Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf??
Nabi Muhammad Buta Huruf Apa Genius?

Akidah umum umat Islam menggariskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah “ummi”: tidak tahu tulis-baca. Keyakinan ini begitu melekat di alam bawah sadar mereka. Sehingga muncul semacam keyakinan bahwa tanpa “keummian” beliau, wahyu tidak sempurna. Apakah benar beliau “ummi” sejak kecil hingga menghadap Allah SWT? Atau sebaliknya? Beliau benar-benar jenius.

Syek Al-Maqdisi, seorang pemikir Timur Tengah, menulis buku sangat kontroversial, ‘Khurâfatu Ummiyati Muhammad’ (Mitos Keummian Muhammad) yang diterjemahkan oleh Abu Nayla dengan judul “Nabi Muhammad: Buta Huruf atau Genius” (Jakarta: Nun Publisher, Cet. I, April 2007).

Lewat analisis-kritisnya, Syekh Al-Maqdisi menggugurkan keyakinan umat Islam tentang keummian Nabi Muhammad SAW. Menurut beliau, ada beberapa ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang keummian Nabi Muhammad, tapi disalahpahami. Yaitu: [1] Qs. Al-A‘râf: 157; [2] Qs. Al-A‘râf: 158. Dua ayat ini lah yang secara terang-terangan menyebut tentang “keummian Nabi Muhammad”.

Tapi, ada ayat lain yang secara implisit menyebutkan kata “ummi” di dalam redaksinya, yaitu: [1] Qs. Al-‘Ankabût: 48; [2] Qs. Al-Jumu‘ah: 2.

Di dalam Al-Qur’an, terdapat banyak ayat yang membantah dan menggugurkan dan membantah kebutahurufan Nabi Muhammad SAW. Diantaranya: [1] Al-‘Ankabût: 48; [2] Qs. Al-‘Alaq: 1-5; [3] Qs. Ali ‘Imrân: 164; [4] Qs. Al-Jumu‘ah: 2; [5] Qs. Ali ‘Imrân: 75.

Selain ayat-ayat Al-Qur’an di atas, untuk menyanggah keummian Nabi Muhammad, beliau menyebutkan fakta-fakta rasional dan sejarah. Sebagai contoh, beliau mengutip pendapat al-Zarqânî dalam “Manâhil al-‘Irfân” (I: 357) bahwa Nabi Muhammad pada akhirnya mengerti baca-tulis tepat ketika beliau telah mendapat petunjuk dan gaung firman yang dibawanya semakin menguat. Ketika itu, orang-orang Arab sudah tak mampu lagi menentang Al-Qur’an dengan membuat satu surah saja sebagai tandingannya. Dan fakta kebutahurufan Nabi Muhammad pada awal-awalnya hanyalah persoalan situasional yang diperlukan untuk membangun argumen yang kuat, dan agar mukjizat tampak lebih jelas menunjukkan kejujuran Nabi Muhammad dalam klaim kenabian dan risalahnya.

Bukti lain adalah apa yang diriwayatkan oleh al-Shaduq dalam ‘Ilalus Syara‘i’ (Argumen-Argumen Syariat). Abu Abdillah pernah meriwayatkan, “Sebagian dari apa yang telah dianugerahkan Allah kepada Rasulullah adalah kemampuan membaca, walau tidak kemampuan menulis. Dan tatkala Abu Sufyan hendak menyerahkan salah satu surat Abbas kepada Nabi yang sedang menuju Madinah, beliau membacanya. Tetapi beliau tidak mengabarkan hal itu kepada para sahabat, dan memerintah mereka untuk memasuki Madinah. Setelah sampai di Madinah, beliau baru mengabarkan isi surat tersebut kepada para sahabatnya. (Bihârul Anwar, XVI: 133).

Hemat saya, buku ini sangat menarik untuk ditelaah. Selain argumennya kuat dan kukuh, kandungannya sangat ringkas dan padat. Sehingga, pembaca tidak merasa bosan. Di samping itu, kritiknya benar-benar tajam dan “to the point”. Secara pribadi, saya semakin yakin bahwa Nabi Muhammad itu benar-benar genius: bisa tulis-baca pasca-kenabiannya. Karena memang tidak mungkin dia memerintahkan umatnya untuk membaca, sementara beliau tidak faham tulis-baca
http://qosim.multiply.com/reviews/item/4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: